Ledakan di Beirut
Bantah Donald Trump, Pakar Sebut Ledakan Beirut Lebanon Bukan karena Serangan Militer: Percikan Api
Sebuah ledakan besar telah mengguncang ibukota Lebanon, Beirut, menyebabkan banyak korban, merusak gedung-gedung fasilitas publik, Selasa (4/8/2020).
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Sebuah ledakan besar telah mengguncang ibukota Lebanon, Beirut, menyebabkan banyak korban, merusak gedung-gedung fasilitas publik, Selasa (4/8/2020).
Ledakan yang meratakan sebagian besar pelabuhan ibukota itu, terasa di seluruh kota saat awan jamur raksasa naik di atasnya.
Meski dugaan sementara penyebab ledakan tersebut lantaran dipicu amonium nitrat di sebuah gudang, namun isu terkait penyebab ledakan mulai berkembang di tengah masyarakat.

• Ledakan di Beirut: Kemenlu Sebut Satu WNI Jadi Korban, Alami Luka Ringan
• Reaksi Dunia atas Ledakan Mematikan di Beirut Lebanon, Donald Trump: Serangan yang Mengerikan
Hal itu ditambah dengan cetusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menyebutkan bahwa ledakan tersebut diperkirakan berasal dari serangan militer.
Dilansir aljazeera.com, Rabu (5/8/2020), saksi mata mengatakan banyak yang terluka karena kaca dan puing-puing yang beterbangan akibat peristiwa ledakan tersebut.
Gelombang ledakan tersebut terasa hingga berkilo-kilo meter dan memecahkan kaca bangunan serta meruntuhkan balkon dan langit-langit.
Penyebab ledakan hingga saat ini masih dalam penyelidikan oleh pihak pemerintahan.
Namun diduga berkaitan dengan 2.700 ton amonium nitrat yang disita yang disimpan di gudang di pelabuhan selama enam tahun.
Ledakan ini terjadi pada saat Lebanon melewati krisis ekonomi dan keuangan terburuk dalam beberapa dekade sehingga dikhawatirkan akan memperparah kondisi negara.
Oleh sebab itu, Presiden Libanon Michel Aoun segera turun tangan dan menyerukan pertemuan kabinet darurat pada hari Rabu.
Ia mengatakan keadaan darurat dua minggu harus diumumkan menyusul ledakan besar di Beirut yang menewaskan sedikitnya 78 orang dan melukai 4.000 lainnya.
Seperti yang dikutip TribunWow.com dari Time, Selasa (4/8/2020), ledakan itu terjadi di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militer Hizbullah di perbatasan selatan Lebanon.
Banyak warga melaporkan mendengar pesawat di atas kepala tepat sebelum ledakan, memicu desas-desus tentang serangan oleh militer Israel.
Ledakan itu mengejutkan bahkan untuk sebuah kota yang telah menyaksikan perang saudara 15 tahun, pemboman bunuh diri, pemboman oleh Israel dan pembunuhan politik.
“Itu adalah pertunjukan horor yang nyata. Saya belum pernah melihat yang seperti itu sejak zaman perang (sipil), ”kata Marwan Ramadan, saksi mata yang saat itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari pelabuhan.