Breaking News:

KPK Tangkap Menteri Edhy Prabowo

Menteri KKP Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Pakar Ungkap Permainan Besar di Bibit Lobster: Mengerikan

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo dan sejumlah pejabat lainnya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (25/11/2020).

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Ananda Putri Octaviani
Dok. KKP
Menteri Kelautan dan Perikanan 2019-2024 Edhy Prabowo. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo dan sejumlah pejabat lainnya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (25/11/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo dan sejumlah pejabat lainnya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (25/11/2020) dini hari.

Dilansir TribunWow.com, kasus ini sendiri belum dirilis KPK, tetapi diduga terkait dengan kebijakan ekspor benih lobster atau benur.

Pakar hukum Asep Iwan Iriawan kemudian menyampaikan tanggapannya dalam tayangan Breaking News di Kompas TV, Rabu (25/11/2020).

Pakar Hukum Asep Iwan Iriawan menanggapi penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo oleh KPK, diduga terkait ekspor benur, dalam Breaking News, Rabu (25/11/2020).
Pakar Hukum Asep Iwan Iriawan menanggapi penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo oleh KPK, diduga terkait ekspor benur, dalam Breaking News, Rabu (25/11/2020). (Capture YouTube Kompas TV)

Baca juga: KPK Tangkap Menteri KKP Edhy Prabowo, Berikut Sederet Konflik dengan Susi Pudjiastuti, Saling Sindir

Diketahui kebijakan tersebut kemudian ditentang keras oleh mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

"Masalah lobster ini 'kan tidak hanya saat ini, sebelumnya juga sudah dibicarakan kebijakan yang dahulu, Bu Susi, dengan yang sekarang," ungkap Asep.

Menurut Asep, ada permainan bisnis dalam kebijakan ekspor benih lobster tersebut.

Tidak hanya itu nilai permainan bisnis ini diduga sangat besar.

"Itu ada permainan-permainan dan nilainya sangat besar," papar Asep.

Menurut Asep, wajar jika KPK mencurigai adanya permainan bisnis di dalam kebijakan tersebut, mengingat nilainya.

"Ketika KPK 'mengintip' dan dengan izin Dewan Pengawas, itu tidak aneh bagi saya dan nilainya sangat besar," kata pakar hukum ini.

Asep kemudian menyinggung alasan yang digunakan Edhy Prabowo untuk menggolkan kebijakan ekspor benur, yakni untuk mengendalikan penyelundupan benih lobster.

Namun dalam sebuah investigasi media, terungkap ada permainan di balik keinginan Edhy melegalkan ekspor benih lobster.

"Cuma mengerikan, sekali lagi, kalau setingkat menteri yang kemarin teriak-teriak dengan dalihnya bagaimana ekspor-impor tentang lobster. Itu 'kan orang juga mencurigai karena dalam salah satu majalah tabloid itu dimuat," paparnya.

Asep kemudian mengapresiasi langkah KPK yang menangkap Edhy.

Baca juga: BREAKING NEWS - KPK Benarkan Tangkap Menteri KKP Edhy Prabowo Rabu Dini Hari

"Wajar kalau KPK menangkap. Saya salut, semoga masyarakat menimbulkan kepercayaan kepada KPK, bahwa KPK juga ada kepercayaan dari masyarakat, ini harus dibuka seterang-terangnya," tegas Asep.

Ia berharap kasus tersebut dapat dibuka tuntas, mengingat ada sejumlah pejabat lain yang terlibat.

"Dan ini 'kan tidak melibatkan yang bersangkutan, ada juga sekelilingnya," singgung Asep.

"Ternyata penangkapan ini melibatkan pejabat, melibatkan kroninya," tandasnya.

Penangkapan Edhy Prabowo

Dikutip dari Kompas.com, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengonfirmasi penangkapan tersebut.

Ia juga membenarkan kasus tersebut terkait ekspor bibit lobster.

"Benar KPK tangkap, berkait ekspor benur," kata Ghufron, Rabu.

Edhy ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta bersama sejumlah orang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta anggota keluarganya.

"Tadi pagi (ditangkap) jam 01.23 di Soetta (Bandara Soekarno-Hatta). Ada beberapa dari KKP dan keluarga yang bersangkutan," terang Ghufron.

Lihat videonya mulai menit 8.00:

Sederet Konflik dengan Susi Pudjiastuti, Saling Sindir

Diketahui sebelumnya Edhy Prabowo kerap berkonflik dengan mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

Mereka saling melontarkan sindiran dan teguran melalui media sosial.

Konflik itu didasari perbedaan pandangan tentang kebijakan di sektor kelautan dan perikanan.

Berikut sejumlah komentar yang dilontarkan kedua belah pihak.

1. Edhy Sindir Era Kepemimpinan Susi Pudjiastuti

Pada Kamis (19/11/2020) lalu, Edhy menyinggung hasil dari kepemimpinan lima tahun lalu, yakni pada saat Susi Pudjiastuti masih menjabat.

Edhy bersikeras hal yang harus diutamakan adalah keuntungan dibandingkan keberlanjutan.

"Kalau kita lihat lima tahun lalu bagaimana industri kita di sektor ini berhenti hanya karena beberapa kebijakan yang mengadu, dihadapkan antara sustainability (keberlangsungan) dengan prosperity," kata Edhy Prabowo dalam acara virtual Jakarta Food Security Summit-5.

"Padahal, kalau kita melihat secara bijak, untuk apa kita bicara sustainability saja kalau prosperity tidak kita dapat?" lanjutnya.

2. Susi Pudjiastuti Kritik Ekspor Benih Lobster

Susi mengkritik keras kebijakan ekspor benih lobster yang dicanangkan Edhy Prabowo.

Agar keberlangsungannya terjaga, beberapa negara sudah melarang ekspor benih lobster.

"Sekarang diwacanakan, pengambil bibit nanti ambil apa kalau tidak ambil bibit?" ungkit Susi Pudjiastuti, Kamis (23/7/2020).

"Ya lucu, ya masa di laut itu isinya cuma bibit lobster? Adanya bibit karena ada emak lobster. Lobster besar inilah yang ditangkap, jangan bibitnya," tegas Susi.

Baca juga: Kantongi Izin Eksportir Benih Lobster, Ini Alasan Fahri Hamzah Merasa Tertarik: Tahu Isu Nelayan

Selain itu dikhawatirkan nelayan tidak lagi dapat menangkap lobster, mengingat penangkapan hewan laut itu lebih mudah.

3. Legalisasi Cantrang

Kebijakan berikutnya yang dikritik Susi adalah perizinan delapan alat penangkap ikan (API), termasuk cantrang dan pukat hela.

Tidak hanya itu, KKP mengizinkan kapal ikan berukuran di atas 200 gross ton (GT) kembali beroperasi.

Susi kemudian menyindir kebijakan tersebut melalui akun Twitter miliknya.

"Ikan sudah banyak, saatnya kapal-kapal raksasa cantrang, trawl, purseiners, dan lain-lain mengeruk kembali. Saatnya panen bibit lobster yang sudah ditunggu-tunggu Vietnam. Inilah investasi yang kita banggakan," cuit Susi, Kamis (11/6/2020).

4. Penenggelaman Kapal

Diketahui Susi dikenal dengan kebijakannya menenggelamkan kapal asing yang terbukti mencuri di wilayah perairan Indonesia.

Ketika Edhy menjabat, kebijakan itu ia ganti dengan menghibahkan kapal-kapal penangkap ikan kepada para nelayan.

Ia menilai kapal-kapal tersebut dapat lebih berguna daripada ditenggelamkan.

Baca juga: KPK Tangkap Edhy Prabowo, Langsung Diamankan di Bandara Soekarno-Hatta Bersama Sejumlah Orang Lain

"Kapal ini akan diserahkan ke Kejaksaan. Karena banyak sekali kampus-kampus ini punya jurusan perikanan, kenapa nggak saya serahkan ke sana. Atau misalnya nanti kita serahkan ke koperasi nelayan. Kan bisa," kata Edhy.

Susi kemudian menanggapi kebijakannya yang diubah tersebut.

"Mungkin misinya telah berubah sekarang itu, ya, I don't know. Kalau saya prinsipnya menteri bekerja untuk visi misi Presiden, laut masa depan bangsa. Saya melaksanakan visi misi Presiden," komentar Susi. (TribunWow.com/Brigitta)

Sebagian artikel ini diolah dari Kompas.com dengan judul Saling Sindir Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti, Soal Ekspor Benih Lobster hingga Penenggelaman Kapal dan Kebijakannya Banyak Direvisi Edhy Prabowo, Ini Kata Susi Pudjiastuti.

Tags:
KPKMenteri Kelautan dan PerikananEdhy PrabowoLobsterKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved