KPK Tangkap Menteri Edhy Prabowo
Selain Jokowi, Hashim Ngaku Juga Ingatkan Edhy soal Ekspor Benur: Pak Prabowo Tidak Mau Monopoli
Hashim Djojohadikusumo mengaku pernah mengingatkan Edhy agar jangan memonopoli kegiatan ekspor benur.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Pada Rabu (25/11/2020) lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo telah resmi ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Edhy dijadikan tersangka terkait ekspor benur atau bibit lobster serta kasus suap terkait perizinan tambak, usaha , dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lain tahun 2020.
Adik dari Prabowo Subianto, yakni Hashim Djojohadikusumo mengaku telah memperingatkan Edhy jauh-jauh hari soal aktivitas ekspor benur.

Baca juga: Refly Harun Sayangkan Prabowo Subianto Belum Bicara Langsung soal Edhy: Tak Ada Public Statement
Dikutip dari Kompas.com, Hashim bercerita, ia pernah memperingatkan Edhy agar memberikan izin ekspor benur sebanyak-banyaknya.
"Waktu itu saya ketemu Pak Edhy tahun lalu, saya bilang, 'Ed, berapa kali saya wanti-wanti, berikan izin sebanyak-banyaknya'. Saksi hidup ada banyak di belakang saya (saat sampaikan nasihat tersebut)," kata Hashim kepada awak media di Jakarta, Jumat (4/12/2020).
Hashim bercerita, kala itu ia meminta agar Edhy membuka 100 izin untuk perusahaan calon eksportir benih lobster.
Namun tercatat hingga November 2020, baru ada 65 perusahaan yang memiliki izin.
"Saya bilang, 'Buka saja, Ed, buka saja sampai 100'. Karena Pak Prabowo tidak mau monopoli, kami tidak suka monopoli, dan Partai Gerindra tidak suka monopoli. Berkali-kali saya sampaikan," ucap Hasyim.
Hashim sendiri membantah perusahaan yang dimiliki oleh keluarga besar Prabowo Subianto yakni PT Bima Sakti Mutiara, terlibat dalam skandal korupsi yang menjerat Edhy.
Ia juga menjelaskan, PT Bima Sakti Mutiara belum pernah melakukan aktivitas ekspor benur.
"Kami berniat untuk budidaya lobster, teripang, kepiting, kami ingin Indonesia jadi superpower. Maka, kalau dikaitkan dengan ekspor benur, saya kira kebangetan. Kelewatan, saya kira begitu. Saya sedikit emosi, mohon maaf," ucap dia.
Prabowo Marah, Terkhianati
Hashim juga baru saja menceritakan bagaimana Prabowo marah besar setelah mengetahui Edhy melakukan korupsi.
Dikutip dari TribunJakarta.com, hal itu disampaikan oleh Hashim saat melakukan konferensi pers didampingi oleh pengacara Hotman Paris Hutapea, di Jetski Cafe, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (4/12/2020).
"Pak Prabowo sangat marah, sangat kecewa, ia merasa dikhianati," kata Hasim.
Hashim bercerita, pada saat itu Prabowo sempat mengungkit masa lalu ketika mengangkat Edhy dari keterpurukan.
Berdasarkan cerita Hashim, Prabowo saat itu meluapkan kemarahannya dalam bahasa Inggris karena ia dan kakaknya itu sudah lama tinggal di luar negeri.
"Dan terus terang saja, dia bilang ke saya, dia sangat kecewa dengan anak yang dia angkat dari selokan 25 tahun lalu," kata Hashim.
"I picked him up from the gutter, and this is what he does to me," sambung Hashim mengungkapkan secara detil apa yang dikatakan Prabowo kala itu.
Baca juga: Nantikan Sikap Prabowo soal Kasus Edhy Prabowo, Rocky Gerung: Gerindra Kehilangan Momentum
Pernah Diwanti-wanti Jokowi soal Bibit Lobster
Jauh sebelum Edhy ditangkap oleh KPK, dirinya ternyata pernah diwanti-wanti oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) soal kegiatan ekspor benur atau bibit lobster.
Sebelumnya diberitakan, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pernah membahas persoalan ekspor benih lobster yang ramai didebatkan oleh Menteri KKP terdahulu Susi Pudjiastuti dan Menteri KKP saat ini Edhy Prabowo.
Dikutip TribunWow.com dari Kanal Youtube Sekretariat Presiden, Senin (17/12/2019), Jokowi mulanya menyerahkan detil urusan tersebut ke Menteri KKP.
Ia lanjut mengatakan apa yang menjadi prioritas adalah kesejahteraan masyarakat dan kesehatan lingkungan.
"Ditanyakan ke Menteri KKP Pak Edhy Prabowo," kata Jokowi saat meresmikan Tol Balikpapan-Samarinda Seksi Samboja-Samarinda, Selasa (17/12/2019).
"Yang paling penting menurut saya negara mendapat manfaat, nelayan mendapatkan manfaat, lingkungan tidak rusak, yang penting itu," tambahnya.
Baca juga: Sebut Edhy Prabowo Jantan, Effendi Gazali Akui Gagal Jadi Penasihat: Saya Tetap Temannya
Ketika melakukan ekspor benih lobster, ada beberapa hal yang diinginkan oleh Jokowi.
Hal tersebut di antaranya adalah nilai tambah berada di Indonesia, memerhatikan nilai ekonomi, dan juga memerhatikan pelestarian lingkungan hidup.
"Nilai tambah ada di dalam negeri, dan ekspor dan tidak ekspor itu hitungannya dari situ," papar Jokowi.
"Kita tidak hanya melihat lingkungan saja, tapi nilai ekonominya juga dilihat."
"Tapi juga jangan lihat nilai ekonominya saja, lingkungan juga harus tetap kita pelihara."
"Keseimbangan antara itu yang penting," tambahnya.
Soal ekspor benih lobster, Jokowi tidak ingin hanya berfokus pada salah satu sektor, ekonomi maupun lingkungan.
"Bukan hanya bilang jangan, keseimbangan itu yang diperlukan," tegas Jokowi.
Ketika ingin tetap melakukan ekspor benih lobster, Jokowi mengingatkan agar kebijakan tersebut dilakukan dengan hati-hati.
"Jangan juga awur-awuran semuanya ditangkapi, diekspor, itu juga enggak benar," ujar Jokowi.
"Saya kira pakar-pakarnya tahu bagaimana tetap menjaga lingkungan."
"Tidak diselundupkan diekspor secara awur-awuran, tetapi juga nelayan mendapatkan manfaat dari sana, nilai tambah ada di negara kita," imbuhnya. (TribunWow.com/Anung)
Sebagian artikel ini diolah dari Kompas.com dengan judul "Soal Ekspor Benur, Hashim Djojohadikusumo: Saya Bilang, Buka Saja, Ed, Buka sampai 100..." dan Tribunjakarta.com dengan judul Hashim Ungkap Prabowo Marah Besar Soal Edhy Prabowo: 'Dia Anak yang Diangkat dari Selokan'