Virus Corona
Pesta Pernikahan Jadi Klaster Baru Covid-19 di Semarang, Ganjar Pranowo: Kita Perketat Lagi
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menanggapi klaster pesta pernikahan di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Penulis: Vintoko
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo angkat bicara soal klaster pesta pernikahan di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Dikutip TribunWow.com dari tayangan YouTube KompasTV, Kamis (25/6/2020), akibat pesta pernikahan itu, ibu dan adik mempelai meninggal serta beberapa tamu undangan positif virus Covid-19.
Menanggapi hal tersebut, Ganjar Pranowo bakal memperketat lagi protokol kesehatan saat pesta pernikahan.
• Pesta Pernikahan Berbuah Kabar Duka, Ibu dari Mempelai Meninggal, Ada yang Masih Kritis
Jika pesta pernikahan tidak diperketat dengan protokol kesehatan, maka tidak akan mendapat izin.
"Sebelum mereka melakukan acara itu (pesta pernikahan), kita minta untuk pemerintah untuk kontrol ada berapa dan sebagainya, kalaupun ditungguin, kalau boleh tidak diizinkan, kalau protokolnya tidak ketat maka jangan diizinkan," tegas Ganjar Pranowo.
Ganjar Pranowo juga menginginkan agar jumlah tamu yang menghadiri pernikahan juga harus dibatasi.
Tujuannya, agar dapat memutus mata rantai penyebaran Virus Corona di Semarang.
"Kemarin ada penyelenggara perkawinan menyampaikan kepada saya, 'Kami siap pak'. Ternyata enggak, kalau kejadian seperti itu kita perketat lagi," kata Ganjar Pranowo.
"Maka sebenarnya kalau mereka mengikuti seluruh protokol, keamanannya bisa dijamin, maka dengan kejadian ini harus dibatasi betul," sambung dia.
• Pesta Pernikahan Berujung Duka, Satu per Satu Keluarga Kritis hingga Meninggal Dunia di Semarang
Saat disinggung soal pernikahan hanya dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA), Ganjar Pranowo mengaku sudah merencanakan hal itu sejak lama.
"Sudah sebenarnya, dari dulu sudah, saya pernah menghadiri untuk menjadi saksi yang datang 10 orang di satu ruangan, jaraknya diatur, bahkan keluarga terdekatnya tidak boleh, maka yang seperti itu harus ketat," terangnya.
Menurutnya, pimpinan pejabat harus memberikan contoh kepada masyarakat agar tak melakukan pesta pernikahan yang menyedot banyak tamu undangan.
"Padahal ini keluarga pejabat, ketika saya bertemu pejabatnya, ini pak bupatinya sendiri, 'Aku enggak ikut mas karena sudah 10 orang di sana', ini contoh yang baik."
"Kejadian dulu di Boyolali, maka pak bupatinya, keponakannya yang menikah dia tidak mau masuk, karena protokolnya sangat ketat sekali, contoh seperti ini menurut saya penting."
"Jadi kita dari pimpinannya memberikan contoh yang baik, jangan jadi kompor malahan," pungkas dia.
• Update Klaster Pernikahan di Semarang, Ibu dan Adik Pengantin Meninggal Positif Corona