Breaking News:

Terkini Nasional

Kutip Curhatan Netizen, Susi Sebut Publik Tak Nilai Pemerintah Anti Kritik: Karena Buzzer-nya

Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti menilai, masyarakat kini resah akan keberadaan buzzer atau pendengung di media sosial.

Youtube metrotvnews
Diskusi Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti dengan Menko Polhukam Mahfud MD terkait buzzer dan kritik, di acara Susi Cek Ombak, Rabu (24/2/2021) malam. 

TRIBUNWOW.COM - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti beranggapan, publik saat ini tidak menilai pemerintah anti kritik.

Susi mengatakan, yang menjadi masalah saat ini adalah keberadaan para buzzer atau pendengung yang menyerang warganet ketika berpendapat.

Hal ini disampaikan oleh Susi ketika berbincang bersama Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam acara Susi Cek Ombak metrotvnews, Rabu (24/2/2021) malam.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan dialog dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, dalam acara Susi Cek Ombak, Rabu (24/2/2021).
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan dialog dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, dalam acara Susi Cek Ombak, Rabu (24/2/2021). (youtube metrotvnews)

Baca juga: Mahfud MD Setuju Survei Masyarakat Kian Takut Berpendapat: Karena Antar Masyarakat Saling Serang

"Sebetulnya kita tidak menuduh pemerintah anti kritik," kata Susi.

Susi lalu menjelaskan analisanya berdasarkan curhatan para netizen yang ia baca di media sosial.

Wanita pemilik maskapai penerbangan Susi Air itu menyoroti keberadaan buzzer yang dianggap menjadi sumber permasalahan.

"Itu yang dianggap pemerintah menjadi anti kritik, padahal mungkin tidak," kata Susi.

"Tapi karena buzzer-nya dikerahkan."

Susi menyayangkan keberadaan buzzer yang selalu menyerang orang berpendapat dengan balasan yang tak selalu berhubungan dengan apa yang diperdebatkan.

"Setiap kali ada masukan langsung di-counter (ditepis), counter-nya juga seringkali nilai estetika dan kontennya itu tidak nyambung," kata dia.

"Kita juga maklum buzzer-buzzer itu background-nya juga beragam."

"Akhirnya kualitas itu menjadi downgrade (menurun)," sambungnya.

Susi menyimpulkan, keberadaan buzzer tersebut dirasakan oleh publik sebagai sikap pemerintah yang tidak bersedia dikritisi.

"Mungkin itu dirasakan oleh banyak masyarakat bahwa pemerintah tidak membuka ruang untuk berpendapat," pungkasnya.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved