Terkini Daerah
Jualan Cilok Bisa Punya 3 Apartemen dan 13 Rumah Kontrakan, Harsono Ungkap Cara dan Rahasianya
Seorang penjual cilok di Jember, Jawa Timur, Harsono mengungkapkan kisah perjuangannya berjualan hingga sukses.
Editor: Lailatun Niqmah
“Akhirnya uang muka itu dibelikan becak,” ucap dia.
Baca juga: Kisah Pasutri di Ogan Ilir yang Tinggal di Kandang dengan Ayam selama 7 Tahun: Cukup untuk Makan
Penghasilan dari becak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selanjutnya, dia dia juga sebagai honorer petugas kebersihan Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya Jember.
Ide awal berjualan cilok dari dari ayahnya yang juga berjualan cilok di Bali saat itu.
Sementara di Jember, masih belum ada cilok yang bahannya terbuat dari daging, yang ada hanya dari tepung.
Akhirnya, Harsono menangkap peluang itu dan mulai berjualan cilok.
Ketika ayahnya pulang dari Bali tahun 1997, dia bersama istrinya menirukan bisnis bapaknya, yakni menjual cilok dari bahan daging sapi dicampur tepung.
“Modal awal dulu paling hanya Rp 20.000,” ungkap dia.
Uang itu untuk membeli daging lalu diolah oleh istrinya menjadi cilok. K
emudian, Harsono memasarkan cilok ke berbagai tempat.
Harsono berangkat pukul 06.30 WIB untuk berjualan cilok secara keliling.
Terutama di sejumlah sekolah yang ada di Kecamatan Sumbersari hingga Kecamatan Kaliwates.
“Berangkat pagi, pulangnya habis isya’,” aku dia.
Pertama kali berjualan, cilok tidak terjual habis. Bahkan, ketika menjual ke sekolah, wali murid tidak memperbolehkan anaknya membeli cilok karena merupakan jenis makanan baru.
Semangat Harsono mulai berkurang karena penghasilan tak sesuai dengan harapan.