Pemerintah Larang Mudik
Penyekatan di Kabupaten Bekasi, Cibitung, hingga Kedung Waringin Macet Total Dipadati Pemudik
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya membuat 14 titik penyekatan larangan mudik yang ada di sekitar wilayah Jabodetabek.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya membuat 14 titik penyekatan larangan mudik yang ada di sekitar wilayah Jabodetabek.
Penyekatan dilakukan sejak Rabu (5/5/2021) lalu sebelum penetapan larangan mudik pada 6-17 Mei 202) sesuai anjuran pemerintah.
Sejumlah titik di Kabupaten Bekasi termasuk di sekat, yaitu pada titik Kedung Waringin, Cubeet, Gerbang Tol Tambun, Gerbang Tol Cibitung, Gerbang Tol Cikarang Pusat, dan Gerbang Tol Cibatu.

Baca juga: Ikuti Anjuran Pemerintah, Dua Pemain Persib Bandung Ini Pilih Tak Mudik, Bagaimana Menyikapinya?
Baca juga: 6 Tahun Tak Pulang Kampung, Wanita Ini Nekat Mudik dan Pilih Dipenjara daripada Putar Balik
Dalam rilis foto yang diterima TribunWow.com, terlihat kepadatan di titik penyekatan Gerbang Tol Cibitung.
Pemudik rata-rata menggunakan sepeda motor.
Mereka menghabiskan seluruh badan jalan sampai sepanjang beberapa ratus meter.
Terlihat ada sebuah mobil terjebak di antara para pemudik tersebut.
Kepadatan yang serupa terjadi di Kedung Waringin pada Senin malam, seperti yang tampak dalam pantauan di kanal YouTube Kompas TV, Selasa (12/5/2021).
Para pemudik berusaha menerobos pos penyekatan.
Akibatnya jalur lalu lintas di Kabupaten Bekasi arah Karawang sempat terkunci.
Terdengar suara riuh ribuan pengendara sepeda motor saling membunyikan klakson.
Mereka hendak melawan arah untuk menerobos pos penyekatan dengan pemudik yang sudah diputar balik petugas.
Akibatnya kedua arah jalan terkunci selama 30 menit dan menyebabkan kemacetan sepanjang 2 kilometer.
Baca juga: Fakta Video Rombongan Mobil Presiden Jokowi yang Disebut Mudik, Ternyata Kunjungan Kerja ke Jatim
Diketahui lebih dari 1.200 pemudik diputar balik di sekat Kedung Waringin.
Di titik sekat pemudik mengantri hingga 300 meter.
Petugas gabungan menjaga di dua sisi penyekatan.
Selain itu, petugas juga melakukan tes swab secara acak.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyayangkan warga nekat menerobos penyekatan jalur mudik.
Padahal penyekatan dilakukan agar masyarakat membatalkan niat mudik.
"Saya sangat menyayangkan masyarakat yang nekat menerobos penyekatan yang dilakukan oleh pihak kepolisian," kata Wiku, dikutip dari Kompas.com, Selasa (11/5/2021).
Ia menyebut seharusnya masyarakat mematuhi anjuran yang ditetapkan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19.
"Saya meminta agar masyarakat tidak melakukan kegiatan yang melanggar kebijakan ini dan berpotensi mendapatkan konsekuensi hukum."
"Patuhi kebijakan ini untuk kebaikan bersama dalam mencegah terjadinya penularan Covid 19," imbaunya.
Ganjar Pranowo Jawab Komentar Pedas Netizen soal Larangan Mudik
Masyarakat Indonesia belakangan ini ramai mengeluhkan adanya peraturan larangan mudik karena pandemi Covid-19.
Bentuk keluhan tersebut satu di antaranya dituangkan lewat komentar-komentar di media sosial (medsos).
Lewat akun YouTube-nya @Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menanggapi soal keluhan warganet terhadap larangan mudik.
Baca juga: Pemudik Nekat Sembunyi di Dalam Mobil Boks bersama Motor, Terbongkar saat Kain Tiba-tiba Bergerak
Awalnya, ia mengungkit soal keluhan yang berkembang di masyarakat seputar larangan mudik.
Yakni komentar warganet yang membandingkan larangan mudik yang berbanding terbalik dengan dibukanya tempat wisata dan pusat perbelanjaan.
"Ada juga teman Anda yang Masha Allah galaknya minta ampun," kata Ganjar.
"Kalau nulis komentar di medsos, 'Peraturan apa itu?'," ungkapnya membacakan komentar warganet.

"'Kalau yang dikhawatirkan dan penularan, lha kenapa tempat wisata dibuka? Kenapa sekolah, kantor, pasar, mal, swalayan, tempat wisata semuanya dibuka? Itu malah jelas-jelas sangat membahayakan dan sumber penularan, masak yang dilarang kok cuma mudik'," ucap Ganjar membacakan komentar warganet.
"Begitulah kalau teman Anda itu menggerutu dan cenderung misuh," ungkap gubernur yang khas dengan rambut putihnya itu.
Ganjar lalu mengutip sejumlah makian yang kerap dipakai oleh warganet.
"Ono sing ngomong (ada yang ngomong) mbelgedes, kampret, cebong," ujarnya sambil tertawa.
Ganjar kemudian menegaskan bahwa mudik tidak dilarang dengan syarat tertentu.
"Jadi begini, yang melarang mudik itu siapa? Mudik itu boleh silahkan," kata dia.
"Tapi mudiknya virtual saja," lanjutnya.
Ganjar lalu mengungkit bagaimana masa awal pandemi begitu banyak pasien Covid-19, tenaga medis bekerja keras, hingga tukang gali kubur tak henti-henti bekerja.
Ia mengingatkan betapa bahayanya orang yang berpotensi terpapar Covid-19.
"Kita ini sangat berpotensi jadi penyebab kematian, satu, dua, puluhan, bahkan ratusan nyawa," kata Ganjar.
Terakhir Ganjar menegaskan bahwa keselamtan nyawa manusia lebih penting di atas tradisi dan sebagainya. (TribunWow.com/Brigitta/Anung)
Baca berita lainnya terkait mudik