Breaking News:

Isu Kudeta Partai Demokrat

Soal Kisruh Demokrat, Rocky Gerung Soroti Kedekatan Moeldoko dan Jokowi: Jempol Kanan Presiden

Rocky Gerung meyakini Kepala KSP, Moeldoko, sudah punya pertimbangan sebelum menerima jabatan ketua umum Partai Demokrat versi KLB.

Capture YouTube Kaffah Channel
Rocky Gerung bicara soal kisruh dalam Partai Demokrat. 

TRIBUNWOW.COM - Pengamat politik Rocky Gerung meyakini Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko, sudah punya pertimbangan sebelum menerima jabatan Ketua Umum Partai Demokrat di Kongres Luar Biasa (KLB), Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara.

Dilansir TribunWow.com, Rocky menyebut Moeldoko tak mungkin berani mengambil langkah tersebut jika berpeluang mengancam posisinya di pemerintahan.

Karena itu, ia pun menyinggung restu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pidato Perdana Moeldoko Usai Terpilih Jadi Ketum Demokrat Versi KLB Deli Serdang, Jumat (5/3/2021).
Pidato Perdana Moeldoko Usai Terpilih Jadi Ketum Demokrat Versi KLB Deli Serdang, Jumat (5/3/2021). (YouTube Kompastv)

Baca juga: Sebut Moeldoko Layak Dipecat jika Lakukan Manuver Tak Seizin Jokowi, Din Syamsuddin: Merusak Citra

Baca juga: KTA Partai Demokrat Moeldoko Dipertanyakan, Max Sopacua Samakan dengan Milik AHY pada 2016

Seperti yang diungkapkannya dalam kanal YouTube Rocky Gerung Official, Senin (8/3/2021).

Mulanya, Rocky menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM (Menko Polhukam), Mahfud MD.

"Saya kira spekulasi terhadap ucapan Mahfud MD masih terus berlangsung," jelas Rocky.

"Karena ini rahasia Istana yang mungkin baru bisa kita bongkar beberapa minggu ke depan setelah kasus ini diperlihatkan."

"Tapi publik tidak percaya kalau Pak Mahfud enggak tahu bahwa Pak Moeldoko melakukan hal yang sangat mungkin direstui presiden," sambungnya.

Rocky lantas menyinggung jabatan Moeldoko di KSP.

Baca juga: Soal Kisruh Demokrat, Din Syamsuddin Sebut Moeldoko Layak Dipecat dari KSP, Singgung Citra Jokowi

Baca juga: Mantan Ketua MK Beberkan 2 Cara jika Pemerintah Ingin Pastikan Sikap Netral soal Kudeta Demokrat

Menurut dia, Jokowi mungkin memberi restu bagi Moeldoko untuk mendongkel posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Kan ini orang dekat presiden, agak ajaib sebetulnya dalam sistem pemerintah presidensial," kata Moeldoko.

"Pejabat presiden paling dekat, bisa disebut orang kedua dalam administrasi."

"Pak Ma'ruf Amin orang kedua dalam sistem kenegaraan."

"Tapi dalam aktivitas sehari-hari, KSP itu tangan kanan, bahkan jempol kanan presiden," sambungnya.

Karena itu, Rocky menduga keterlibatan pemerintah.

Selain itu, Rocky juga yakin Moeldoko sudah punya pertimbangan matang sebelum menerima jabatan ketua umum Partai Demokrat.

"Masa presiden menganggap hal ini biasa saja?"

"Jadi ada komplotan yang berupaya memastikan bahwa peristiwa di Sibolangit harus disempurnakan."

"Pak Moeldoko pasti sudah dapat keyakinan bahwa Departemen Hukum dan HAM akan melegalisir keputusan di Sibolangit," tandasnya.

Simak videonya berikut ini mulai menit ke-3.16:

Pengakuan Gatot Nurmantyo

Di sisi lain, sebelumnya, Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Gatot Nurmantyo mengaku pernah didatangi seseorang untuk mendongkel posisi Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dilansir TribunWow.com, hal itu diungkapkan Gatot dalam kanal YouTube Bang Arief yang diunggah Sabtu (6/3/2021).

Meski menyebut tawaran tersebut menarik, Gatot mengaku enggan membalas jasa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) padanya dengan mendongkel posisi AHY.

Baca juga: Jokowi Diminta Turun Tangan soal Kisruh Demokrat, Mahfud MD Ungkit Era SBY: Juga Tak Lakukan Apa-apa

Baca juga: Hasil KLB Demokrat yang Tunjuk Moeldoko Jadi Ketum Bisa Mendapatkan SK Sah jika Penuhi Syarat Ini

"Datang, 'Wah, menarik juga'. Saya bilang, gimana prosesnya? 'Begini Pak, nanti kita bikin KLB. KLB terus gimana? Ya nanti visi yang dilakukan adalah kita mengganti AHY dulu'," cerita Gatot.

"'Mosi tidak percaya, AHY turun. Setelah turun, baru pemilihan'."

"'Bapak nanti pasti deh begini, begini'. Oh begitu ya, saya bilang begitu gitu."

Saat mendapat tawaran itu, Gatot langsung teringat jasa SBY dalam karier kemiliterannya.

Karena itu, Gatot tanpa berpikir panjang menolak tawaran tersebut.

"Saya bilang menurunkan AHY, saya bilang gini lho, 'Saya ini bisa naik bintang satu, bintang dua, taruh lah itu biasalah'," ujar Gatot.

"'Tapi kalau begitu saya naik bintang tiga itu Presiden pasti tahu kan gitu. Kemudian jabatan Pangkostrad, pasti Presiden tahu."

"Apalagi Presidennya tentara waktu itu Pak SBY ya kan. Tidak sembarangan gitu," tambahnya.

Baca juga: Minta AHY Segera Kumpulkan DPD dan DPC, Pengamat: Masyarakat Masih Melihat Demokrat adalah SBY

Baca juga: Elus Dada saat Sebut Nama Moeldoko, SBY Mengaku Malu dan Bersalah Pernah Berikan Jabatan

Gatot lantas menceritakan pesan SBY padanya dulu.

Kala itu, Gatot pun langsung berjanji akan bertanggungjawab atas jabatan yang diberi SBY.

"Bahkan saya Pangkostrad dipanggil 'Kamu akan dijadikan kapala staf angkatan darat'," kata Gatot.

"Saya terima kasih atas penghargaan ini dan akan saya pertanggungjawabkan."

"'Cintai prajuritmu dan keluarga dengan segenap hati dan pikiran'."

"Beliau tidak titip apa-apa, tidak pesan lainnya lagi," imbunya.

Karena itulah, Gatot tak mau membalas jasa SBY dengan pendongkelan jabatan AHY.

"Maksud saya, apakah iya saya dibesarkan oleh Beliau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan satu lagi Pak Jokowi."

"Terus saya membalasnya dengan mencongkel anaknya?," tandasnya. (TribunWow.com)

Tags:
Rocky GerungMoeldokoJokowiPartai DemokratKongres Luar Biasa (KLB)DeliserdangAgus Harimurti Yudhoyono (AHY)Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)Mahfud MD
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved