Breaking News:

Terkini Daerah

Teganya Pelaku Pelecehan di Pesantren Tasik, 5 Tahun Lakukan Aksinya dan Incar Santriwati yang Sakit

Hingga kini, diketahui ada sembilan korban dan ada dua orang yang sudah membuat laporan polisi. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto. Pihaknya menyebut pelaku pelecehan santriwati di Tasikmalaya, Jawa Barat sudah melakukan aksinya sejak lima tahun. 

Namun dirinya tidak berani menyimpulkan bahwa telah terjadi kesalahan sistem atau lemahnya pengawasan di pesantren tempat pelaku mengajar. 

Yang jelas, kini pihaknya tengah berkoordinasi untuk melakukan pengawasan di lembaga-lembaga pendidikan. 

"Sehingga ini adalah momentum untuk bersama-sama memperbaiki untuk anak-anak kita nyaman, tentram, dan merasa bahagian di pesantren," ungkapnya. 

Meski secara resmi baru membuat laporan polisi, pihaknya mengaku sudah hampir satu bulan ini melakukan pendampingan kepada korban.

Dari sembilan korban, baru dua korban yang kini berani melaporkan ke pihak polisi.

Dua korban yang berani itu, melapor sendiri dan menceritakan duduk perkaranya. 

"Sebetulnya kami sudah tiga pekan mendampingi para korban santriwati yang mengaku dicabuli oleh guru pesantrennya sendiri," katanya.

"Pertama, kita dampingi laporan korban pada hari Selasa (7/12/2021) dan kemarin Kamis (9/12/2021). Itu dari jumlah korban semua, baru dua korban yang berani lapor ke polisi," tambahnya. 

Istri Pelaku Panggil Korban

Pelaku diduga telah menyalahgunakan statusnya sebagai pengajar di pondok pesantren. 

Setelah tindakan pelaku diketahui, Ato pun menyampaikan bahwa ada upaya dari istri pelaku untuk menemui korban. 

Korban dipanggil tanpa pendampingan dan pertemuan itu disebut berdampak pada tekanan psikis terhadap korban.

"Beberapa hari yang lalu kami mendapat aduan juga dari anak-anak, menyampaikan bahwa telah dipanggil oleh istri dari terduga pelaku," katanya Ato Rinanto.

Dirinya mengaku tidak tahu persis apa kepentingan istri terduga itu memanggil para korban untuk bertemu tanpa pendampingan. 

Namun, pertemuan itu membuat korban kembali mengalami tekanan psikis. 

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Tags:
TasikmalayaPesantrenSantriwatiPelecehan SeksualPencabulan
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved