Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Gara-gara Merokok, Tentara Ukraina Selamat dari Serangan Pasukan Militer Rusia

Seorang tentara Ukraina mengaku selamat dari maut gara-gara dirinya ingin merokok.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Atri Wahyu Mukti
News Group Newspapers Ltd/The Sun
Tentara Ukraina bernama Sergei yang berhasil selamat dari serangan pasukan militer Rusia gara-gara merokok. 

TRIBUNWOW.COM - Seorang tentara Ukraina bernama Sergei (46) berhasil selamat dari maut gara-gara rokok.

Tentara Ukraina ini bernasib beruntung berhasil selamat dari serangan pasukan militer Rusia yang menghancurkan tempat persembunyiannya.

Sergei diketahui sempat meninggalkan bunker tempatnya berlindung untuk merokok.

Baca juga: Update Nasib Anak Ukraina di Rusia, PBB Khawatir Terjadi Adopsi Paksa

Baca juga: Diduga Mata-mata Kiriman Putin, Warga Rusia di Inggris Ditangkap di Bandara atas Dugaan Sabotase

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, kala itu Sergei pergi agak jauh dari bunkernya karena angin yang kencang mematikan api dari koreknya ketika ia ingin merokok.

Berselang beberapa saat setelah Sergei keluar, ternyata pasukan militer Rusia melancarkan serangan artileri yang menghancurkan bunker tempatnya bersembunyi.

"Jika saya tidak mencoba untuk merokok saya mungkin sudah mati," kata Sergei.

Berhasil selamat dari maut, Sergei hanya mengalami gegar otak ringan karena efek serangan artileri tersebut.

Saat ditanya soal tantangan berjuang di garis depan, Sergei menganggap apa yang ia lakukan hanyalah mirip kamping namun lebih berbahaya.

Sergei juga menceritakan bagaimana jasad tentara Rusia dibiarkan begitu saja oleh sesamanya.

Sementara itu, pemerintah Ukraina tak henti-hentinya mengajukan permintaan kiriman senjata ke pihak Barat.

Melihat fakta di garis depan medan perang, rupanya para tentara memang mengalami kekurangan senjata.

Menurut komandan Ukraina, jumlah senjata yang dimiliki lebih sedikit dibanding rekrutan prajurit yang ingin berjuang.

Dilansir TribunWow.com dari Sky News, Sabtu (11/6/2022), jurnalis Alistair Bunkall menilik sendiri kondisi garis depan di bagian Selatan Ukraina.

Terlihat situasi di tempat pengintaian, di mana pepohonan memberikan sedikit kelonggaran dari terik matahari dan perlindungan bagi para prajurit di garis depan.

Seorang pengintai berjongkok, meletakkan teropong ke matanya untuk mengamati hutan di kejauhan mencari gerakan musuh.

Rusia biasa menduduki kamp kecil ini sampai mereka berhasil didorong mundur oleh pasukan Ukraina.

Sekarang lokasi itu menjadi pangkalan artileri howitzer Ukraina, ditutupi dengan jaring yang disamarkan dan dedaunan menunjuk ke musuh yang tersembunyi.

"(Situasi saat) ini bisa tenang, tapi menit berikutnya anda berada di bawah pengeboman," kata Andrii, seorang Komandan Lapangan.

Seolah diberi isyarat, deru roket Grad tiba-tiba terdengar menyela wawancara tersebut.

"Mereka (Rusia) tidak menyia-nyiakan amunisi mereka. Drone mereka terbang, bahkan jika mereka melihat hanya ada satu atau dua orang, mereka akan mengirimkan rentetan roket," imbuhnya.

Tapi segera jelas mengapa Ukraina terus memohon senjata dari Barat.

Secara harfiah tidak ada cukup senjata untuk digunakan.

"Semua orang siap untuk bertempur, tetapi sejujurnya kami kekurangan senjata," kata tentara lainnya.

"Kami memiliki banyak orang, masih ada orang yang pergi ke pusat perekrutan, mereka ingin bertarung, tetapi karena kami kekurangan senjata, tidak mungkin semua orang memiliki senjata di tangan mereka."

Garis depan hampir tidak bergerak dalam beberapa minggu dan kedua belah pihak tampak baik-baik saja.

Ini mencerminkan kondisi garis depan yang memasuki jalan buntu di beberapa tempat.

Di dekatnya, bendera Ukraina biru dan kuning berkibar di persimpangan jalan, sengaja ditempatkan agar terlihat oleh posisi Rusia.

Suara serangan artileri bergemuruh di sekitar lokasi itu, sementara asap membubung di balik pepohonan di cakrawala.

Rupanya, serangan itu menyasar sebuah jembatan yang digunakan untuk melintas.

Militer Ukraina kemudian menyuruh semua orang berlari karena pihak Rusia telah merespons.

Setiap hari, perang artileri terjadi tak henti-hentinya, sementara tidak ada pihak yang menang atau kalah.

Ukraina sempat Desak Mundur Rusia

Sebelumnya, Ukraina mengklaim telah menguasai setengah dari Severodonetsk, di mana pertempuran sengit dengan Rusia berlangsung.

Militer Kyiv berhasil mendorong mundur upaya Rusia untuk merebut kota timur yang menjadi kunci pertempuran untuk wilayah Donbas.

Meski begitu, pihak Ukraina masih mengantisipasi adanya serangan balasan dari Rusia yang mungkin dilancarkan dalam waktu dekat.

Pernyataan ini disampaikan gubernur regional Luhansk Sergiy Gaidai yang menyatakan Ukraina mengalami kemajuan dalam dua hari terakhir.

Kabar ini dibagikannya melalui sebuah wawancara yang diposting di saluran media sosial resminya.

Puncaknya, pada Minggu (5/6/2022), pasukan Kyiv berhasil menguasai setengah wilayah yang diperebutkan.

Akan tetapi mereka memperkirakan akan adanya serangan balasan besar-besaran dari pasukan Rusia dalam beberapa hari mendatang.

"Angkatan bersenjata kami telah membersihkan setengah (wilayah) pusat industri dari pasukan Rusia," kata Gaidai dilansir TribunWow.com dari The Moscow Times, Minggu (5/6/2022).

"Setengah dari kota sebenarnya dikendalikan oleh pasukan kita."

Sebagai informasi, Severodonetsk adalah kota terbesar yang masih berada di tangan Ukraina di wilayah Luhansk, yang merupakan bagian dari Donbas.

Pasukan Rusia secara bertahap maju ke lokasi itu dalam beberapa pekan terakhir setelah mundur dari daerah lain, termasuk di sekitar ibu kota Kyiv.

Setelah didesak kembali oleh serangan Rusia di kota itu, pasukan Ukraina terus-menerus berusaha balas mendorong mundur.

Di sisi lain, Gaidai mengatakan bahwa pasukan Rusia telah ditugaskan untuk menguasai kota pada hari Jumat, begitu juga arteri transportasi utama yang menghubungkan dua kota terdekat lainnya, Lysychansk dan Bakhmut.

"Kami berharap dalam waktu dekat bahwa semua cadangan yang sekarang mereka miliki aksesnya, semua cadangan, semua personel yang mereka miliki, akan mereka tinggalkan untuk melakukan dua tugas ini," kata Gaidai.

"Dalam lima hari ke depan, akan ada peningkatan besar dalam jumlah penembakan dari artileri berat dari pihak Rusia."

Klaim ini dibuat setelah sehari sebelumnya, Gaidai mengabarkan bahwa pasukannya berhasil menguasai 70 persen wilayah Severodonetsk.

"Rusia menguasai sekitar 70 persen kota, tetapi telah dipaksa mundur selama dua hari terakhir," tulis gubernur regional Lugansk Sergiy Gaidai di Telegram.

"Kota ini terbagi dua. Mereka takut bergerak bebas di sekitar kota."

Gaidai juga mengatakan bahwa pasukan Ukraina telah menangkap delapan tahanan Rusia.

Dia mengatakan bahwa jenderal Rusia Aleksandr Dvornikov telah menetapkan target untuk mengambil kendali penuh atas Severodonetsk pada 10 Juni, atau mengendalikan jalan Lysychansk-Bakhmut yang akan membuka jalan ke Kramatorsk, ibu kota wilayah Donetsk.

"Semua pasukan, semua cadangan berkonsentrasi pada dua tugas ini," ujar Gaidai.

Pada hari Sabtu, tentara Rusia telah mengklaim beberapa unit militer Ukraina ditarik dari Severodonetsk.

Tetapi walikota Oleksandr Striuk mengatakan pasukan Ukraina berjuang untuk merebut kembali kota itu.

"Tentara kami telah berhasil mengerahkan kembali (pasukan), dan membangun garis pertahanan," katanya dalam wawancara yang disiarkan di Telegram, Sabtu.

"Kami saat ini melakukan segala yang diperlukan untuk membangun kembali kontrol total atas kota."(TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
MerokokRusiaUkrainaTentara
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved