Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Presiden Prancis, Jerman dan PM Italia Tiba di Ukraina, akan Bertemu Zelensky Bahas Hal Ini

Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri Italia Mario Draghi telah tiba di Ukraina

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
AFP/ Ludovic Marin
Perdana Menteri Italia Mario Draghi (kiri), Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah), dan Kanselir Jerman Olaf Scholz (kanan) melakukan perjalanan dengan kereta api menuju Kyiv setelah berangkat dari Polandia pada Kamis (16/6/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri Italia Mario Draghi telah tiba di Ukraina.

Belum jelas apa tujuan kedatangan ketiga orang berpengaruh itu di wilayah yang sedang berkonflik.

Ada selentingan mengenai upaya perundingan damai dengan Rusia hingga pembicaraan mengenai dukungan untuk Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pertemuan di Saint Petersburg, 25 Mei 2018. Terbaru, Macron mengaku telah menelepon Putin pada Kamis (24/2/2022) untuk membicarakan invasi Rusia ke Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pertemuan di Saint Petersburg, 25 Mei 2018. Terbaru, Macron mengaku telah menelepon Putin pada Kamis (24/2/2022) untuk membicarakan invasi Rusia ke Ukraina. (AFP / Dmitry Lovetsky)

Baca juga: Prancis Minta Rusia Jangan Dipermalukan demi Perdamaian, Ukraina Balas Sindir Saran Macron

Baca juga: Ragu Kirim Tank ke Ukraina, Jerman Khawatir Zelensky Kelewat Batas jika Menang Lawan Rusia

Dilansir TribunWow.com dari France24, Kamis (16/6/2022), kantor kepresidenan Prancis membenarkan bahwa Macron telah tiba di Kiev hari ini.

Ia bepergian ke ibu kota Ukraina itu bersama Scholz dan Draghi menggunakan kereta.

Macron mengatakan kepada wartawan di Kiev bahwa dia akan menyampaikan pesan solidaritas Eropa kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Adapun kunjungan ketiga pemimpin Eropa itu telah memakan waktu berminggu-minggu untuk diorganisir dengan kepala negara yang ingin mengatasi kritik di Ukraina atas tanggapan mereka terhadap perang.

Kabar ini awalnya disampaikan oleh CEO Ukrzaliznytsia, Oleksandr Kamyshin melalui aplikasi perpesanan Telegram.

Dilansir Ukrinform, ia mengunggah potret pemimpin Prancis, Jerman, dan Italia yang bercengkrama menghabiskan waktu di dalam kereta.

"Bagi saya, ini sudah malam ketiga berturut-turut. Tapi saya tidak hanya menghabiskan malam ini di kereta api," tulis Kamyshin.

Layanan pers Ukrzaliznytsia juga mengomentari kedatangan para pemimpin Eropa di Ukraina.

"Kanselir Jerman Olaf Scholz, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Italia Mario Draghi mengucapkan 'selamat pagi' di kereta diplomatik kami," kata perusahaan itu di Telegram.

Sebelumnya, Kiev telah mengkritik Prancis, Jerman dan pada tingkat lebih rendah Italia karena diduga menyeret kaki mereka dalam mendukung Ukraina, serta menuduh mereka lambat mengirimkan senjata.

Baca juga: Angela Merkel Tak Menyesal Pernah Tolak Ukraina Masuk NATO, Mantan Kanselir Jerman Ungkap Alasan

Baca juga: Di Tengah Konflik Rusia-Ukraina, Prabowo Diundang ke Paris oleh Presiden Prancis

Polandia Sindir Jerman dan Prancis

Belakangan ini hubungan Rusia dengan negara-negara barat tengah memburuk karena konflik yang terjadi di Ukraina.

Namun beberapa kali pemimpin negara-negara barat sempat berkomunikasi via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dua di antaranya adalah Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dikutip TribunWow.com dari Theguardian.com, aksi Scholz dan Macron menelepon Putin diketahui menuai kritikan keras dan sindiran dari Presiden Polandia Andrzej Duda.

Duda membandingkan kondisi konflik Rusia-Ukraina saat ini dengan zaman perang dunia ke-2 dulu.

"Apakah ada yang berbicara seperti ini dengan Adolf Hitler selama Perang Dunia Kedua?"

"Apakah ada yang mengatakan bahwa Adolf Hitler harus menyelamatkan muka?"

"Bahwa kita harus melangkah sedemikian rupa agar tidak memalukan untuk Adolf Hitler?" ujar Duda.

Baca juga: Viral Para Wanita Protes ke Putin, Suami Tak Pulang sejak Dikirim ke Ukraina: Kami Semua Tertipu

Pada komunikasi telepon bersama pada 28 Mei, Scholz dan Macron sempat mendesak Rusia agar melepaskan prajurit Ukraina yang ditahan di pabrik baja Azovstal, Mariupol.

Sebelumnya, demi tercapainya perdamaian, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyarankan agar Ukraina dan seluruh negara di dunia tidak mempermalukan Rusia.

Macron mengatakan, apabila Rusia tidak dipermalukan maka ada kemungkinan perang di Ukraina bisa diselesaikan melalui jalur diplomatik.

Menjawab saran dari Macron, pemerintah Ukraina membalas dengan sindiran.

Dikutip TribunWow.com dari Sky News, diketahui Macron menyampaikan saran tersebut bertepatan dengan 100 hari berlangsungnya konflik antara Rusia dan Ukraina yang terjadi sejak Februari 2022 lalu.

"Kita harus jangan mempermalukan Rusia sehingga ketika tiba hari di mana perang berakhir kita bisa membangun jalan keluar lewat jalur diplomatik," ujar Macron.

Macron meyakini Prancis berperan untuk menjadi penengah dalam antara konflik Rusia dan Ukraina.

Saran dari Macron ini telah dijawab oleh Menteri Luar Negeri Dmytro Kuleba.

"Ajakan untuk menghindari mempermalukan Rusia hanya akan mempermalukan Prancis dan seluruh negara lain yang menyetujui ajakan tersebut," ujar Kuleba.

Kuleba meminta kepada seluruh negara agar fokus mengembalikan Rusia di posisinya semula.

Macron sendiri sudah beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin lewat sambungan telepon membahas negosiasi antara Rusia dan Ukraina.(TribunWow.com/Via/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaVladimir PutinVolodymyr ZelenskyUkrainaPrancisJermanItaliaEmmanuel Macron
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved