Breaking News:

Terkini Nasional

Kisah Eks Pengungsi Timor Timur di NTT: Kami Hidupnya Sengsara, Makan Minum Saja Setengah Mati

Selama lebih dari dua dekade, warga eks pengungsi Timor Timur hidup dalam penuh keterbatasan tanpa kepastian tentang hak atas tanah yang mereka tingga

Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AFP/WEDA
Anak-anak pengungsi Timor Timur berpose di dalam tenda mereka di kamp pengungsi Tuapukan di Kupang, NTT, 16 September 1999. 

"Ketika kita datang, tempat tinggal kita ini semuanya rumput, kaya hutan. Jadi kita semua sama-sama bersihkan, habis itu kita tempati. Kita bikin seperti tenda, pakai terpal, kita tinggal sama-sama," tutur Juana, menceritakan pengalaman hidupnya ketika pertama kali tiba di kamp pengungsi itu.

"Dari situ, kita semua mulai cari-cari kayu untuk dipotong [untuk dijadikan] tiang, bikin rumah. Tapi rumah-rumah atap daun," ujarnya kemudian.

Rumah yang dibangun seadanya itu dihuni oleh dua keluarga, yakni keluarga ayah dan keluarga kakak Juana.

Ketika menikah, Juana memutuskan untuk hidup terpisah, meski masih di dalam area kamp pengungsi.

"Saya dan suami berusaha bagaimana caranya kita bangun rumah. Jadi kita pergi potong kayu, bikin rumah sendiri. Tapi atapnya atap daun, bebak juga bebak lapuk," terang Juana.

Bebak adalah anyaman batang daun gewang untuk dinding rumah

"Atap daun, lantai tanah, tidurnya masih di lantai. Bentang tikar, kasur di bawah," katanya kemudian.

Rumah berukuran 6 kali 5 meter, itu ditinggali Juana, suami dan dua anaknya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Juana sempat bekerja sebagai buruh tani. Setelah mendapat pinjaman modal, ia berjualan sayur mayur di pasar terdekat.

Namun, ia mengaku penghasilannya kadang tak mencukupi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kadang kalau tidak ada uang kita pergi utang. Kadang kita bersihkan kebun orang, kita dibayar, baru kita tutupi utang kita."

"Dari hasil tani, kalau hujan turun kita bisa berkebun, bikin sawah. Kalau hujan tidak ada, sawah tidak ada, tergantung hujan," aku Juana.

Keterbatasan hidup di kamp pengungsi Tuapukan, juga dialami oleh Misaqui de Jesus Agustinho.

Sejak usia 6 tahun, pria yang lahir di Dili, Timor Leste, ini tinggal di kamp itu bersama ayah, ibu dan empat saudaranya.

Awalnya, ketika pertama tiba di kamp pengungsi ia harus tidur di bawah tenda bersama para pengungsi lain.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
Tags:
Timor LesteNusa Tenggara Timur (NTT)Eks Pengungsi Timor Timur
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved