Konflik Rusia Vs Ukraina
Tak Hanya Putin, Eks Presiden Brasil Nilai Zelensky dan AS Juga Picu Perang Ukraina, Ini Sebabnya
Eks presiden Brasil, Lula da Silva menilai Volodymyr Zelensky dan Vladimir Putin sama-sama bertanggung jawab atas perang di Ukraina. Ini alasannya.
Editor: Rekarinta Vintoko
Lula (76) mengatakan, Zelensky seharusnya menanggalkan rencananya bergabung dengan NATO dan mengadakan negosiasi dengan Putin untuk menghindari konflik.
"Kita harus melakukan percakapan yang serius. OK, Anda adalah seorang komedian yang baik. Tapi jangan biarkan kami berperang agar Anda muncul di TV," ujar Lula, menyinggung profesi Presiden Ukraina Zelensky sebelumnya sebagai aktor dan komedian.
Baca juga: Mata-mata Top Militer Ukraina Isyaratkan Satu-satunya Cara Rusia Hentikan Invasi, Kematian Putin?
Veteran sayap kiri itu juga menilai Biden dan para pemimpin Uni Eropa gagal bernegosiasi dengan Rusia, menjelang invasinya ke Ukraina pada Februari.
"Amerika Serikat memiliki banyak pengaruh politik. Dan Biden bisa menghindari perang, bukan menghasutnya," katanya.
"Biden bisa saja naik pesawat ke Moskow untuk berbicara dengan Putin. Ini adalah sikap yang Anda harapkan dari seorang pemimpin," tambahnya.
Menurutnya, Amerika dan Uni Eropa bisa menghindari invasi dengan menyatakan Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO.
"Putin seharusnya tidak menginvasi Ukraina. Tapi bukan hanya Putin yang bersalah. AS dan UE juga bersalah," kata Lula.
Lula mengungguli Bolsonaro dalam jajak pendapat untuk pemilihan pada Oktober mendatang.
Ia dikenal sebagai pemain kunci di panggung internasional selama dua masa jabatannya sebagai presiden, membangun pengaruh diplomatik Brasil.
Menggambarkan dirinya sebagai pembangun jembatan, Lula mempertahankan hubungan persahabatan dengan rekan-rekannya seperti George W Bush dari AS dan Hugo Chavez dari Venezuela atau Mahmoud Ahmadinejad dari Iran.
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani, Setya Krisna Sumarga)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mantan Presiden Brasil Sebut Zelensky dan AS Picu Perang Ukraina: Bukan Hanya Putin yang Salah