Breaking News:

Vaksin Covid

Usia 18 Tahun ke Bawah Bukan Prioritas Penerima Vaksin Sinovac, IDI: Harus Mengurangi Mobilitas

Jubir IDI menjelaskan apa yang harus dilakukan anak-anak di bawah 18 tahun yang tidak menjadi prioritas penerima vaksin Sinovac.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Relawan dari Sekolah Ra'jat Inggit Garnasih membimbing sejumlah anak sekolah dasar saat mengikuti pembelajaran di Pos Ronda, Jalan Lio Genteng, Nyengseret, Kota Bandung, Selasa (5/1/2021). Pemerintah Kota Bandung menunda kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah yang rencananya dimulai pertengahan Januari ini, akibat masih tingginya kasus Covid-19. Terbaru, ilustrasi anak-anak yang tidak menjadi prioritas penerima vaksin Sinovac. 

TRIBUNWOW.COM - Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia menargetkan kelompok usia 18-59 tahun sebagai prioritas penerima vaksin.

Sedangkan kelompok usia 18 tahun ke bawah, dan lanjut usia (lansia) tidak menjadi prioritas penerima vaksin Sinovac.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan, agar kelompok usia 18 tahun ke bawah untuk mengurangi mobilitas demi meningkatkan upaya penanganan Covid-19.

Ketua Tim Advokasi Vaksinasi/Juru bicara Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Iris Rengganis menjelaskan seputar program vaksinasi Covid-19, ditayangkan di youtube metrotvnews, Jumat (29/1/2021).
Ketua Tim Advokasi Vaksinasi/Juru bicara Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Iris Rengganis menjelaskan seputar program vaksinasi Covid-19, ditayangkan di youtube metrotvnews, Jumat (29/1/2021). (youtube metrotvnews)

Baca juga: Jawaban Wali Kota Depok atas Imbauan Anies soal Penanganan Covid-19: Kita Sudah Mengajukan

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Advokasi Vaksinasi/Juru bicara IDI, Iris Rengganis dalam YouTube metrotvnews, Jumat (29/1/2021).

Iris menyinggung soal protokol kesehatan (prokes) yang terdiri dari 5 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas).

Bagi mereka yang berusia 18 tahun ke bawah, menurut Iris yang terpenting adalah mengurangi mobilitas.

Iris menyinggung bagaimana para murid-murid sekolah tersebut harus menahan diri keluar rumah agar meminimalisir potensi penyebaran Covid-19.

"Padahal belajar pun sudah melalui daring," ujar Iris.

Ia menjelaskan, kedisiplinan masyarakat terkait mengurangi mobilitas dirasa masih kurang.

"Kita harus mengurangi mobilitas, itu sangat penting," terang Iris.

"Disiplin dari pada masyarakat kita itu yang kurang."

Iris menegaskan bahwa vaksin tanpa disiplin melakukan prokes tidak akan ada gunanya.

"Walaupun sudah ada vaksin tapi kalau disiplinnya kurang, 5 M tidak dijalankan, dikhawatirkan vaksin ini seakan-akan tidak banyak gunanya," papar dia.

Dirinya kemudian memaparkan bagaimana vaksin Sinovac membutuhkan waktu sebelum bisa menciptakan antibodi di dalam tubuh.

Dalam rentang waktu terbentuknya antibodi, penerima vaksin dapat positif terpapar Covid-19 apabila tidak disiplin menerapkan prokes.

Sumber: TribunWow.com
Halaman 1/3
Tags:
Vaksin Covid-19VaksinCovid-19Virus CoronaIkatan Dokter Indonesia (IDI)Sinovac
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved