Konflik Rusia Vs Ukraina
Sedang Berkumpul untuk Rapat, Lebih dari 50 Petinggi Militer Ukraina Tewas Kena Serangan Misil Rusia
50 orang yang terdiri dari jenderal dan petinggi pasukan militer Ukraina terbunuh dalam sebuah serangan misil yang dilakukan oleh Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Ia bercerita, dirinya dan rekannya diminta untuk berjaga di sebuah hutan di Desa Yampol, Donetsk.
"Kami duduk di sana selama lima atau enam hari, dan komandan menelantarkan kami," kata tentara tersebut.
Tentara Ukraina tersebut bercerita, pada akhirnya ia dan rekannya kabur meninggalkan pos tersebut karena merasa mustahil bisa menang melawan pasukan Rusia yang saat itu menggunakan tank.
Video tersebut sempat dianggap sebagai berita palsu oleh masyarakat di Ukraina.
Barat Tidak Ingin Rusia Kalah Total
Ajudan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Alexey Arestovich menjelaskan bahwa negara-negara barat saat ini tidak ingin Rusia mengalami kekalahan total.
Arestovich menjelaskan negara barat saat ini tidak mempersenjatai Ukraina dengan senjata-senjata berat seperti tank dan pesawat.
Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Minggu (19/6/2022), menurut Arestovich, sikap ini jelas menunjukkan bahwa negara barat berharap terjadi negosiasi antara Rusia dan Ukraina.
"Mereka tidak ingin Rusia mengalami kekalahan total," kata Arestovich, Jumat (17/6/2022).
"Mereka ingin memaksa Rusia untuk bernegosiasi demi mencapai perdamaian," ujarnya.
Namun Arestovich memperingatkan bahwa rencana negosiasi yang diharapkan oleh negara tersebut dipastikan akan gagal.
Ia mengatakan, solusi akhir adalah Ukraina merebut kembali wilayah yang dikuasai Rusia menggunakan kekuatan militer.
Arestovich mengatakan, pada suatu hari Rusia akan menarik pasukan militernya seperti yang dulu dilakukan di Kiev, Sumy, dan Chernigov.
Baca juga: Negara-negara Barat Keroyok Rusia Pakai Sanksi Ekonomi, Putin Sebut AS dkk Salah Pilih Musuh
Menurut Arestovich, pada saat itu Rusia menyadari aksi yang mereka lakukan adalah hal yang sia-sia.
Sementara itu menurut penjelasan RT.com, aksi menarik pasukan militer yang dilakukan Rusia pada saat itu merupakan bentuk sikap kooperatif karena akan diadakannya perundingan damai di Istanbul, Turki yang kini berhenti di tengah jalan.