Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Warga Ukraina Akui Tentara Rusia Awalnya Bersikap Ramah tapi Kemudian Berubah

Seorang warga Ukraina tepatnya di Desa Yahidne mengakui para tentara Rusia sempat bersikap ramah kepada warga setempat.

Tayang:
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
YouTube CGTN
Momen pasukan militer Rusia membagikan bantuan kemanusiaan pada warga sipil di Kharkiv, Ukraina, pada 16 Maret 2022. 

TRIBUNWOW.COM - Selama konflik berlangsung, media-media barat dan pemerintah Ukraina selalu memberitakan tentara Rusia sebagai penjahat dan terus-terusan melakukan kejahatan perang saat melakukan invasi.

Namun sejumlah warga di Desa Yahidne, Chernihiv mengakui para tentara Rusia yang datang menginvasi sempat bersikap ramah dan baik.

Tetapi keramahan para tentara Rusia itu tidak berlangsung lama.

Baca juga: Kehilangan Kaki dan Matanya, Jurnalis Ini Jadi Korban Pengeboman Tentara Rusia di Ukraina

Baca juga: Jurnalis Media Barat Heran Tak Lihat Mayat saat di Ukraina, Warga Justru Cerita Tentara Rusia Ramah

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, ketika tentara Rusia awal tiba di Yahidne, mereka sempat memberikan bantuan kebutuhan sehari-hari kepada warga desa.

Tetapi tak lama kemudian, tentara Rusia yang lain mulai menjarah harta dan barang berharga milik warga desa.

"Mereka mulai menjatah, mengambil semua yang mereka bisa ambil," ujar Petro Hlystun (71).

Petro bercerita, para tentara Rusia mengambil mulai dari senter hingga komputer tablet.

Warga lain bernama Olha Meniaylo mengaku sempat dipaksa oleh tentara Rusia untuk tinggal di sebuah basemen bersama 60 anak-anak, hanya dengan sedikit makanan dan minuman serta tidak ada listrik dan toilet.

Olha bercerita, saat di basemen, para warga harus bergantian menggunakan ember sebagai toilet dan bergantian tidur karena luas ruangan yang terbatas.

"Hampir tidak mungkin untuk bernapas," ujar Olha.

Hampir selama satu bulan Desa Yahidne di Chernihiv berada di bawah kuasa pasukan militer Rusia.

Saat tentara Rusia datang ke Yahidne, mereka membawa para warga sipil dari rumah mereka lalu dipindahkan ke basemen di sebuah sekolah yang ada di sana selama empat minggu.

Sekira 130 orang dipaksa untuk tinggal di basemen seluas 65 meter persegi.

Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, dua dari warga yang tinggal di sana adalah seorang kakek bernama Mykola Klymchuk (60) dan seorang gadis bernama Anastasiia (15).

Basemen tempat para warga Yahdine ditawan tampak kotor, bau dan berantakan.

Kengerian di Yahdine baru terungkap seusai pasukan militer Rusia menarik mundur pasukan mereka.

Anastasiia bercerita, ia tinggal di basemen tersebut bersama ayah dan neneknya.

Minimnya ruangan yang tersedia membuat Anastasiia harus terus berdiri.

"Kita tidur berdiri. Bukan berarti kita bisa tidur. Mustahil untuk tidur, begitu banyak serangan yang mengarah ke sini," ujar Anastasiia.

Tidak adanya ventilasi yang cukup dalam ruangan tersebut juga semakin membuat warga yang berlindung di dalam merasa tidak nyaman.

Mykola menjelaskan, selama dirinya tinggal di basemen yang sama dengan Anastasiia, ada 12 orang yang tewas.

Sebagian besar dari mereka adalah warga lanjut usia.

Mykola meyakini para warga lansia tersebut tewas karena sesak napas.

Ketika ada warga yang meninggal, mayatnya tidak bisa langsung dikeluarkan dari basemen.

Tentara Rusia tidak setiap hari membolehkan warga untuk membuang jasad orang yang meninggal di basemen.

Warga yang hidup di basemen terpaksa tinggal bersama mayat selama berjam-jam bahkan berhari-hari sebelum akhirnya jasad bisa dibawa ke luar.

"Sangat menyeramkan. Saya mengenal orang-orang yang meninggal," kata Anastasiia.

"Mereka (orang-orang yang meninggal) memerlakukan kami sangat baik. Saya merasa sangat sedih, mereka mati tanpa alasan di sini," ujarnya.

Mykola menjelaskan, dalam kondisi normal para lansia itu tidak seharusnya tewas di basemen.

Mykola melanjutkan, bahkan untuk sekadar buang air pun tentara Rusia sering melarang.

Tentara Rusia meminta warga yang ada di basemen menggunakan ember untuk buang air.

Tepatnya pada 3 April 2022 pasukan militer Rusia mundur dari Yahidne.

Anastasiia mengaku masih bisa mendengar suara tembakkan dan sering merasa ketakutan.

Pada foto yang diabadikan oleh bbc.com, wajah Anastasiia terlihat tertekan dan stres seusai mengalami hidup di tengah konflik.

Minta Dibunuh seusai Suaminya Dieksekusi

Seorang wanita bernama Iryna Abramov (41) berteriak meminta ditembak mati oleh tentara Rusia seusai suaminya yakni Oleg (40) dieksekusi oleh para tentara Rusia tersebut.

Rumah yang ditinggali oleh Iryna, Oleg dan ayah Iryna yakni Volodymyr Abramov (72) di Kota Bucha, Ukraina, diserbu oleh pasukan militer Rusia tanpa alasan yang jelas.

Begitupula Oleg menjadi korban eksekusi tentara Rusia tanpa alasan yang jelas.

Baca juga: Rusia Klaim Miliki Bukti Rencana Kotor Ukraina yang Didukung AS, Ungkap Insiden Ledakan Kimia

Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, Volodymyr bercerita, pada saat pasukan Rusia datang mendobrak rumah, mereka langsung menarik Oleg ke luar.

Setelah menarik Oleg keluar, tentara Rusia itu melempar sebuah granat ke dalam rumah Volodymyr yang menyebabkan kebakaran di dalam rumah.

Sambil berusaha memdamkan api menggunakan alat pemadam kebakaran, Volodymyr berteriak meminta bantuan menantunya yakni Oleg yang ditarik ke luar oleh para tentara Rusia.

Tak lama kemudian datang seorang tentara Rusia mengatakan kepada Volodymyr bahwa Oleg tidak akan bisa membantu.

Setelah itu Volodymyr menemukan jasad Oleg di aspal di luar gerbang rumah.

Dari posisi jasad Oleg yang berlutut dan mengalami luka di kepala, Volodymyr meyakini menantunya itu diekseksui mati dari jarak dekat.

Oleg sendiri sehari-hari bekerja sebagai tukang las, bukan termasuk kombatan.

Iryna selaku istri Oleg bercerita, para tentara Rusia itu mengeksekusi Oleg tanpa alasan yang jelas.

"Mereka tidak bertanya atau mengatakan apapun, mereka hanya membunuhnya," ujar Iryna.

"Mereka meminta (Oleg) untuk melepaskan baju, berlutut, dan mereka menembaknya."

Setelah Oleg dieksekusi, Iryna sempat berlari ke luar dan melihat empat tentara Rusia yang membunuh Oleg sedang bersantai sambil meminum air.

Iryna histeris berteriak minta agar dirinya segera ditembak mati.

Namun para tentara Rusia tersebut justru menanggapi dengan bercanda.

Seorang tentara Rusia awalnya mengarahkan senjatanya ke Iryna lalu menurunkannya, kemudian mengarahkannya lagi lalu menurunkannya berkali-kali.

Pada akhirnya tentara Rusia tersebut memberi waktu tiga menit agar Iryna dan Volodymyr segera pergi dari sana.

Menurut pengakuan Volodymyr, pada akhirnya ia dan Iryna pergi meninggalkan jasad Oleg hampir selama sebulan di Bucha.

Ketika situasi mulai aman, Volodymyr mengubur Oleg seadanya di sebuah lahan dekat rumah.

Kini jasad Oleg telah dievakuasi oleh tentara Ukraina dan belum tahu dipindahkan ke mana. (TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr Zelensky
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved