Reshuffle Kabinet
Sayangkan Prabowo dan Sandiaga Masuk Kabinet, Mardani Ali: Tidak Sehat untuk Demokrasi
Politisi PKS, Mardani Ali Sera berikan tanggapan terkait masuknya Sandiaga Salahuddin Uno di dalam kabinet Indonesia Maju.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Politisi PKS, Mardani Ali Sera berikan tanggapan terkait masuknya Sandiaga Salahuddin Uno di dalam kabinet Indonesia Maju.
Sandiaga Uno sebelumnya diangkat oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).
Dilansir TribunWow.com dalam acara Satu Meja The Forum, Rabu (23/12/2020), Mardani Ali mengaku menyayangkan kondisi tersebut.

Baca juga: Immanuel Ungkap Kekecewaan Gerindra Dapat 2 Menteri: Saya Lihat Fadli Zon Tetap Menyerang
Baca juga: Viral Meme Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi Happy Ending, Irma S.Chaniago: Saya Cukup Menyesal Juga
Mardani mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak sehat untuk kelangsungan demokrasi.
Seperti yang diketahui, masuknya Sandiaga Uno dalam pemerintahan menyusul Prabowo Subianto yang sudah lebih dulu menjadi Menteri Pertahanan.
Mardani mengakui bahwa kondisi tersebut merupakan sebuah eksperimen baru karena baru pertama kali terjadi di dalam dunia perpolitikan.
"Yang pertama ini eksperimen baru karena sebelum-sebelumnya hampir tidak ada kompetitor di capres atau wapres yang masuk dalam line up kabinet," ujar Mardani.
"Oleh karena itu kita bisa melihat seperti apa efektifitas dan hasilnya."
Menurut Mardani tidak seharusnya penantang di Pilpres, baik capres maupun cawapres justru bergabung dalam gerbong pemerintahan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masuknya Prabowo dan Sandi di kabinet Presiden Jokowi memberikan kekecewaan tersendiri.
Menurutnya, kekecewaan itu tidak hanya dari pendukung Prabowo-Sandi melainkan juga mungkin dari pendukung Jokowi-Maruf Amin.
"Tetapi catatan saya adalah ada kesehatan demokrasi yang harus kita jaga bersama," kata Mardani.
"Saya melihatnya ketika Pak Prabowo masuk kekecewaan itu ada sebagian pendukung 02, ketika Bang Sandi masuk agak sempurna kekecewaannya," ungkapnya.
Baca juga: Ditarget Jokowi 1 Tahun Harus Ada Perubahan di Sektor Pariwisata, Sandiaga Uno: Ini Tugas Berat
Dengan begitu menurut Mardani kondisi tersebut justru tidak baik untuk proses demokrasi.
Dikatakannya bahwa setelah masuknya Prabowo dan Sandi, secara umumnya adalah Gerindra, maka tidak ada keseimbangan antara koalisi dengan oposisi.
"Dan ini tidak sehat buat demokrasi yang sehat, secara logika dan etika partai atau figur pendukung Pak Prabowo menjadi kekuatan penyeimbang di luar, menjadi oposisi akurasi publik akan terakomodasi dengan baik oleh kelompok opsisi untuk check and balance. Dan itu sehat," jelas Mardani.
"Kita punya pola pikir yang berbeda-beda dan untuk itu kita perlu bersama-sama menyehatkannya bukan mengawinkannya secara paksa," tegasnya menutup.
Simak videonya mulai menit ke- 8.38:
Immanuel Ungkap Kekecewaan Gerindra Dapat 2 Menteri
Partai Gerindra kembali mendapatkan dua jatah kadernya di Kabinet Indonesia Maju.
Kepastian tersebut menyusul masuknya Sandiaga Salahuddin Uno yang menggantikan slot Edhy Prabowo.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Relawan Jokowi Mania (Jokman), Immanuel Ebenezer mengaku ada perasaan kecewanya.

Baca juga: Viral Meme Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi Happy Ending, Irma S.Chaniago: Saya Cukup Menyesal Juga
Baca juga: Sindir Gerindra, Irma Chaniago Ngaku Kasihan dengan Jokowi: Sudah Dikasih 2 Menteri Masih Nggebukin
Dilansir TribunWow.com dalam acara Sapa Indonesia Malam 'KompasTV', Rabu (23/12/2020), Immanuel mengingatkan betapa beratnya perjuangan para relawan dan tim pemenangan Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin pada Pilpres 2019 lalu.
"Bukan rahasia umum lagi kalau kekecewaan, di relawan Jokowi juga banyak yang kecewa kok," ujar Immanuel.
"Sebetulnya kita tidak pernah mengharapkan apa-apa karena kita ini bekerja memenangkan Presiden dengan keringat, darah dan air mata," jelasnya.
"Faktanya sampai hari ini kita lihat istana mulai menjaga jarak."
Immanuel mengaku sebenarnya tidak masalah dengan keputusan Jokowi untuk menggandeng rivalnya dengan diberikan jatah dua menteri.
Menurutnya diakui memang ada baiknya untuk kembali menyatukan dua kubu yang sempat terpecah belah.
Namun yang membuatnya merasa tambah kecewa dan sedih adalah lantaran kebaikan dari Jokowi tidak dibalas penuh oleh Gerindra.
Dikatakannya bahwa hal itu dibuktikan masih ada kader Gerindra yang terus menyerang pemerintah, termasuk kepada presiden.
Baca juga: Sandiaga Uno Direkrut Jadi Menteri Jokowi, Refly Harun: Untuk Mengikat Gerindra di Pilpres 2024
Dirinya dengan gamblang mecontohkan nama Fadli Zon.
"Kita memang tidak mau narasi ujaran kebencian ini tetap mengalir di bangsa ini, kita tidak mau terjebak antara cebong dan kampret," kata Immanuel.
"Tapi faktanya jika dua dari Gerindra yang menjadi gerbong oposisi kemarin sampai detik ini barisannya tidak juga move on, artinya tetap menyerang pemerintah, khususnya Fadli Zon," ungkapnya.
Immanuel menegaskan bukan berarti melarang Fadli Zon maupun kader Gerindra untuk memberikan kritik.
"Saya lihat Fadli Zon tetap menyerang, kritik tidak masalah asal kontruktif, tidak terlalu membabi buta selalu membangun narasi kebencian," terang Immanuel.
"Saya enggak ngerti ada dendam apa dengan Pak Jokowi," pungkasnya.
Simak videonya mulai menit ke- 8.38
(TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)