Breaking News:

Terkini Nasional

Soal Kecemburuan Kesejahteraan TNI dan Polri, Herman Sulistyo Buka-bukaan Gaji Jadi Profesor di ILC

Kapuskamnas Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Herman Sulistyo ikut buka suara terkait perang dingin antara TNI dengan Polri.

Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Ananda Putri Octaviani
Youtube/Indonesia Lawyers Club
Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Kapuskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Herman Sulistyo ikut buka suara terkait perang dingin antara TNI dengan Polri, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (1/9/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Kapuskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Herman Sulistyo ikut buka suara terkait perang dingin antara TNI dengan Polri.

Beberapa gesekan yang terjadi antara TNI dengan Polri satu di antaranya banyak yang menyebut karena faktor kecemburuan kesejahteraan.

Termasuk insiden penyerangan yang terjadi di Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. 

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa bersama dengan Wakapolri, Komjen Pol Gatot Eddy Pramono (kiri) menyambangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur (kiri), Minggu (30/8/2020). Sisa-sisa kerusakan akibat insiden penyerbuan di Polsek Ciracas Sabtu (29/8/2020).
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa bersama dengan Wakapolri, Komjen Pol Gatot Eddy Pramono (kiri) menyambangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur (kiri), Minggu (30/8/2020). Sisa-sisa kerusakan akibat insiden penyerbuan di Polsek Ciracas Sabtu (29/8/2020). (Kolase (Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha), (Tribunnews/JEPRIMA), dan (TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA))

Di ILC, Pakar Militer Ungkap Isu Kecemburuan TNI dengan Polri: Kenapa Enggak di Bawah Kementerian?

Dilansir TribunWow.com, Herman Sulistyo menilai jika memang persoalannya hanyalah karena rasa kecemburuan dari segi kesejahteraan, maka rasanya sangat tidak etis.

Hal itu diungkapkan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (1/9/2020).

Dirinya justru membandingkan dengan gaji yang didapat selama 40 tahun menjadi profesor.

Ia mengaku mendapatkan gaji sekitar Rp 15 juta per bulannya, termasuk gaji pokok dan tunjangan-tunjangannya.

"Jangan bicara mengenai gaji, saya profesor ini, profesor itu jabatan akademik yang diberikan oleh negara sehingga negara mempunyai konsekuensi memberi kompensasi," ujar Herman Sulistyo.

"Profesor itu bukan jabatan akademik, bukan gelar akademik."

"Setelah 40 lebih saya mengabdi menjadi PNS, gajinya cuman 8 juta kok, 9 juta total dengan tunjangan-tunjangan 15 juta," ungkapnya.

Halaman
1234
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved