Konflik Rusia Vs Ukraina
Putin Peringatkan Barat Siap Jadikan Negara Lain Tumbal demi Tujuan Ini
Presiden Rusia memperingatkan bahwa negara-negara barat tak akan segan mengorbankan kesejahteraan negara-negara lainnya di dunia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin mengomentari soal sanksi yang diberikan oleh negara-negara barat terhadap Rusia.
Seperti yang diketahui dari Amerika Serikat (AS) hingga Inggris kompak memberikan sanksi kepada Rusia karena invasi Rusia di Ukraina.
Putin memperingatkan negara-negara barat saat ini tidak segan untuk menjadikan negara lain tumbal demi mencapai tujuan mereka.
Baca juga: Puji Gadis Ukraina Cantik-cantik, Kadyrov Sebut Mereka Ditipu AS dan Kecewa karena Hal Berikut
Baca juga: 3 Rekaman Kontroversial Konflik Rusia-Ukraina, Eksekusi Tentara Sekarat hingga Pembunuhan Warga
Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Putin memperingatkan apabila sanksi terus beranjut, akan sulit memperbaiki konsekuensi yang akan datang.
Putin menyoroti bagaimana beberapa negara di dunia saat ini tengah terancam bahaya kelaparan.
Ia menyebut negara-negara barat saat ini rela mengorbankan kesejahteraan negara lain di dunia demi memperluas dominasi mereka.
Pernyataan ini disampaikan oleh Putin dalam pertemuan pada Kamis (12/5/2022).
"Kesalahan sepenuhnya berada pada elit-elit negara-negara barat yang demi tujuan mereka mempertahankan dominasi dunia, siap untuk mengorbankan seluruh dunia," kata Putin.
Putin menambahkan, saat ini Rusia sendiri mampu menghadapi sanksi yang diberikan oleh negara-negara barat.
"Produksi pabrik kami secara bertahap mengisi pasar domestik," ujar Putin mengomentari soal perusahaan-perusahan asing yang pergi dari Rusia karena konflik.
Sebelumnya, Putin juga sempat mengecam upaya Barat untuk melemahkan negaranya.
Namun, siasat itu diklaim tak berhasil lantaran dukungan dari masyarakat untuk pemerintah Rusia.
Putin juga membeberkan provokasi serius yang disebutnya telah dilakukan oleh Ukraina selama konflik terjadi.
Dilansir TribunWow.com dari RIA Novosti, Senin (25/4/2022), Putin menyampaikan hal ini ketika berbicara pada pertemuan dewan Kantor Kejaksaan Agung Rusia.
Ia menyinggung mengenai tekanan sanksi dari negara-negara Barat yang tengah diderita Rusia.
Adapun sanksi tersebut dijatuhkan sebagai balasan atas invasi Rusia ke Ukraina.
"Rusia baru-baru ini menghadapi tekanan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari negara-negara Barat. Setelah dimulainya operasi militer khusus untuk mendukung republik rakyat Donbass, tekanan seperti itu, seperti yang kita pahami dan ketahui, semakin meningkat," kata Putin.
Diduga bahwa sanksi tersebut dijatuhkan sebagai upaya untuk melemahkan Rusia.
Putin juga mengaku kaget menyaksikan Barat terang-terangan memperlihatkan dukungan untuk Ukraina.
"Yang mengejutkan kami, diplomat tingkat tinggi di Eropa dan Amerika Serikat menyerukan satelit (pengikut) Ukraina mereka untuk menggunakan semua kemampuan mereka untuk menang di medan perang, diplomasi yang aneh di antara mitra kami di Amerika Serikat dan di Eropa. Para diplomat bahkan menyerukan ini," ujar Putin.
Selain sanksi, Barat diduga juga telah mencoba memecah belah masyarakat Rusia dan menghancurkan negara tersebut.
Setelah tahu bahwa Ukraina tak mungkin menang, Barat berupaya meruntuhkan Rusia dari dalam.
Namun usaha itu tak berhasil lantaran rakyat Rusia memberikan dukungan penuh untuk pemerintah.
"Tetapi karena menyadari bahwa ini (Ukraina menang) tidak mungkin, tugas lain muncul untuk memecah masyarakat Rusia, menghancurkan Rusia dari dalam. Tapi di sini juga, halangan tidak berhasil," ungkap Putin.
"Masyarakat kami menunjukkan kedewasaan, solidaritas, mendukung angkatan bersenjata kami, mendukung upaya kami yang bertujuan memastikan keamanan Rusia sendiri tanpa syarat dan mendukung warga yang tinggal di Donbas," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Putin mengklaim bahwa invasi di Ukraina telah mengungkap fakta mencengangkan.
Rusia menemukan pelanggaran hukum internasional oleh Nazi, yang diantaranya termasuk pembunuhan.
"Selama operasi khusus, fakta massal pelanggaran paling berat terhadap norma-norma hukum internasional oleh formasi neo-Nazi Ukraina, tentara bayaran asing terungkap," beber Putin.
"Kita berbicara tentang pembunuhan warga sipil, penggunaan orang, termasuk anak-anak, sebagai perisai manusia, tentang kejahatan lainnya."
Menurutnya, Ukraina sengaja memancing di air keruh untuk memprovokasi tentara Rusia.
"Provokasi terang-terangan terhadap Angkatan Bersenjata kita, termasuk yang menggunakan sumber daya media asing dan jejaring sosial, juga memerlukan penyelidikan menyeluruh," pungkasnya.
Baca juga: Update Mariupol: Rusia Umumkan Gencatan Senjata di Pabrik Azovtal, Beri Waktu Evakuasi Warga Ukraina
Baca juga: Bertemu Zelensky, Menlu AS Sebut Rusia Gagal Capai Tujuan Perang: Ukraina Berdiri Kokoh
Putin Diprediksi Nekat Serang Pangkalan NATO
Muncul kekhawatiran bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan aksi nekat agar dapat menguasai Ukraina.
Rusia diklaim akan menggunakan segala cara untuk menghentikan pasokan senjata lawan.
Satu diantaranya dengan menyerang pangkalan militer NATO agar tak bisa mengirim bantuan ke Ukraina.
Dilansir TribunWow.com dari Daily Mail, Minggu (17/4/2022), seorang mantan kepala keamanan Inggris, Lord Ricketts, menilai Rusia mulai frustasi lantaran invasinya terhambat.
Penasihat keamanan nasional pertama Inggris itu mengatakan kemarin bahwa Putin menjadi semakin putus asa untuk menghentikan aliran senjata ke Ukraina.
Putin bahkan dikatakan mungkin akan menyerang pesawat atau konvoi NATO yang menuju ke negara itu.
Lord Ricketts khawatir konflik ini akan bergerak menuju jalan buntu, di mana Rusia ingin menduduki sebagian besar wilayah tetangga dan Ukraina tidak akan menyetujui kesepakatan penyelesaian.
Ia juga memperingatkan bahwa konflik ini dapat berlanjut selama bertahun-tahun sebagai perang gerilya.
"Saya kira apa yang Presiden Putin ingin kita semua takuti adalah bahwa dia mungkin ingin menggunakan senjata nuklir di Ukraina, yang akan menjadi eskalasi penting dan memastikan Rusia terisolasi di seluruh dunia," ujar Lord Ricketts.
"Lebih mungkin, saya pikir apa yang mereka perhatiakn adalah mencari cara untuk mencegah atau membatasi aliran senjata ke Ukraina."
"Jadi kita mungkin melihat serangan terhadap konvoi atau pesawat yang membawa senjata dari barat."
Tak hanya serangan pada distribusi senjata ke Ukraina, Rusia diklaim akan nekat menyerang pangkalan NATO.
Jika ini benar terjadi, mau tak mau negara-negara NATO harus segera memutuskan tindakan.
"Paling buruk, mungkin, semacam serangan rudal di pangkalan NATO, di mana senjata untuk Ukraina sedang dipersiapkan," sebut Lord Ricketts.
"Dan itu pasti akan menimbulkan dilema nyata bagi negara-negara NATO."(TribunWow.com/Anung/Via)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/presiden-rusia-vladimir-putin-kir1sia-ke-ukraina-pada-kamis-2422022.jpg)