Terkini Nasional
Masyumi Kembali Aktif, Mahfud MD Sebut Tak Ada Masalah: Beda dengan PKI
Mahfud MD menyebut tak ada masalah jika Partai Masyumi yang beranggotakan tokoh-tokoh Islam mendeklarasikan aktif kembali.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Pada Sabtu (7/11/2020), sejumlah tokoh islam mendeklarasikan aktifnya kembali Partai Masyumi yang dahulu sempat dibubarkan.
Deklarasi tersebut dilakukan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-75 Partai Masyumi.
Menanggapi hal tersebut Menteri Koordinator (Menko) Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebut tak ada masalah.

Baca juga: Bukan Prabowo, Ini Sosok Menteri Inisial P yang Disebut Relawan Jokowi Layak Diganti: Bikin Gaduh
Baca juga: Habib Rizieq Ancam Pihak yang Sebut Overstay, Mahfud MD: Seumpama Saya Mau Dilaporkan, Laporkan
Tanggapan Mahfud MD ia nyatakan lewat akun Twitter miliknya @mohmahfudmd, Minggu (8/11/2020).
Ia mengatakan tidak ada masalah terkait deklarasi pendirian Partai Masyumi.
Dirinya kemudian membandingkan Partai Masyumi dengan PKI yang dilarang di Indonesia.
Menurut penjelasan Mahfud MD, Partai Masyumi boleh-boleh saja kembali berdiri selama memenuhi Syarat.
Berikut caption lengkap yang ditulis oleh Mahfud.
"Ada yg mendeklarasikan pendirian Partai Masyumi.
Apa blh? Tentu saja blh sebab dulu Masyumi bkn partai terlarang melainkan partai yg diminta bubar oleh Bung Karno.
Beda dgn PKI yg jelas2 dinyatakan sbg partai terlarang. Bg Masyumi yg pnting memenuhi syarat dan verifikasi faktual." tulis Mahfud.
Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (7/11/2020), deklarasi Partai Masyumi pada Sabtu lalu dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti politisi senior Amien Rais, mantan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua, dan Ketua Persiapan Pendirian Partai Islam Ideologis (Masyumi Reborn) Masri Sitanggang.
Ketua Badan Penyelidik Usaha -usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII), A Cholil Ridwan, berharap dengan berdirinya kembali partai Masyumi, ajaran dan hukum Islam akan berjalan di Indonesia.
“Semoga Allah meridhoi perjuangan Masyumi hingga meraih kemenangan di Indonesia,” ujar dia.
Bandingkan Kabinet Jokowi dengan Era PKI dan Masyumi
Sebelumnya diberitakan, pembawa acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Karni Ilyas turut berkomentar soal Susunan Kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2019-2024.
Hal itu diungkapkan Karni Ilyas saat memandu acara ILC yang membahas tema Kabinet Indonesia Maju pada Selasa (28/10/2019).
Karni Ilyas mengungkapkan, Susunan Kabinet Jokowi sekarang mengingatkannya pada era 1950-1959.
Pada era tersebut, orang-orang yang ditawari oleh presiden jabatan menteri banyak yang justru menolaknya.
Mereka tidak bersedia menjadi menteri dengan berbagai alasannnya.
"Ada suatu fenomena yang menarik bagi saya pada waktu era 1950-an mungkin sampai 59 adalah suatu yang biasa kalau orang, kalau presiden atau perdana menteri mengumumkan susunan kabinet ada beberapa orang yang dipilih menyatakan dia tidak sanggup atau tidak bersedia," jelas Karni Ilyas dikutip TribunWow.com dari chanel YouTube Talk Show tvOne.
Banyak pertimbangan seseorang menolak jabatan strategis dari presiden.
Misalnya, beda pemahaman hingga beda pilihan politiknya.
"Berbagai alasan, ada karena dia merasa tidak mampu menjalankan tugas yang diberikan itu, ada juga yang merasa se-ideologi atau perdana menteri yang memutuskan adalah lawan politiknya," jelas Karni Ilyas.
Misalnya, ketika tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia) yang menjadi presiden, maka tidak akan ada orang dari Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang bersedia menjadi menteri.
Pasalnya, dua golongan itu berbeda ideologi.
"Tidaklah mungkin waktu itu bahwa perdana menterinya dari PNI, orang Masyumi atau bukan tidak mungkin orang Masyumi yang akan ditunjuk yang menyatakan tidak bersedia," lanjut Karni Ilyas.
Baca juga: Fadli Zon Sindir Pemerintah soal HRS, Mahfud MD Unggah Video Sumpah Habib Rizieq: Kok Salah Terus?
Hal itu berlaku sebaliknya, jika orang Masyumi yang menjadi presiden.
Maka orang PNI maupun PKI (Partai Komunis Indonesia) akan menolak jabatan kabinet presiden
"Begitu juga sebaliknya ketika perdana menterinya dari Masyumi, akan banyak calon-calon menteri atau yang diumumkan dari PNI atau PKI yang menolak untuk duduk," ucap Karni Ilyas.
Sehingga menurut presenter yang merupakan jurnalis senior itu merasa bahwa aktivitas politik pada zaman itu sangat berbeda dengan zaman sekarang.
Menurutnya, kini semua orang mau dan merasa mampu menjadi menteri presiden.
Sebagaimana diketahui, Partai Gerindra yang diketahui merupakan lawan politik Jokowi sejak 2014 kini justru bergabung dalam pemerintahan.
Bahkan, Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto yang diketahui rival Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 menjadi Menteri Pertahanan.
Demi memberikan penekanan aktivitas politik yang sudah berubah, Karni Ilyas mengibaratkan seperti musim yang selalu berganti.
"Tapi musim sudah berganti, angin sudah berubah, pada masa sekarang seolah-olah semua yang ditunjuk itu semua bergembira, dan semuanya merasa mampu untuk jabatan itu," ujar Karni Ilyas.
Bahkan, orang atau kelompok yang tidak dipilih akan kecewa.
Apalagi Presiden Jokowi pernah mengungkapkan ada 300 kandidat menteri.
"Bahkan, yang tidak dipilih itu bahwa akan kecewa. Presiden sendiri mengatakan 300 calon yang dipilihnya hanya 34," ungkap dia.
Sehingga presiden dinilai sudah pasti akan mengecawakan beberapa pihak.
Pasalnya, presiden tidak dilahirkan untuk dapat memuaskan semua pihak
"Artinya diluar 34 itu pastilah kecewa, ya memang presiden bukan dilahirkan untuk memuaskan semua orang, tidak munkin seorang manusia bisa memuaskan semua orang," katanya.

(TribunWow.com/Anung/Gipty)
Sebagian artikel ini diolah dari Kompas.com dengan judul "Peringati Milad ke-75, Sejumlah Tokoh Deklarasikan Kembali Partai Masyumi"