Virus Corona
Pilu Gifari Bocah di Sukoharjo yang 2 Orangtuanya Wafat karena Covid, Ibunya Sempat Pindah RS 5 Kali
Bibi Gifari, Eni Setyowati, menceritakan kepiluan keponakannya yang jadi yatim piatu karena ayah, ibu, dan kakek meningal akibat Covid-19.
Penulis: Rilo Pambudi
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Kisah pilu akibat Covid-19 juga dirasakan bocah 8 tahun asal Sukoharjo bernama Ashar Al Gifari Putra Setiawan.
Gifari bocah yang tinggal di Jalan Nias RT 01 RW 003 Sukoharjo Kota, Jawa Tengah, harus menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal dunia akibat Covid-19.
Dilansir TribunWow.com, bocah yang baru duduk di bangku kelas 2 SD itu kini tinggal bersama bibinya, Eni Sulistiyowati.

Baca juga: Detik-detik Arga Bocah Yatim Piatu di Kaltim Azan di Makam Ibunya, Suaranya Bergetar Menahan Tangis
Eni menceritakan bagaimana adik iparnya, ibu Gifari yang bernama Haryati (37) berjuang keganasan virus Corona.
Wanita paruh baya itu menangis mengisahkan bagaimana ibu Gifari harus berpindah-pindah rumah sakit karena kehabisan oksigen.
Dirinya mengira bahwa ibu Gifari semula hanya masuk angin biasa.
"Kirain cuma masuk angin biasa, terus semakin ke sini semakin ngedrop. Saya bawa ke RS PKU," kata Eni dikutip dari KompasTV, Rabu (27/7/20210.
"Karena PKU sudah tidak ada oksigen, disuruh ke RSUD Sukoharjo, di RSUD saturasinya cuma 44, terus disuruh ke Solo," sambungnya.
Setelah dua rumah sakit di Sukoharjo tidak bisa menangani, ibu Gifari lalu dilarikan ke Kota Solo.
Namun, dua rumah sakit di Kota Solo juga tidak bisa mengatasi kondisi yang dialami ibu Gifari.
Baca juga: Sosok Bocah yang Azan di Makam Ibunya Dihubungi Jokowi Lewat Video Call, Bercita-cita Jadi Polisi
Baca juga: Kisah Gifari Bocah Yatim Piatu di Sukoharjo, Ayah, Ibu, dan Kakeknya Meninggal Dunia karena Covid-19
Setelah dua rumah sakit swasta di Solo juga tidak menangani, Haryati akhirnya bisa mendapatkan perawatan di RSUD dr. Moewardi Surakarta.
"Kita ke RS Indriati oksigennya juga kosong. Karena penanganannya harus pakai oksigen dulu, saya langsung ke RS dr. Oen, dari sana langsung disuruh ke RSUD dr. Moewardi," kata Eni.
Namun, nyawa Haryati tak tertolong karena saturasi oksigennya tidak memungkinkan dan wafat pada 21 Juli 2021.
"Cuman karena saturasinya rendah, susah. Dokternya bilang cuma bisa sampai 50 tidak bisa dipaksakan," kata Eni.
"Dipakaikan selang sudah tidak mau karena sakit sekali, saya tahu sakit untuk napas susah," ujarnya menangis sesak.