Konflik Rusia Vs Ukraina
Pertama Kali Terjadi, Seorang Tentara Rusia Diadili atas Kejahatan Perang di Ukraina
Untuk pertama kalinya dalam konflik ini, pengadilan di Ukraina mengadili seorang tentara Rusia atas kasus kejahatan perang.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Isu kasus kejahatan perang santer terdengar sejak dimulainya konflik antara Rusia dan Ukraina pada 24 Februari 2022.
Baik Rusia dan Ukraina saling menuding tentara masing-masing kubu melakukan kejahatan perang saat berkonflik.
Kini untuk pertama kalinya, seorang tentara Rusia diadili di Ukraina atas kasus kejahatan perang.
Baca juga: Bukan demi Ukraina, Eks Presiden Rusia Bongkar Tujuan AS Kirim Bantuan hingga Rp 581 Triliun
Baca juga: 5 Kasus Pengkhianatan di Konflik Rusia-Ukraina, dari Nenek-nenek hingga Politisi Provokasi Nuklir
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, tentara Rusia yang diadili diketahui berusia 21 tahun.
Jaksa Agung Ukraina, Iryna Venediktova mengatakan, saat ini tentara yang bersangkutan sedang ditahan.
Tentara Rusia tersebut dituding bersalah atas kasus pembunuhan terhadap warga sipil tak bersenjata di Kota Sumy, Ukraina.
Venediktova pernah menyampaikan ada sekira delapan ribu kasus kejahatan perang yang terjadi di seluruh Ukraina.
Seluruh kasus tersebut adalah pembunuhan warga sipil yang dilakukan oleh tentara Rusia.
Venediktova juga sempat mengidentifikasi 10 tentara Rusia yang diduga terlibat dalam pembantaian warga sipil di Bucha.
Sebelumnya, sebuah tudingan disampaikan oleh Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace kepada Rusia.
Wallace menuduh pasukan militer Rusia menggunakan alat kremasi berjalan untuk menutupi kejahatan perang Rusia selama melakukan invasi di Ukraina.
Ia menyebut sejak Februari lalu pihak Rusia menolak untuk menyampaikan kebenaran seputar konflik di Ukraina.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, tudingan tersebut disampaikan oleh Wallace dalam pidato di London pada Senin (9/5/2022).
"Mempertimbangkan fakta adanya alat kremasi berjalan berkeliaran di sekitar medan perang bukan hanya untuk menutupi kejahatan perang Rusia, juga untuk jasad tentara mereka," kata Wallace.
Sebelumnya, informasi serupa sempat disampaikan mantan direktur jenderal Royal United Services Institute (RUSI), Michael Clarke.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/2-oleh-tentara-chechen-sebelum-akhirnya-dieksekusi-mati.jpg)