Breaking News:

Kabar Tokoh

Sosok Didi, Mantan Manager Termuda BUMN yang Rela Tinggalkan Profesinya untuk Jadi Peternak Kambing

Didi mantan Manager termuda BUMN tinggalkan jabatan demi jadi peternak kambing perah di Dusun Kemiri, Desa Girikerto, Sleman, DIY

Capture YouTube CapCapung
Didi mantan Manager BUMN saat memberikan makan kambing ternaknya, Sabtu (22/5/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Didi yang berprofesi sebagai peternak kambing perah di Dusun Kemiri, Desa Girikerto, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bercerita soal pengalaman kerjanya.

Sebelum bekerja sebagai peternak kambing perah, Didi merupakan manager termuda di sebuah perusahaan BUMN.

Namun, ia memilih resign dari pekerjaannya yang sudah mapan tersebut untuk menjadi seorang peternak kambing perah.

Baca juga: Bolehkah Konsumsi Susu Kambing untuk Bayi? Simak Batasan Umur yang Dianjurkan Dokter Anak

Didi mantan Manager BUMN, saat menjelaskan kambing ternak pertamanya berhasil melahirkan, Sabtu (22/5/2021)
Didi mantan Manager BUMN, saat menjelaskan kambing ternak pertamanya berhasil melahirkan, Sabtu (22/5/2021) (Capture YouTube CapCapung)

Dilansir TribunWoW.com dari kanal YouTube CapCapung, Sabtu (22/5/2021), saat menjabat jadi manager termuda BUMN, Didi memiliki penghasilan yang cukup menjanjikan.

Lalu ia resign untuk mendirikan peternakan kambing perah bersama kakaknya.

Didi menjelaskan, hal yang ia rasakan saat menjadi peternak adalah rasa bahagia, rasa syukur, dan rasa merdeka atas hidupnya. 

“Saya ingin mengikuti Sunatullah, karena merupakan profesi nabi-nabi,” ujar Didi.

Baca juga: Keluarga Ian Saputra, Pria yang Dibunuh saat Pamit Beli Kambing Buka Suara: Apa Salah Ian?

Untuk menjalani profesinya, Didi menjelaskan tidak semata-mata untuk mencari kejayaan atau harta yang berlimpah, tapi juga mencari keberkahan seperti keberkahan untuk keluarga, keberkahan lingkungan, dan keberkahan teman-teman yang bekerja padanya.

Dari pengalaman spiritual Didi, ketika kambing pertamanya melahirkan ia bisa mencintai profesinya, dan dari situ ia memutuskan untuk menjadi peternak briding.

“Pada tahun 2012, kami memulai dengan 70 ekor kambing Jawa Randu dan 1 ekor pejantan Sanen. Hari ini populasi kami 732 ekor, dengan 98% genetic Sapera atau Sanen Peranakan Etawa,” pungkasnya.

Mendirikan peternakan kambing perah tidaklah mudah, karena awalnya Didi memiliki masalah besar.

Baca juga: Belasan Kambing di Bondowoso Alami Luka Misterius, Bagian Kaki Terluka Parah, Ini Kata Kades Sempol

Di mana keterbatasan ilmu dan keterampilan yang ia miliki, namun Didi melakukan pembelajaran secara otodidak.

Dalam pembelajaran secara otodidak, Didi harus merogoh biaya yang mahal. Karena, pada saat pembelajaran otodidak ia harus kehilangan 30 ekor kambing, dikarenakan ketidak pahamannya.

“Kami harus kehilangan banyak ternak yang disebabkan ketidak ngertian kami. Dari 70 ekor itu dalam sebulan mati hamper 30 ekor, jika satu 600 ribu, maka saya kehilangan aset 18 juta,”

Dalam usaha peternakan, Didi menuturkan ada 4 menu khusus dalam menjalankan usaha peternakan, pertama SDM, kedua menu 4 sehat 5 sempurna bagi hewan peternak, ketiga sistem perawatan, dan yang keempat adalah cashflow.

Di akhir cerita, apabila ada yang ingin belajar peternakan kambing perah dapat mengunjungi situs www.bhuminararya.com.

Lihat videonya:

(TribunWow.com)

Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved