Vaksin Covid
Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Tuai Sorotan Media Asing, Bakal Rugi Besar jika Sinovac Tak Ampuh
Perjanjian transaksi vaksin Covid-19 antara Indonesia dan China menuai sorotan media asing.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Perjanjian transaksi vaksin Covid-19 antara Indonesia dan China menuai sorotan media asing.
Dilansir TribunWow.com, media Channel News Asia (CNA) menyebut Indonesia sedang menghadapi pertaruhan tinggi terkait upaya diplomasi dengan China demi mengadakan vaksinasi.
Melalui transaksi vaksin tersebut, hubungan diplomasi antara Jakarta dengan Beijing makin menguat.

Baca juga: Tak Rasakan Apapun Seusai Divaksin Covid-19, Nakes Lansia Ceritakan Proses Screening
Program vaksinasi di Indonesia disebut akan memiliki konsekuensi terhadap krisis kesehatan dan ekonomi.
Diketahui Indonesia menempati posisi tertinggi jumlah kasus aktif Covid-19 di Asia Tenggara, dengan lebih dari 1,1 juta pasien dan angka kematian mencapai lebih dari 30 ribu nyawa.
Di sisi lain, bagi China, penyediaan vaksin akan berpengaruh terhadap reputasi global negaranya.
Indonesia merupakan importir utama vaksin buatan China dari perusahaan Sinovac dan Sinopharm.
Total Sinovac mengirimkan 50 juta dosis dari Sinovac dan 60 juta dosis dari Sinopharm.
Anggaran yang digelontorkan mencapai Rp637,3 milyar untuk mengimpor vaksin dari China.
Ditambah lagi Rp277,5 milyar untuk membeli jarum suntik, kotak pengaman, alkohol usap, serta Rp190 milyar lagi untuk kotak penyimpan vaksin.
Dana itu telah disalurkan untuk program vaksinasi, padahal pihak Sinovac belum mengumumkan hasil uji klinis tahap akhir di Indonesia.
Mulanya diharapkan hasil uji klinis tersebut dapat keluar pada pertengahan Januari 2021, tetapi sampai saat ini belum ada.
CNA menyebut China terkesan enggan mempublikasikan data kredibilitas vaksin buatannya secara transparan.
Baca juga: BPOM Izinkan Vaksin Covid-19 Sinovac untuk Lansia, Ada Tahapan dan Peringatan Sebelumnya, Apa Saja?
Jika Sinovac nantinya tidak membuat hasil yang meyakinkan atau adanya efek samping serta kecacatan, Indonesia akan menghadapi kerugian besar-besaran terhadap vaksin yang sudah dibeli.
Akibatnya pemerintah juga harus mengalokasikan anggaran darurat untuk membeli vaksin dari perusahaan di negara lain.