KPK Tangkap Menteri Edhy Prabowo
Pernah Jadi Eksportir, Fahri Hamzah Ungkap Jumlah Kerugian Usaha Benih Lobster: Ya Mati Sudah Mati
Di acara Mata Najwa, Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah yang pernah menjadi eksportir benih lobster mengatakan bahwa usaha itu tidak menguntungkan.
Penulis: Mariah Gipty
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Ekspor Benih Lobster kini tengah ramai dibicarakan setelah Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ditangkap Komisioner Pemberantasan Korupsi (KPK).
Edhy ditangkap soal dugaan kasus suap ekspor benih lobster sepulangnya dari Amerika Serikat di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (25/11/2020).
Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah yang pernah menjadi eksportir benih lobster mengatakan bahwa usaha itu tidak menguntungkan.

Baca juga: Di Mata Najwa, Dedi Mulyadi Ngaku Biasa Saja Edhy Prabowo Ditangkap KPK: Tidak Logis Ekspor Benur
Ia mengatakan setelah membeli benih lobster dari nelayan, benih lobster itu harus langsung diekspor.
Jika tidak, keadaan lobster yang sudah mulai berubah akan membuat harga jualnya menurun.
"Belanja kan umurnya itu cuma dua sampai lima hari itu, itu harus segera dikirim."
"Kalau berubah warnanya harganya jatuh, kalau nelayan tidak rugi karena jualnya putut," kata Fahri Hamzah di acara Mata Najwa pada Rabu malam.
Fahri Hamzah yang bertindak sebagai Komisaris mengatakan bahwa pihaknya rugi sampai Rp 200 juta pada operasi pertama.
Menurutnya, kerugian itu cukup berat baginya yang seorang mantan anggota DPR.
"Jadi pengiriman pertama tanggal 16 Juli, rugi saya pantau harga, cek rugi, ya lumayan lah buat pensiunan berat juga."
"Kira-kira yang pertama Rp 200 juta, saya lupa detail harganya pada waktu itu, saya kan bukan Dirutnya, saya hanya komisaris," kata dia.
Baca juga: Detik-detik Penangkapan Edhy Prabowo Diungkap Ali Ngabalin, Bantah Menteri Diciduk di Pintu Pesawat
Lalu pada operasi kedua, lagi-lagi ia mendapat kerugian.
Akibatnya, dirinya memilih untuk berhenti menekuni usaha tersebut.
"Lalu kedua, ya hampir Rp 200 (juta) juga, Rp 180 (juta)-an sudah saya stop."
"Ini pasti ada masalah dengan yang namanya cara tata kelola," ujarnya.