Terkini Nasional
Demi Guru Honorer dan Perbaikan Sekolah-sekolah Rusak, 3001 Atlet 10 Kali Kelilingi Bumi
Rekor menarik kembali dipecahkan oleh gerakan penggalangan dana untuk pendidikan melalui jalur olahraga:
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
Tujuannya, agar para penerima donasi benar-benar selaras dengan tujuan gerakan belarasa.
Yakni, “The poorest of the poor,” ujar Romo Gandhi – sebutan akrabnya.
Gandhi mencontohkan beberapa wilayah luar Jawa yang masuk ke dalam peta penyaringan donasi.
Antara lain, Papua, Aceh, Mentawai, Londa Lima-Sumba Timur, Maumere-NTT, Ternate- Maluku Utara – sekadar menyebut contoh.
“Tentu saja masih banyak wilayah lain yang kami petakan sejak November 2020. Tujuannya, agar yang mendapat bantuan adalah mereka yang benar-benar membutuhkan,” ujar Gandhi.
Sejumlah peserta LG4C mengaku amat gembira bisa mengikuti program ini secara penuh. Salah satunya, Sr. Dr. Yustiana, CB pemimpin Ordo Suster Carolus Boromeus(CB) Indonesia. Suster Provinsial – begitu dia biasa disebut -- mencatat posisi nomor 6 dari 3001 peserta –sekaligus peringkat pertama jalan kaki -- dengan total aktifitas 846 km jalan dan lari.
Yustiana, 56 tahun, mengaku menggemari olahraga sejak remaja.
“Bagi saya, kebutuhan olahraga sudah seperti kebutuhan makan,” ujarnya kepada tim media LG4C. “Manfaatnya luarbiasa. Saya tidak pernah sakit selama tiga dekade terakhir. Olahraga memberikan kesegaran tubuh, jiwa, energi sekaligus,” dia melanjutkan.
Itu sebabnya, berjalan dan berlari sejauh 846 kilometer bagi biarawati Katolik kelahiran Yogyakarta ini sama sekali tak terasa sebagai beban.
“Sudah 23 tahun saya aktif di dunia pendidikan Indonesia. Saya paham betul beratnya beban para guru honorer. Itu sebabnya saya gembira bisa turut mencari donasi melalui hobi olahraga,” ujar Yustiana.
Sepanjang Desember, doktor manajemen pendidikan ini memulai jalan pagi pada pukul 02.30 WIB.
“Seluruh jadwal kerja dan pelayanan saya tak terganggu sedikit pun oleh aktifitas LG4C,” kata Yustiana.
Posisi nomor satu LG4C diraih oleh pesepeda Roni Pramudya dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dengan total jarak tempuh 3925,11 km.
Program belasarasa ini mendapat perhatian dari berbagai media nasional di tanah air, serta sejumlah media internasional.
Selain bahasa Indonesia, kegiatan Caritas Christmas disiarkan pula dalam bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, dan Italia.