Konflik Rusia Vs Ukraina
Gedung Putih Murka Trump Minta Putin Bongkar Aib Keluarga Joe Biden: Orang Amerika Macam Apa?
Gedung Putih kritik keras ucapan Donald Trump soal Presiden Vladimir Putin harus merilis informasi negatif tentang keluarga Presiden AS Joe Biden.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
Ini juga bukan pertama kalinya Trump meminta bantuan dari Rusia untuk menyerang lawan politiknya.
Selama kampanye presiden 2016 melawan Demokrat Hillary Clinton, Partai Republik secara terbuka menyarankan peretas Rusia dapat membantu menemukan email Clinton.
"Rusia, jika anda mendengarkan, saya harap Anda dapat menemukan 30.000 email," ucap Trump saat itu.
Baca juga: Rusia Bongkar Rencana Ukraina Sebarkan Patogen Berbahaya, Sebut Keterlibatan Anak Joe Biden
Baca juga: Audiens Ramai Tertawa, Trump Bercanda Usul AS Pura-pura Jadi China saat Serang Rusia
Trump Minta Putin Bongkar Aib Joe Biden
Sebuah tudingan kontroversial disampaikan oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Presiden AS saat ini yakni Joe Biden.
Di tengah panasnya konflik Rusia dan Ukraina, Trump meminta kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membongkar aib keluarga Joe Biden.
Satu di antaranya adalah anak Joe Biden yakni Hunter Biden disebut pernah menerima uang berjumlah fantastis dari keluarga pejabat di Rusia.
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, Hunter Biden disebut sempat menerima uang sebesar 3,5 juta dollar atau setara Rp 50 triliun dari istri eks Walikota Moskow.
Trump meminta agar Putin berani membongkar aib-aib tersebut yang nantinya akan merusak citra Biden.
Mempertimbangkan kondisi Putin yang saat ini sedang dibenci di AS, Trump meyakini sang Presiden Rusia tersebut akan berani membongkar aib-aib tersebut.
"Saya rasa Putin kemungkinan akan bersedia menjawab," jelas Trump.
Sebelumnya Trump mengaku terkejut melihat perubahan yang ditunjukkan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ia juga sempat tak menyangkan bahwa Vladimir Putin akan benar-benar melancarkan serangan ke Ukraina.
Lagi-lagi, pengusaha kenamaan AS itu mengklaim bahwa Rusia tak akan berani melakukan agresi jika ia masih menjabat.
Dilansir TribunWow.com dari Daily Mail UK, Rabu (16/3/2022), Trump awalnya percaya Putin hanya mencoba bernegosiasi ketika mengirim pasukan ke perbatasan Ukraina.