Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Sindir Diplomat Negaranya, Eks Menteri Rusia: Mereka Mempermalukan Diri Sendiri

Mantan menteri Rusia mengutuk diplomat dari negaranya sendiri terkait konflik Rusia-Ukraina.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
YouTube RT
Presiden Rusia Vladimir Putin saat mengadakan pertemuan dengan pramugari maskapai Aeroflot, Sabtu (5/3/2022). Dalam kesempatan tersebut, Putin turut mengungkit soal konflk Ukraina Vs Rusia. 

TRIBUNWOW.COM - Mantan Menteri Luar Negeri Rusia, Andrei Kozyrev menyindir diplomat dari negaranya asalnya sendiri.

Sindiran yang disampaikan oleh Kozyrev masih terkait dengan konflik antara Rusia dan Ukraina.

Kozyrev sendiri merupakan mantan menteri di era Boris Yeltsin.

Baca juga: Media Inggris Beritakan Tentara Rusia Muak Diperintah Bunuh Warga Sipil, Siap Lawan Balik Putin

Baca juga: Jurnalis AS Bongkar Isi Berita yang Disiarkan TV Pemerintah Rusia soal Konflik di Ukraina

Dikutip TribunWow.com dari aljazeera.com, Kozyrey menyebut apa yang telah dilakukan oleh diplomat dari negaranya adalah hal yang menjijikkan.

Saat berbicara dengan jurnalias asal Inggris, Kozyrev menyampaikan diplomat Rusia seharusnya segera mengundurkan diri.

"Mereka hanya menyebar propaganda, dan ini adalah hal yang tidak baik dilakukan untuk seorang diplomat," ujar Kozyrev.

"Mereka telah mempermalukan diri mereka sendiri."

Kozyrev menambahkan, mendengarkan pernyataan yang disampaikan oleh diplomat Rusia hanyalah buang-buang waktu.

Sebelumnya, pada Rabu (16/3/2022) beredar sebuah video di media sosial (medsos) menampilkan jasad sejumlah warga sipil di Ukraina dalam kondisi tak bernyawa.

Otoritas Ukraina menyebut ada 10 warga sipil tewas dibunuh pasukan militer Rusia saat sedang mengantre beli roti di Kota Chernihiv/Chernigov.

Menanggapi hal ini, pemerintah Rusia tegas membantah telah membunuh warga di Chernihiv.

Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, pemerintah Rusia menuding video yang beredar adalah sebuah propaganda yang dilakukan oleh badan intelijen Ukraina.

Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov.

Konashenkov menyampaikan sejumlah pihak secara serentak merilis video propaganda tersebut.

"Saya ingin menekankan bahwa tidak ada pasukan Rusia di Chernigov," tegas Konashenkov.

"Mereka yang tewas adalah korban dari teror kelompok nasionalis Ukraina atau rekaman video tersebut diproduksi oleh badan intelijen Ukraina," ujarnya.

Di sisi lain, kantor berita milik pemerintah Ukraina menyampaikan jumlah korban di Chernihiv naik menjadi 13 orang.

Tidak hanya korban tewas, terdapat juga warga yang terluka dalam serangan itu.

Petugas kepolisian Ukraina di Chernihiv, Volodymyr Nidzelsky menyampaikan, saat ini kasus pembunuhan itu tengah didalami oleh polisi.

Sebelumnya, beredar di media sosial sebuah video menampilkan kondisi sebuah tempat di Chernihiv, Ukraina seusai terkena serangan misil pasukan Rusia.

Dalam video tersebut tampak sejumlah warga tergeletak tak bernyawa di dekat sebuah bangunan.

Di sekitar jasad warga Ukraina itu terlihat puing-puing bangunan berserakan.

Dikutip TribunWow.com dari timesofisrael.com, serangan itu disebut terjadi pada Rabu (16/3/2022).

Sebanyak 10 warga Ukraina tewas terkena serangan misil pasukan Rusia ketika sedang antre membeli roti.

Kedutaan besar Amerika Serikat (AS) di Kyiv/Kiev turut mengomentari insiden ini.

"Hari ini, pasukan Rusia menembak dan membunuh 10 orang yang sedang berdiri mengantri membeli roti di Chernihiv," jelas Kedubes AS di Ukraina.

Pemerintah AS meminta agar pemerintah Rusia menghentikan serangan dan akan melakukan segala cara agar pelaku bertanggung jawab.

Kejadian ini juga dikonfirmasi oleh Jaska Agung Ukraina.

Ia mengatakan 10 korban yang tewas berada di dekat toko sembako di Chernihiv.

Rusia Sebut Terjadi Perang Informasi

Pada Rabu (16/3/2022) sebuah gedung teater di Mariupol, Ukraina yang difungsikan sebagai tempat penampungan warga sipil hancur seusai dibombardir.

Pemerintah Ukraina menyebut serangan dilakukan oleh pesawat tempur Rusia.

Sementara itu pemerintah Rusia tegas membantah telah melakukan serangan ke gedung teater tersebut.

Baca juga: Beredar Video Warga Dibunuh saat Antre Beli Roti, Rusia Sebut Produk Propaganda Intelijen Ukraina

Baca juga: Rusia Bongkar Bukti Keterlibatan AS Dalam Lab Pengembangan Patogen Berbahaya di Ukraina

Dikutip TribunWOw.com dari Sky News, bantahan ini disampaikan oleh duta besar pemerintah Rusia untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Vasily Nebenzya.

"Perang informasi sedang terjadi dalam skala yang lebih besar dibanding perang fisik," ujar Nebenzya.

Menurut Nebenzya siapa yang memenangkan perang informasi maka akan memenangkan peran secara keseluruhan.

Nebenzya lalu menyampaikan berdasarkan keterangan para warga sipil yang telah lebih dulu mengungsi keluar dari Mariupol, ada keterlibatan batalion Azov yang menyandera para warga sipil.

Nebenzya juga mengungkit bahwa pemerintah Rusia telah menyadari ada tulisan 'anak-anak' di luar gedung teater di Mariupol.

Seluruh pasukan militer Rusia telah diberitahu bahwa gedung teater tersebut adalah tempat yang dipenuhi warga sipil.

"Tidak pernah dijadikan target serangan," kata Nebenzya.

Nebenzya menyebut, pihak yang harus bertanggungjawab dalam hal ini adalah kelompok ultra nasionalis Ukraina batalion Azov.

Keterangan serupa disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

"Jelas ini adalah kebohongan. Semuanya tahu bahwa pasukan militer Rusia tidak membombardir kota. Tidak peduli seberapa banyak video yang disebar oleh struktur NATO dan berapa banyak foto dan video klip bohong disebar, kebenaran akan terungkap," jelas Zakharova.(TribunWow.com/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVolodymyr ZelenskyVladimir Putin
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved