Artis Terjerat Prostitusi Online
Kata Psikolog soal Maraknya Kasus Prostitusi di Kalangan Artis, Terbaru Ada Artis FTV Berinisial HH
Psikolog Elizabeth Santosa memberikan pandangannya terkait maraknya kasus prostitusi yang menjerat kalangan artis.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Psikolog Elizabeth Santosa memberikan pandangannya terkait maraknya kasus prostitusi yang menjerat kalangan artis.
Seperti yang diketahui, terbaru ada artis pemeran FTV berinisial HH yang diamankan ketika sedang bersama seorang pria di salah satu kamar hotel bintang lima di Medan, Minggu (12/7/2020).
Dilansir TribunWow.com dalam acara Kabar Petang 'tvOne', Senin (13/7/2020), Elizabeth mengaku sangat miris.

• Penjelasan Kapolrestabes Medan soal Kasus Prostitusi HH, Ungkap Tarif dan Sudah Berjalan Setahun
Ia mengatakan yang membuatnya sangat miris adalah lantaran kebanyakan justru artis-artis yang memiliki usia terbilang masih muda.
"Jadi kalau saya denger miris banget karena usianya itu kebanyakan sekarang ini masih belia," ujar Elizabeth.
Dirinya lantas mengungkapkan beberapa hal yang melatarbelakangi mereka melakukan langkah yang salah, seperti misalnya prostitusi.
Menurutnya, pemicunya tidak hanya semata-mata karena faktor ekonomi.
Melainkan faktor keluarga juga dinilai mempunyai andil cukup besar untuk menentukan sikap anaknya.
"Nah biasanya dari semua faktor pemicu dan secara psikologi kenapa seseorang bisa jatuh dalam prostitusi, seperti masalah ekonomi," jelasnya.
"Tetapi banyak juga mengenai masalah disfungsi keluarganya," kata Elizabeth.
"Jadi biasanya mereka ada yang kabur dari rumah, pernah dilecehkan oleh orang tua, atau ditampar, dipukul, ada kekerasan rumah tangga."
• 5 Fakta Penggerebekan HH di Hotel Bintang Lima, Ditemukan Alat Kontrasepsi hingga Sosok Laki-laki
Selain dua faktor tersebut, menurut Elizabeth adalah karena pergaulan.
Ia mengatakan masa remaja menjadi waktu yang sangat penting dalam menentukan kepribadian seseorang.
"Atau juga masa remaja kelam, itu sudah rusak dari zaman masih SMP atau SMA, pola asuh yang tidak benar," terangnya.
Meski begitu, menurutnya hal itu kembali pada peran keluarga bagaimana dalam melakukan pengawasan terhadap anak, sehingga tidak terjerumus ke dalam hal yang buruk.