Breaking News:

Virus Corona

Dianjurkan Konsumsi Secukupnya saat Isolasi Mandiri Covid-19, Ini 8 Efek Buruk Makan Gula Berlebih

Mengonsumsi gula berlebih disebut sebagai salah satu pemicu peradangan bagi tubuh. 

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Lailatun Niqmah
Kompas.com/Kristianto Purnomo
Ilustrasi Gula Pasir. Mengonsumsi gula berlebih disebut sebagai salah satu pemicu peradangan bagi tubuh.  

TRIBUNWOW.COM - Mengonsumsi gula berlebih disebut sebagai salah satu pemicu peradangan bagi tubuh. 

Itu kenapa pasien Covid-19 yang sedang isolasi mandiri tidak dianjurkan untuk mengonsumsi gula berlebih saat menjalani isolasi. 

Karena ketika terinfeksi Covid-19 sistem kekebalan di dalam tubuh sedang berjuang melawan infeksi yang juga bisa menyebabkan peradangan.

Baca juga: Pasien Covid-19 Sebaiknya Hindari Konsumsi Gula Berlebih saat Isolasi Mandiri, Begini Penjelasannya

Mengonsumsi gula berlebih juga tidak baik meski bagi orang yang sehat. 

Meski gula sebenarnya dibutuhkan tubuh sebagai energi. 

Tetapi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menganjurkan untuk membatasi asupan gula tambahan sebanyak 10 persen dari total energi (200 kkal) atau setara dengan 4 sendok makan gula per hati (54 gram/orang/hari).

Di masa pandemi Covid-19, mengonsumsi gula berlebih juga akan lebih mengkhawatirkan.

Melansir Healthline, mengonsumsi gula berlebih dikatakan sebagai penyebab utama obesitas dan banyak penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2. 

Kedua hal yang  diketahui bisa menyebabkan keparahan Covid-19

Berikut beberapa alasan mengapa makan terlalu banyak gula tidak dianjurkan:

1. Dapat Menyebabkan Kenaikan Berat Badan

Minuman manis dan gula tambahan telah diyakini sebagai penyebab peningkatan banyaknya orang yang mengalmi obesitas di Amerika.

Minuman manis seperti soda, jus, dan teh manis kalengan biasanya mengandung fruktosa, sejenis gula sederhana.

Mengkonsumsi fruktosa meningkatkan rasa lapar dan keinginan untuk makan lebih dari glukosa, jenis gula utama yang ditemukan dalam makanan bertepung.

Selain itu, konsumsi fruktosa yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi terhadap leptin, hormon penting yang mengatur rasa lapar dan memberi tahu tubuh Anda untuk berhenti makan.

Dengan kata lain, minuman manis membuat tubuh sulit menahan rasa lapar, membuatnya mudah untuk cepat mengonsumsi kalori cair dalam jumlah besar.

Hal ini yang dapat menyebabkan penambahan berat badan.

2. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Pola makan yang terbiasa mengonsumsi tinggi gula telah dikaitkan dengan peningkatan risiko banyak penyakit, termasuk penyakit jantung, penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia.

Bukti menunjukkan bahwa diet tinggi gula dapat menyebabkan obesitas, peradangan dan trigliserida tinggi, gula darah dan tingkat tekanan darah - semua faktor risiko penyakit jantung.

Selain itu, mengonsumsi terlalu banyak gula, terutama dari minuman yang dimaniskan dengan gula, telah dikaitkan dengan aterosklerosis, penyakit yang ditandai dengan penumpukan lemak yang menyumbat arteri.

3. Sebabkan Jerawat

Makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti permen olahan, meningkatkan gula darah lebih cepat daripada makanan dengan indeks glikemik lebih rendah.

Makanan manis dengan cepat meningkatkan kadar gula darah dan insulin, menyebabkan peningkatan sekresi androgen, produksi minyak, dan peradangan, yang semuanya berperan dalam perkembangan jerawat.

Terdapat juga penelitian yang telah menunjukkan bahwa diet rendah glikemik dikaitkan dengan penurunan risiko jerawat, sedangkan diet tinggi glikemik dikaitkan dengan risiko yang lebih besar.

4. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Meskipun konsumsi tinggi gula bukan menjadi satu-satunya faktor, tetapi tetap ada hubungan yang jelas antara konsumsi gula yang berlebihan dan risiko diabetes.

Obesitas, yang sering disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi gula, dianggap sebagai faktor risiko terkuat untuk diabetes.

Terlebih, konsumsi gula tinggi yang berkepanjangan mendorong resistensi terhadap insulin, hormon yang diproduksi oleh pankreas yang mengatur kadar gula darah.

Resistensi insulin menyebabkan kadar gula darah meningkat dan sangat meningkatkan risiko diabetes.

5. Meningkatkan Risiko Kanker

Ada beberapa jenis kanker yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebihan.

Pertama, diet yang kaya akan makanan dan minuman manis dapat menyebabkan obesitas, yang secara signifikan meningkatkan risiko kanker.

Selain itu, diet tinggi gula meningkatkan peradangan di tubuh Anda dan dapat menyebabkan resistensi insulin, yang keduanya meningkatkan risiko kanker.

6. Meningkatkan Risiko Depresi Anda

Seperti diketahui memiliki pola makan sehat bisa menurunkan faktor depresei dan meningkatkan rasa senang.

Sedangkan pola makan tinggi gula tambahan dan makanan olahan dapat meningkatkan peluang terkena depresi.

Mengkonsumsi banyak makanan olahan, termasuk produk gula tinggi seperti kue dan minuman manis, telah dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih tinggi.

Para peneliti percaya bahwa perubahan gula darah, disregulasi neurotransmiter, dan peradangan mungkin menjadi alasan dampak gula yang merugikan pada kesehatan mental.

7. Dapat Mempercepat Proses Penuaan Kulit

Konsumsi gula berlebihan berhubungan dengan meningkatnya kerutan yang merupakan tanda alami penuaan. 

Produk akhir glikasi lanjutan (AGEs) adalah senyawa yang dibentuk oleh reaksi antara gula dan protein dalam tubuh.

Mereka diduga memainkan peran kunci dalam penuaan kulit.

Mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan dan gula menyebabkan produksi AGEs, yang dapat menyebabkan kulit. menua sebelum waktunya.

AGEs merusak kolagen dan elastin, yaitu protein yang membantu meregangkan kulit dan menjaga penampilan awet muda.

Ketika kolagen dan elastin menjadi rusak, kulit kehilangan kekencangannya dan mulai melorot.

8. Bisa Menguras Energi

Makanan tinggi gula tambahan dengan cepat meningkatkan kadar gula darah dan insulin, yang mengarah pada peningkatan energi.

Namun, kenaikan tingkat energi ini cepat berlalu.

Produk yang sarat dengan gula tetapi kurang protein, serat atau lemak menyebabkan peningkatan energi singkat yang dengan cepat diikuti oleh penurunan tajam gula darah, sering disebut sebagai crash.

Memiliki perubahan gula darah yang konstan dapat menyebabkan fluktuasi besar dalam tingkat energi.

Untuk menghindari siklus yang menguras energi ini, pilih sumber karbohidrat yang rendah gula tambahan dan kaya serat. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)

Baca Artikel Terkait Isolasi Mandiri Lainnya

Tags:
Virus CoronaCovid-19isolasi mandiri
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved