Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Indonesia Ikut Terdampak Perang Rusia dan Ukraina, Berikut Sisi Positif dan Negatifnya

Ketegangan yang terjadi antara Ukraina dan Rusia, turut menimbulkan dampak langsung pada Indonesia.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
Dok. Sekretariat Kabinet
Presiden Jokowi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, di sela-sela KTT APEC, di Beijing, Senin (10/11/2015). Terbaru, konflik antara Rusia dan Ukraina diprediksi akan menimbulkan dampak langsung ke Indonesia. 

TRIBUNWOW.COM - Ketegangan yang terjadi antara Ukraina dan Rusia, turut menimbulkan dampak langsung pada Indonesia.

Terutama dari sisi ekonomi yang sangat dipengaruhi dari bidang ekspor-impor.

Meski begitu, sisi negatif timbul berdampingan dengan sisi positif sebagai efek samping konflik tersebut.

Seorang pria duduk di luar gedungnya yang hancur setelah pemboman di kota Chuguiv, Ukraina Timur, Kamis (24 Februari 2022).
Seorang pria duduk di luar gedungnya yang hancur setelah pemboman di kota Chuguiv, Ukraina Timur, Kamis (24 Februari 2022). (AFP/ARIS MESSINIS)

Baca juga: Jadi Target Nomor 1 Rusia, Berikut Profil Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Ternyata Mantan Aktor

Baca juga: Samakan Putin dengan Hitler, Ukraina Sindir Keras Serangan Militer Rusia: Ini Bukan Meme

Dilansir Kompas.com, Jumat (25/2/2022), Ukraina rupanya memiliki hubungan dagang yang erat dengan Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Ukraina menjadi pengimpor gandum utama ke Indonesia.

Pada tahun 2020 saja, impor gandum Ukraina ke Indonesia mencapai 2,96 juta ton.

Jumlah ini mengalahkan impor dari Argentina sebesar 2,63 juta ton dan Kanada 2,33 juta ton.

Secara keseluruhan, Ukraina memasok lebih darui 20 persen stok gandum ke Indonesia.

Selain gandum, Indonesia juga bergantung pada pasukan besi baja Ukraina.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, menyebutkan perang tersebut akan  mempengaruhi stok di pasaran.

"Ini dikhawatirkan akan mempengaruhi stok gandum dan produsen makanan di dalam negeri,” kata Bhima.

Disinyalir, perang ini akan meningkatkan inflasi sehingga harga kebutuhan pokok meninggi.

Selain terdampak dari Ukraina, Indonesia juga akan terkena dampak dari adanya embargo global pada Rusia.

Hal ini akan berpengaruh pada suplai minyak dan gas di tanah air.

Meski begitu, relasi ekspor-impor yang melibatkan Rusia maupun Rusia masih tergolong minim.

"Jadi dampak konflik ini secara langsung terhadap relasi perdagangan dan investasi di Indonesia tidak signfikan," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani.

“Hanya saja konflik ini akan mengganggu rencana Indonesia untuk melakukan kerja sama ekonomi lebih lanjut dengan Rusia dan Ukraina, karena kondisi konflik yang tidak kondusif."

Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), menyampaikan pernyataan senada.

Menurutnya, inflasi di Indoensia masih akan terkendali dan relatif terlindungi dari konflik tersebut.

Apalagi konflik Rusia dan Ukraina saat ini masih dalam batasan wilayah.

“Dibandingkan perang dunia kedua, ketegangan antara Rusia dengan Ukraina lebih terbatas dari segi wilayah, sehingga dampaknya diprediksi akan relatif terbatas. Biasanya, dampak terhadap pasar finansial akan lebih singkat dibandingkan dampak terhadap perekonomian,” ujar Katarina.

Justru Indonesia sebagai produsen komoditas ekspor akan diuntungkan dengaan kenaikan barang yang terjadi akibat embargo Rusia.

Apalagi ada sebagaian kesamaan komoditas yang dihasilkan Indonesia dan Rusia.

“Inflasi Indonesia yang masih relatif rendah, dan juga sebagai negara produsen dan eksportir energi, komoditas, dan logam terkemuka di dunia, Indonesia juga diuntungkan dari kenaikan harga produk-produk tersebut,” terang Katarina.

Baca juga: Rusia Serang Ukraina, Berikut Perbandingan Daftar Negara yang akan Dukung Masing-masing Pihak

Baca juga: Singgung Kemungkinan Perang Nuklir, Selebriti dan Tokoh Rusia Tolak Keras Invasi ke Ukraina

Prediksi Prabowo Jadi Kenyataan

Perhatian dunia internasional kini tengah tertuju kepada invasi yang dilakukan oleh Rusia ke Ukraina pada Kamis (24/2/2022).

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa agresi yang ia lakukan adalah operasi militer khusus yang bertujuan untuk melakukan demiliterisasi di Ukraina, bukan untuk menduduki wilayah.

Terjadinya konflik fisik ini mengingatkan kembali akan pesan dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat melakukan rapat perdana dengan Komisi I DPR RI pada akhir tahun 2019 silam.

Dalam rapat tersebut, Prabowo berpesan betapa pentingnya negara memiliki sistem pertahanan yang baik.

Prabowo juga mengutip sebuah pepatah kuno terkait peperangan yang menyatakan seseorang harus siap berperang jika mendambakan perdamaian.

Berikut penggalan pesan yang disampaikan Prabowo pada saat itu.

"Pelajaran ribuan tahun dari seorang ahli sejarah Vegetius Renatus dari Romawi mengatakan Si Vis Pacem Para Bellum," ujar Prabowo.

Diketahui pepatah itu memiliki arti "Jika kau menghendaki perdamaian bersiaplah untuk perang."

Prabowo kemudian melanjutkan pemaparannya tentang pentingnya memiliki sistem pertahanan yang baik.

"Hendaknya kita mengajak seluruh komponen yang terlibat untuk mari kita mulai meneruskan membangun sistem pertahanan yang baik dengan efisiensi anggaran dan efisiensi kerja," ujar dia.

"Salah satu pandangan kita adalah bahwa kalau tidak ada perdamaian, tidak mungkin ada stabilitas."

"Kalau tidak ada stabilitas, tidak mungkin ada pertumbuhan dan pembangunan ekonomi."

"Dan kalau tidak ada pembangunan ekonomi, tidak mungkin ada kemakmuran," pungkas Prabowo.

Juru bicara Prabowo, Dahnil Anzar pada unggahannya Kamis (24/2/2022) kemudian mengungkit bagaimana konflik Rusia dan Ukraina saat ini membuktikan kebenaran dari pesan Menhan Prabowo.

Dahnil lalu menyindir bagaimana kala itu ada sejumlah pengamat dan politisi yang meyakini bahwa perang yang terjadi di era sekarang ini hanyalah perang siber, bukan perang fisik.

Berikut caption lengkap yang ditulis oleh Dahnil:

"Si Vis Pacem Para Bellum.

Beberapa pengamat dan politisi ngotot bahwa tidak akan ada perang fisik di dunia saat ini dan di masa yang akan datang, jadi penguatan alutsista tak urgen, karena yang ada adalah perang siber bla...bla. Seolah mereka tak pernah belajar tentang teori realisme ketika membahas hubungan luar negeri, hari ini kita dikejutkan dengan perang antara Rusia vs Ukraina. Fakta bahwa perang konvensional kapan dan dimana pun bisa terjadi. Namun, Perdamaian adalah jalan terbaik, karena sejatinya tidak ada yang menang dalam sebuah peperangan." (TribunWow.com/ Via/ Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
IndonesiaKonflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr Zelensky
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved