Terkini Nasional
Alasan Penyerahan Buku Masyarakat Pancasila Dilakukan di Titik Nol Indonesia, Jadi Momen Bersejarah
Penyerahan Buku Masyarakat Pancasila yang merupakan karya terakhir dari Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo dilakukan di Titik Nol Indonesia.
Editor: Rekarinta Vintoko
Momentum penyerahan buku Masyarakat Pancasila di Titik Nol Indonesia ini memiliki makna yang mendalam terkait dengan Aceh.
Aceh selain pernah menjadi daerah konflik yang cukup Panjang, juga mengalami bencana tsunami Desember 2004 dan sekarang menghadapi pandemi.
Segala penderitaan yang ada ini akan menjadi ringan jika dalam nilai Pancasila bersama-sama mengatasi.
Oleh karena itu, Korem 012 Teuku Umar dengan memberi perhatian lebih terhadap terwujudnya kerukunan melalui gotong royong dan perhatian kepada para korban konflik sebagai salah satu bentuk pengalaman.
Caturida Meiwanto Doktoralina menegaskan bahwa momentum sejarah ini hendaknya diikuti oleh dunia Pendidikan yang merupakan kawah candradimuka calon para pemimpin Indonesia di masa depan, Pancasila tidak mungkin akan bertahan hidup jika dunia Pendidikan Indonesia tidak benar-benar memerhatikan dan memelihara “roh” Pancasila.
Baca juga: BREAKING NEWS - Alor NTT Diguncang Gempa 5,2 SR, Tidak Berpotensi Tsunami
Sabang sebagai Titik Nol negara Indonesia harus menjadi motor dikembalikannya roh Pancasila tersebut untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa yang sekarang nyata dihadapi.
Menurut pengakuan Putut Prabantoro, yang juga Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia), dalam kesempatan Buka Tahun Baru Bersama di Gedung Lemhannas RI, Jakarta pada Januari 2019, selain meluncurkan secara khusus buku Masyarakat Pancasila, PWKI juga menganugerahkan trophy “Terima Kasihku Kepadamu” kepada Sayidiman dan juga para tokoh nasional lainnya karena bakti kepada negara dan bangsa.
WARISAN
Dalam buku “Masyarakat Pancasila” yang diterbitkan Altheras itu, Putut Prabantoro adalah satu-satunya pemberi pengantar “Sekapur Sirih” dalam buku tersebut.
Dan seperti merasakan apa yang akan terjadi, Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) itu kemudian memberi judul sekapur sirihnya, “WARISAN” dan diakhir tulisan “WARISAN”, Putut menuliskan posisinya Ketika menulis untuk menjelaskan hubungannya dengan Sayidiman Suryohadiprojo.
Di bawah ini kutipan kata pengantar “WARISAN” tersebut :
1 Januari 2019!
_Ketika sebagian besar orang di seantero dunia ini sedang berlibur dan menikmati merekahnya fajar baru, Pak Sayidiman justru menggunakan waktunya untuk menyelesaikan tulisan ini – MASYARAKAT PANCASILA. Ketika saya disodori untuk membaca tulisan ini, saya langsung mengusulkan, “Dibuat buku saja, Pak Sayidiman.”_a
Alasannya adalah, dalam usia 91 tahun, Letjen TNI (Pur) Sayidiman Suryohadiprojo masih tidak berhenti memikirkan negara, bangsa dan Pancasila. Ia menyelesaikan tugas akhirnya, yang berjudul Masyarakat Pancasila. Dengan buku ini, seakan ada kerisauan mendalam dalam hati Pak Sayidiman terhadap masa depan negara Indonesia, dan itu tidak bisa diucapkan. Kerisauan itu ia tulis agar kelak banyak orang bisa membacanya.
Tentu saja Pak Sayidiman harus risau mengingat hidupnya tidak pernah lepas dari negara dan bangsa. Sebagai pejuang, sebagai Wakasad, sebagai mantan duta besar, sebagai mantan utusan khusus Presiden, sebagai mantan Gubernur Lemhannas, Pak Sayidiman sudah sewajarnya menunjukkan kerisauan atau kegalauannya sebagai orang tua. Seakan, Pak Sayidiman dengan buku itu (“Masyarakat Pancasila”) ingin bercerita betapa sulitnya sekarang ini mencari Pancasila, tidak mudah menemukan dan membangun masyarakat Pancasila yang diidamkan oleh pendiri bangsa serta negara.
Buku Masyarakat Pancasila ini seperti ingin menegaskan pepatah yang mengatakan, “It’s better to be A Lion for One Day than A hundred year as A Sheep”. Dan sebagai “Singa”, Pak Sayidiman ingin meninggalkan “warisan” bagi siapapun Pemimpin Indonesia dan bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin Indonesia di masa depan agar hidup ratusan tahun sebagai singa dan bukan sebagai domba.