Breaking News:

Terkini Nasional

Soal Megawati Soroti Ibu-ibu Antre Minyak Goreng, Ini Kata Pengamat

Ucapan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri soal banyaknya ibu-ibu yang mengantre minyak goreng menjadi sorotan.

YouTube PDI Perjuangan
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam acara Peresmian Patung Bung Karno, Sekolah Partai, Kantor DPD dan DPC PDI Perjuangan, Rabu (28/10/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Ucapan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri soal banyaknya ibu-ibu yang mengantre minyak goreng menjadi sorotan.

Seperti Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam yang turut menanggapi komentar Megawati Soekarnoputri itu.

Umam mengatakan, apa yang disampaikan Megawati blunder besar.

Baca juga: Dorce Gamalama Sebut Nominal Bantuan yang Diberikan Jokowi dan Megawati: Saya Nggak Minta

Lantaran, menurut Umam, Megawati berkomentar menggunakan istilah 'njelimet' (rumit).

Bahkan, Umam menilai pernyataan Megawati tersebut seolah-olah tidak sensitif dengan realitas sosial karena faktanya antrean minyak goreng telah menyebabkan korban jiwa.

Diketahui, sudah ada dua orang ibu-ibu yang meninggal akibat mengantre minyak goreng, yakni di Kabupaten Berau dan Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

"Pernyataan Bu Mega yang melabeli perilaku ibu-ibu yang mengantri beli minyak goreng dengan istilah 'njelimet', jelas itu blunder besar."

"Apalagi sudah jatuh 2 korban nyawa ibu-ibu. Seolah tidak sensitif pada realitas sosial yang sesungguhnya," kata Umam, Sabtu (19/3/2022), dilansir Kompas.com.

Lebih lanjut, Umam menuturkan, penyataan Megawati soal antrean minyak goreng ini tidak sejalan dengan jargon 'pro wong cilik' yang selama ini selalu digaungkan oleh Megawati atau PDI-P.

Baca juga: Kekecewaan Warga saat Minyak Goreng Melimpah setelah HET Dicabut, Heran Pemerintah Kalah sama Mafia

Umam menegaskan masyarakat megonsumsi minyak goreng bukan karena tidak paham aspek kesehatan dari penggunaan minyak goreng.

Namun, dikarenakan keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk sehari-hari.

"Blunder statement Bu Mega membuka ruang interpretasi publik, bahwa jargon 'pro wong cilik' itu ternyata hanya sebatas permainan bahasa elite, yang sejatinya tidak nyambung dengan napas kehidupan rakyat yang sesungguhnya," ujar Umam.

Umam menambahkan blunder semacam ini harus dikelola dengan baik oleh PDI-P jika tidak ingin elektabilitasnya tergerus.

Selain itu, Umam beranggapan, Megawati seharusnya memahami bahwa masalah kelangkaan minyak goreng ini adalah masalah kebijakan publik.

Umam menilai Megawati seharusnya bisa memperhatikan ketidakberdayaan instrumen negara dan pemerintah yang dibuat tak berdaya oleh instrumen pasar.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Tags:
Minyak GorengMegawatiPDIPUniversitas Paramadina
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved