Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Inggris dan Aliansinya Tegaskan akan Terus Menekan Rusia: Putin Harus Gagal

PM Inggris Boris Johnson menyatakan bersama aliansinya akan terus membantu Ukraina dan menekan Rusia.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Eddie MULHOLLAND / POOL / AFP
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara selama konferensi pers virtual di dalam 10 Downing Street di pusat kota London pada 16 Oktober 2020. Terbaru, Boris menegaskan akan terus menekan Vladimir Putin terkait invasi Rusia ke Ukraina. 

TRIBUNWOW.COM - Inggris adalah satu dari beberapa negara di dunia yang mengecam aksi Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan invasi ke Ukraina.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyatakan akan terus memberikan tekanan kepada Rusia agar Putin merasakan konsekuensi menyerang Ukraina.

Dikutip dari Sky News, Boris pada Selasa (1/3/2022) ini dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Polandia, Mateusz Morawiecki di Warsaw.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan invasi ke Ukraina pada Kamis (24/2/2022).
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan invasi ke Ukraina pada Kamis (24/2/2022). (YouTube The Telegraph)

Baca juga: Kedutaan Ukraina Sempat Ajak Warga Israel Datang Ikut Perang Lawan Rusia

Baca juga: Rusia Siapkan Pasukan Bersenjata Nuklir, Inggris Soroti Perilaku Aneh Putin

Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas diplomasi dan langkah Inggris membantu finansial Eropa Timur.

Sesudah mengunjungi Polandia, Boris akan melakukan kunjungan ke Estonia untuk bertemu dengan Sekretaris NATO, Jens Stoltenberg dan para tentara Inggris yang ditempatkan di NATO.

Boris juga akan menemui Perdana Menteri Estonia, Kaja Kallas dan Presiden Alar Karis di Tallin untuk mendiskusikan isu keamanan dan stabilitas Eropa.

"Kita memiliki nilai yang sama untuk melindungi di saat kondisi kemanusiaan semakin memburuk," ujar Boris.

"Bersama aliansi internasional kami, Inggris akan terus memberikan tekanan maksimal kepada rezim Putin agar dia merasakan konsekuensi aksinya di Ukraina."

"Kami berbicara dengan satu suara ketika kita mengucapkan Putin harus gagal," tegas Boris.

Pada hari kelima invasi, tepatnya pada Senin (28/2/2022), pemerintah Rusia dan Ukraina sepakat bertemu untuk mendiskusikan akhir dari invasi yang dilakukan oleh sang Presiden Vladimir Putin.

Lantas seperti apa kondisi di Ukraina ketika diksusi damai berlangsung di Belarus?

Dikutip dari BBC.com, saat diskusi damai terjadi, intensitas serangan Rusia di Ukraina pada hari kelima justru semakin memanas.

Serangan misil Rusia membunuh puluhan warga sipil di Kharkiv.

Sementara itu sirine serangan udara di Ibu Kota Kiev/Kyiv kembali berbunyi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan Rusia di Kharkiv sebagai kejahatan perang.

Serangan juga terjadi di Kota Chernihiv, Ukraina.

Meskipun dihujani serangan oleh Rusia, pasukan militer Ukraina mengklaim berhasil mempertahankan Kharkiv, Kiev, dan Chernihiv dari gempuran pasukan Putin.

Di sisi lain, selama lima jam perwakilan Ukraina dan Rusia telah berdiskusi membicarakan operasi militer spesial yang dilakukan oleh Presiden Vladimir Putin.

Diskusi yang digelar pada Senin (28/2/2022) bertempat di Belarus.

Media asal Rusia yakni RT.com menjelaskan, Ukraina dan Rusia telah mencapai kesepakatan dalam sejumlah hal.

Diskusi antara kedua belah pihak diketahui akan dilanjutkan di lain kesempatan.

Topik diskusi yang dibicarakan pada Senin kemarin adalah gencatan senjata di Ukraina.

Penasihat Presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak menyebut sudah ada beberapa solusi yang disorot.

"Beberapa solusi tertentu telah digarisbawahi," jelas Podolyak.

Sementara itu Ajudan Presiden Putin, Vladimir Medinsky menyebut sudah ada beberapa poin yang dapat dipenuhi oleh kedua belah pihak.

Perwakilan dari Ukraina yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Ukraina, Alexey Reznikov telah meminta agar segera dilakukan gencatan senjata dan meminta Rusia menarik pasukan militernya.

Di sisi lain berdasarkan media Sky News yang berbasis di Inggris, diskusi antara Ukraina dan Rusia di Belarus berlangsung sulit karena pihak Rusia yang bias.

"Pihak Rusia sayangnya masih memiliki pandangan yang bias terkait proses destruktif yang mereka lakukan," terang Podolyak.

Media Rusia Beritakan Ukraina Ditinggal Sendirian

Sebelumnya pada Jumat (25/2/2022), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mencurahkan perasaannya yang merasa dibiarkan sendirian menghadapi Putin dan pasukan Rusia.

Diberitakan oleh media asal Rusia yakni Rusia Today (RT), Zelensky saat ini siap untuk mengambil posisi netral di antara NATO dan Rusia.

Baca juga: Ini Cara AS Serang Putin, Bekukan Aset 1 Triliun Dolar hingga Sengsarakan Keluarga Elite Rusia

Dituliskan bahwa Presiden Ukraina menyebut Kiev saat ini ditinggal sendirian untuk bertahan setelah NATO "takut" untuk memberikan jaminan kepada Ukraina.

Zelensky disebut mungkin membuka ruang untuk negosiasi bersama Rusia guna mengakhiri invasi pasukan Putin.

Namun sebelum bernegosiasi, Zelensky ingin agar pihaknya mendapat jaminan keamanan.

Berikut kutipan pidato terbaru Zelensky yang mencurahkan perasaannya kini merasa ditinggal sendirian.

"Saya bertanya kepada mereka (negara-negara barat) apakah kamu bersama kami?" ujar Zelensky.

"Mereka menjawab, mereka bersama kita namun mereka tidak mau menerima kita ke aliansi."

"Saya telah bertanya ke 27 pimpinan negara di Eropa apakah Ukraina akan bisa bergabung bersama NATO, saya tanya langsung ke mereka. Mereka semua takut dan tidak menjawab."

Sementara itu pada Kamis (24/2/2022), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sempat menyampaikan pidato yang berisi keinginannya berdamai dengan Rusia.

"Rakyat Ukraina dan pemerintah Ukraina menginginkan perdamaian,” katanya.

Kendati demikian, Zelensky juga menyatakan bahwa jika perdamaian tidak bisa terjadi, maka Ukraina akan melawan agresi Rusia.

"Tetapi jika kami diserang, jika kami menghadapi upaya untuk mengambil negara kami, kebebasan kami, kehidupan kami dan kehidupan anak-anak kami, kami akan membela diri."

"Ketika Anda menyerang kami, Anda akan melihat wajah kami, bukan punggung kami," ujarnya.

Menurut pengakuan Zelensky, dirinya sempat meminta telepon dengan Putin pada Rabu malam namun tidak ada respons.

Kini Ukraina telah memberlakukan keadaan darurat nasional yang mana pemerintah berwenang memberlakukan pembatasan pergerakan, memblokir demonstrasi dan melarang partai dan organisasi politik. 

Dalam pengumuman agresi ke Ukraina, Putin meminta agar para prajurit Ukraina menyerah dan pulang ke keluarga mereka masing-masing di rumah.

Putin juga memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka yang berani menganggu Rusia.

Ditayangkan dalam YouTube The Telegraph, Kamis (24/2/2022), Putin menyatakan akan ada konsekuensi besar jika ada yang berani menganggu Rusia.

Berikut pengumuman invasi yang disampaikan oleh Putin.

"Saya memutuskan untuk menjalankan sebuah operasi militer spesial," ujar Putin.

"Operasi ini bertujuan untuk melindungi orang-orang yang telah menjadi korban perundungan dan target genosida oleh rezim Kiev yang terjadi selama delapan tahun."

"Oleh karena itu, kami akan berjuang untuk melakukan demiliterisasi dan denazifikasi di Ukraina dan akan membawakan keadilan kepada mereka yang telah melakukan beragam kejahatan terhadap manusia, termasuk masyarakat Rusia."

"Kami meminta Anda untuk menanggalkan senjata dan segera pulang ke rumah."

"Saya akan jelaskan: seluruh prajurit dari militer Ukraina bebas untuk pergi meninggalkan area perang dan pulang ke keluarga mereka."

"Siapapun yang mencoba menghentikan Rusia dan mengancam negara dan masyarakat kami, Rusia akan segera merespons dan ada konsekuensi serius yang belum pernah Anda hadapi sepanjang sejarah."

"Kami siap untuk keadaan apapun," tegas Putin. (TribunWow.com/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVolodymyr ZelenskyVladimir PutinInggrisBoris JohnsonNATO
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved