Konflik Rusia Vs Ukraina
Kepala WHO Merasa Miris Konflik di Yemen hingga Suriah Tak Dapat Perhatian seperti Ukraina
Kepala WHO meyakini publik masih mendiskriminasi warga berdasarkan ras mereka yakni ras kulit putih dan hitam.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Meski telah berlangsung hampir selama tiga bulan, dunia masih terus memusatkan perhatian mereka terhadap konflik antara Ukraina dan Rusia.
Negara-negara barat juga terus-terusan mengirimkan bantuan tak henti-henti kepada Ukraina.
Melihat hal ini, Kepala dari Organisasi Kesehatan Dunia alias World Health Organisation (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkit konflik di daerah lain.
Baca juga: Lewat Facebook, Wanita di Ukraina Minta Bantuan Kubur Gadis 16 Tahun Korban Rudapaksa Tentara Rusia
Baca juga: Sambil Tertawa, Istri Tentara Rusia Bebaskan Suaminya untuk Rudapaksa Wanita Ukraina
Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, Tedros merasa miris karena hanya konflik di Ukraina mendapat begitu banyak perhatian sedangkan di daerah lain begitu kecil.
Tedros kemudian mengungkit soal konflik yang terjadi di provinsi Tigray di Ethiopia, Yemen, Suriah, hingga Afghanistan.
"Saya tidak tahu apakah dunia benar-benar memberikan perhatian yang sama terhadap hidup ras kulit hitam dan ras kulit putih," ungkap Tedros.
Tedros sendiri meyakini dunia tidak memerlakukan semua ras secara sama.
"Saya harus terus terang dan jujur bahwa dunia tidak memperlakukan umat manusia dengan cara yang sama."
"Beberapa lebih daripada yang lain."
"Dan ketika saya mengatakan ini, ini menyakitkan bagi saya. Karena saya melihatnya. Sulit untuk menerimanya tapi ini terjadi," ujar Tedros.
Tedros sendiri berasal dari Tigray.
Ia mengatakan, berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), kampung halamannya saat ini membutuhkan 100 truk berisi bantuan kemanusiaan per hari.
Konflik di Tigray sendiri terjadi antara TPLF (kelompok yang mendominasi politik di Ethipoia) dengan kelompok pemerintah.
Ribuan orang mati dalam konflik ini, termasuk warga sipil.
Sementara itu PBB telah menetapkan Yemen sebagai krisis kemanusiaan terparah di dunia.
Lalu di Afghanistan, PBB menyatakan 24 juta warga di sana butuh bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Selanjutnya perang sipil di Suriah telah berlangsung selama 11 tahun.
Rusia Ancam Finlandia
Rusia mengecam keras keputusan Finlandia untuk bergabung dengan NATO.
Pihak Presiden Vladimir Putin menyebut tindakan tersebut akan menjadi tragedi mengerikan bagi negara tersebut.
Bahkan, Rusia menyatakan negara tersebut akan menjadi target pembalasan seperti yang kini terjadi di Ukraina.
Dilansir TribunWow.com dari media Rusia RIA Novosti, Rabu (6/4/2022), peringatan ini disampaikan Vladimir Dzhabarov, Wakil Kepala Pertama Komite Internasional Dewan Federasi.
Ia menyebut keputusan pemimpin Finlandia untuk bergabung dengan NATO akan menjadi kesalahan strategis.
Pernyataan ini dibuat menyusul santernya wacana Swedia dan Finlandia yang ingin bergabung menjadi anggota NATO.
"Swedia adalah negara mandiri yang merasa nyaman di Eropa," kata Dzhabarov pada pertemuan hari Rabu, (6/4/2022).
Dia mencatat bahwa negara ini memiliki status netral, namun keduanya dikatakan cenderung memiliki kedekatan dengan NATO.
Namun, Rusia secara khusus memberikan peringatan pada Finlandia yang bertetangga dengan wilayahnya.
"Jika kepemimpinan Finlandia bergabung (dengan NATO), itu akan menjadi kesalahan strategis," tegas Dzhabarov.
Dia menekankan bahwa secara geografis Finlandia dan Rusia adalah negara tetangga, mengingat dari Finlandia ke St. Petersburg hanya beberapa jam perjalanan.
Apalagi selama ini, Rusia dan Finlandia memiliki hubungan bilateral yang baik.
Namun, jika Finlandia nekat bergabung dengan NATO, Rusia mengancam akan mengambil tindakan.
Pihak Kremlin tak tinggal diam dan menyatakan akan menjadikan negara tersebut sebagai target seperti halnya yang terjadi di Ukraina.
"Dan Finlandia, yang telah berhasil berkembang selama bertahun-tahun berkat hubungan perdagangan dan ekonomi yang erat dengan Rusia, akan menjadi target. Saya pikir itu (akan) tragedi yang mengerikan bagi seluruh rakyat Finlandia," ancam Dzhabarov.
Secara sarkas, senator menekankan bahwa orang-orang Finlandia pragmatis dan cerdas.
Menurut anggota parlemen tersebut, tidak mungkin orang Finlandia akan menandatangani kartu untuk penghancuran negara mereka sendiri.
Geger Rusia akan Invasi Moldova setelah Ukraina
Negara tetangga Ukraina, Moldova, resmi mendaftarkan diri sebagai anggota Uni Eropa (EU).
Setelah sebelumnya sekutu Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko terlihat menyiarkan rencana invasi ke negara tersebut.
Beredar kabar bahwa hal ini merupakan implementasi obsesi Putin untuk kembali mengibarkan bendera Uni Soviet.
Dilansir Aljazeera, Kamis (3/3/2022), pengajuan Moldova untuk menjadi anggota EU didaftarkan setelah sepekan invasi Rusia ke Ukraina.
Presiden Moldova, Maia Sandu, mengumumkan peresmian tersebut dan menjelaskan alasan di balik keputusannya.
"Kami ingin hidup dalam perdamaian kesejahteraan, dan menjadi bagian dari dunia yang merdeka," kata Maia Sandu.
"Saat sejumlah keputusan memerlukan waktu, yang lain harus dibuat secara cepat dan tepat, dan memanfaatkan kesempatan yang datang dengan perubahan dunia."
Bekas jajahan republik Uni Soviet yang berbatasan dengan Ukraina dan Rumania itu, rentan menjadi sasaran lantaran berbatasan langsung dengan wilayah yang diserang Rusia.
Tak hanya Moldova, negara tetangga Georgia yang merupakan eks Republik Uni Soviet, juga memiliki kekhawatiran serupa.
Bahkan, Georgia sudah lebih dulu mendaftarkan negaranya daripada Moldova.
Ketakutan menjalar setelah Rusia menginvasi Ukraina sejak Kamis (24/2/2022).
Apalagi, belum lama ini beredar video Presiden Belarusia ketika mengadakan rapat militer bersama jajarannya.
Dilansir nypost, Kamis (3/3/2022), dalam video tersebut, Alexander Lukashenko terlihat berdiri di depan sebuah peta komando pertempuran.
Ia menunjukkan serangan yang tampaknya direncanakan dari Ukraina selatan ke Moldova.
Peta tersebut membagi Ukraina menjadi empat bagian, di mana garis serangan yang disorot telah dilakukan oleh Rusia.
Wartawan Belarusia, Tadeusz Giczan, mencatat adanya rencana serangan ke Transnistria yang merupakan wilayah pecahan Moldova melalui pelabuhan Ukraina di Odessa.
Adapun awal tahun ini, intelijen militer Ukraina sempat memperingatkan bahwa Rusia merencanakan operasi bendera palsu di Moldova sebagai dalih untuk intervensi militer di Transnistria, yang dikendalikan oleh separatis pro-Rusia.(TribunWow.com/Anung/Via)