Terkini Internasional
China Peringatkan Kemungkinan Penularan Covid-19 dari Paket Belanja 11.11 menuju "Hari Lajang"
Pemerintah China peringatkan warga akan kemungkinan penularan Covid-19 dari paket yang dikirimkan menuju festival belanja online terbesar 11 November.
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM – Pihak berwenang China telah mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan penularan Covid-19 dari pengiriman paket saat festival belanja online tahunan terbesar 11.11, Rabu (10/11/2021).
Dilansir dari The Straits Time, peringatan tersebut menyusul laporan adanya tiga pekerja di sebuah perusahaan kecil, yang membuat pakaian anak-anak dinyatakan positif Covid-19.
Pemerintah China lantas memeriksa paket-paket dan memantau orang-orang yang mengantarkannya, setelah infeksi ditemukan di Haohui Ecommerce Co, Hebei.
Baca juga: Jurnalis China yang Ditahan karena Laporkan Covid-19 Mogok Makan, Keluarga Sebut Hampir Meninggal
Baca juga: Imbauan Pemerintah China Buat Bingung saat Pandemi, Warga Panic Buying Cari Biskuit hingga Kubis
Dalam pernyataan pemerintah, disebutkan layanan pengiriman paket dari dua kota yang terletak di provinsi Hebei, yaitu Xinji dan Jinzhou telah dihentikan.
Di sisi lain, pengiriman paket dari Shenze juga telah ditangguhkan.
Sekitar 300 paket telah diuji oleh pihak berwenang, dan keseluruhannya dinyatakan negatif.
Pemerintah juga sudah melakukan pengujian di sebuah daerah kecil di Guangxi, di mana 16 paket dikirimkan dari Haohui Ecommerce Co.
Komisi kesehatan setempat mengatakan siapa pun yang menyentuh paket dari perusahaan tersebut, harus menjalani tes Covid-19 dan berada di bawah pemantauan ketat.
Peringatan terbaru yang dikeluarkan oleh China tersebut, muncul ketika warga tengah mempersiapkan diri untuk berbelanja dalam festival belanja online terbesar di dunia, yang dikenal sebagai 11.11, Kamis (11/11/2021).
Festival itu disebut “Hari Lajang” di mana Alibaba Group Holding mengadakan pesta diskon besar-besaran.
Saat ini, China sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19 dan mencoba bertahan dengan pendekatan nol-Covid-nya, di tengah persebaran varian Delta yang lebih menular.
Komisi Kesehatan Nasional melaporkan 39 infeksi baru dan menjadikan jumlah total kasus dalam wabah saat ini di atas 1.000, Rabu (10/11/2021).
China sudah memberlakukan beberapa langkah untuk menahan persebaran virus, termasuk penutupan sekolah, tempat hiburan, hingga menguji sejumlah orang yang berada di tempat yang sama dengan seseorang yang ditemukan terinfeksi.
Beberapa warga mengeluh di media sosial, menyebut bahwa mereka terpaksa dikarantina di rumah, seusai menerima paket belanjaan.
Pihak berwenang China mengatakan paket dari luar negeri atau pun tempat-tempat domestik yang berisiko tinggi, harus disanitasi.
Bahkan untuk barang dari daerah berisiko rendah, penerima diimbau untuk memakai masker dan sarung tangan saat mengambil dan membongkar paket belanja.
China Panic Buying
Pemerintah China mengimbau masyarakat untuk menimbun makanan serta kebutuhan sehari-hari untuk keadaan darurat pada Senin (1/11/2021).
Saran tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan China yang juga meminta otoritas setempat untuk memastikan pasokan makanan yang memadai.
Tak ayal, hal tersebut memicu kebingungan yang signifikan hingga menimbulkan panic buying di sejumlah wilayah China.
Beberapa orang bergegas ke supermarket hingga terdapat antrean panjang di kasir, dikutip dari The Straits Time, Rabu (3/11/2021).
Media lokal melaporkan bahwa pesanan atas biskuit telah melonjak di platform e-commerce China, hingga menyebabkan beberapa toko kehabisan stok.
Baca juga: Kirim Meme Anjing Bertopi Polisi dalam Obrolan Grup, Pria di China Ditahan seusai Dianggap Menghina
Baca juga: Badan Intelijen AS Akui Ragu Bisa Identifikasi Asal-usul Covid-19, China Sebut Lelucon Politik
Situs web Taobao menunjukkan peningkatan permintaan beras, kecap, saus sambal hingga mi instan.
Penimbunan kubis dan tepung juga dilaporkan terjadi di Beijing.
Fenomena panic buying muncul setelah pemberitahuan Kementerian Perdagangan terkait pasokan makanan, hingga meminta masyarakat menimbun kebutuhan sehari-hari untuk musim dingin atau keadaan darurat pada awal pekan lalu.
Imbauan itu menimbulkan spekulasi di media sosial tentang apakah langkah itu terkait dengan meluasnya wabah Covid-19 yang diketahui kembali terjadi di China, soal musim dingin, atau bahkan dikaitkan dengan peningkatan ketegangan dengan Taiwan.
Daftar perlengkapan rumah tangga darurat yang direkomendasikan oleh provinsi Jiangsu pada Oktober lalu, juga beredar di media sosial.
Daftar itu termasuk mi instan, air minum kemasan, biskuit hingga daging.
“Kami ingin memastikan kami memiliki cukup makanan (pada musim dingin),” kata seorang wanita yang membeli beras di pusat Beijing, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (3/11/2021).
Antrean panjang terlihat di kios kubis supermarket, saat orang membeli persediaan sayuran untuk diolah agar bisa dikonsumsi selama beberapa bulan mendatang.
Namun, banyak penduduk yang juga mengatakan tidak perlu membeli makanan lebih dari biasanya.
“Tidak perlu. Di mana saya bisa menimbun sayuran di rumah? Saya mendapatkan cukup untuk kebutuhan sehari-hari saya,” kata seorang pembeli di supermarket.
Sementara warga lain berharap agar mereka tidak mengalami kekurangan stok makanan, terutama di wilayah ibu kota.
Di sisi lain, media pemerintah telah berusaha meyakinkan publik bahwa persediaan bahan pokok untuk saat ini mencukupi.
Lembaga penyiaran negara CCTV, melaporkan bahwa telah terjadi “penafsiran berlebihan” terkait saran dari kementerian, Selasa (2/11/2021).
“Saat ini, pasokan kebutuhan sehari-hari di berbagai tempat sudah mencukupi, dan pasokan harus dijamin sepenuhnya,” kata Direktur Departemen Promosi Konsumsi kementerian Perdagangan China, Zhu Xiaoliang.
Dalam pengumuman tersebut, tidak terdapat kejelasan terkait alasan di balik imbauan kepada warga untuk menimbun bahan makanan.
Menyusul pemberitahuan terbaru kementerian, wilayah Tianjin dan Wuhan telah menjual persediaan sayuan mereka untuk dijual dengan harga lebih rendah di supermarket.
Namun, fenomena panic buying masih tampak berlanjut hingga Rabu (3/11/2021).
Beberapa orang mengeluh di media sosial karena rak-rak di supermarket dalam keadaan kosong saat itu.
Sebagian besar disebabkan oleh wabah Covid-19 yang semakin berkembang.
China melaporkan jumlah tertinggi kasus baru Covid-19 yang ditransmisikan secara lokal dalam hampir tiga bulan pada Rabu (3/11/2021).
Angka itu termasuk sembilan infeksi baru di Beijing, yang memegang rekor harian terbesar tahun ini.
“Ada ketidakpastian tentang terjadinya wabah Covid-19. Begitu wabah terjadi, mata pencaharian masyarakat akan terpengaruh. Itu sebabnya orang menimbun persediaan musim dingin untuk menghindari dampak Covid-19,” kata seorang analis di AG Holdings Agricultural Consulting, Ma Wenfeng.
Pihak berwenang China biasanya menanggapi kasus Covid-19 dengan memberlakukan lockdown di wilayah terkait, serta membatasi pergerakan masuk dan keluar dari daerah yang terkena dampak. (TribunWow.com/Alma Dyani P)
Berita terkait China lain
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/1111-china-2.jpg)