Breaking News:

Terkini Daerah

Polda Jateng Ngomong ke Publik R Korban Rudapaksa di Boyolali Berbohong, IPW: Salahi Aturan

Pasalnya, pernyataan itu dibuat dalam masa penyelidikan dan masih bersifat dugaan. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
TribunSolo.com/Tri Widodo
R menunjukkan surat aduan pelanggaran etik oknum anggota Polres Boyolali, Senin (17/1/2022). R membantah pernyataan polisi yang mengatakan dirinya berbohong. (TribunSolo.com/Tri Widodo) 

TRIBUNWOW.COM - Indonesian Police Watch (IPW) menilai Polda Jawa Tengah (Jateng) menyalahi aturan atas pernyataan publik yang mengatakan R (28) korban/pelapor kasus rudapaksa di Boyolali, Jawa Tengah.

Bahkan, IPW meminta Propam untuk turun dalam perkara ini. 

"IPW mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menurunkan propam untuk memeriksa Kabidhumas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Iqbal Alqudusy atas kasus pemerkosaan korban R," kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso, Kamis (27/1/2022), dikutip dari Tribun Solo.

Baca juga: Setelah Kasatreskrim Dicopot, Kapolres Boyolali Kini Dimutasi, karena Dugaan Kasus Pelecehan Verbal?

Baca juga: Dituding Bohong, Warga Boyolali Juga Diteror Tiap Malam seusai Laporkan Kasus Rudapaksa ke Polisi

Pasalnya, pernyataan itu dibuat dalam masa penyelidikan dan masih bersifat dugaan. 

Atas hal itu, IPW, menilai bahwa Polda Jateng melalui humasnya sudah membocorkan BAP yang seharusnya menjadi konsumsi internal penyidik. 

Selain itu, pernyataan yang disampaikan Iqbal Alqudusy dinilai menguntungkan terlapor yang hingga kini keterangannya belum dimiliki Polda Jateng

Sebagai informasi, terakhir dikabarkan bahwa terlapor akan diperiksa pada Rabu (28/1/2022). 

"Sehingga dengan mencuatnya isi BAP sebagai sumber berita bisa mengganggu proses penyelidikan dan pengembangan kepada diduga pelaku tindak pidana," tambah Sugeng.

Ada empat hal yang kemudian menjadi sorotan IPW terkait kinerja Polda Jateng

"Pertama, keterangan dalam BAP dalam proses penyelidikan adalah informasi yang bersifat tertutup, terdapat kewajiban polisi menyimpan rahasia terkait dengan tugas dan jabatannya," terangnya.

Baca juga: Bantah Dituduh Bohong, R Korban Rudapaksa di Boyolali Ungkap Percakapannya dengan Terduga Pelaku

Sugeng tak menampik bahwa ketergan pers bisa memang menjadi kewenangan Polda Jateng

Namun, memberi keterangan pers di tengah masa penyelidikan seharusnya dilandasi kepentingan mendesak. 

Sedangkan dalam kasus ini, dia tidak melihat adanya kepentingan mendesak untuk membuat keterangan pers di saat kasusnya masih berjalan. 

Selain itu, dengan keluarnya kesimpulan penyidik ke publik, hal itu justru dianggap bisa membuat terlapor berkelit jika diperiksa nanti. 

"Yang keempat kasus laporan pemerkosaan korban R masih dalam pendalaman, yang mana ada saksi dan terlapor yang harus diperiksa," terangnya.

"Sehingga dengan adanya pernyataan pers ini seakan-akan Polda Jateng telah menyimpulkan bahwa perkara pemerkosaan korban R adalah tindak benar," tambahnya.

Terkait hak informasi, hal itu disebut seharusnya disampaikan kepada korban melalui SP2HP. 

Sedangkan dalam kasus ini, korban justru mengetahuinya melalui media. 

"Dengan begitu, IPW melihat adanya pelanggaran terhadap Peraturan Disiplin Polri dalam PP Nomor 3 tahun 2002 dan juga pelanggaran etika yang diatur dalam Perkap Nomor 14 tahun 2011," pungkasnya.

Sebagain informasi kasus ini bermula ketika R melaporkan dirinya menjadi korban rudapaksa pria yang ngaku polisi.

Kemudian, R melaporkan kasus tersebut kepada Polres Boyolali dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan. 

Perlakuan tidak menyenangkan itu diduga berkaitan dengan status R yang merupakan istri dari tersangka kasus bandar judi di Boyolali.

Karena perlakuan tak menyenangkan itu, Kasatrekrim Polres Boyolali yang saat itu dijabar oleh AKP Eko Marudin bahkan langsung dicopot oleh Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Lutfi.

Belakangan, R disebut polisi berbohong dan bermotif meringankan kasus suaminya. 

Pernyataan itu disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Iqbal Alqudusy saat rilis di Mapolda Jateng, Senin (24/1/2022). 

Dia menilai bahwa berdasar bukti CCTV dan keterangan lainnya, R bukan korban rudapaksa melainkan suka sama suka. 

"Penyidik Ditreskrimum mempunyai bukti rekaman cctv di hotel tempat R ngamar bersama GWS pasangannya. Penyidik juga mengantongi hasil visum dari tim dokter terkait laporan perkosaan tersebut," katanya.

"Motifnya dia ingin punya nilai tawar. Dia sengaja membuat laporan sedemikian rupa. Tujuannya, agar Polres Boyolali meringankan kasus suaminya yang ditangkap karena menjadi bandar judi," terang Kabidhumas.

Halaman
Sumber: Tribun Solo
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved