Breaking News:

Virus Corona

Risma Sebut Masa Transisi seusai PSBB Malah Lebih Berat: Ini Amanah bagi Warga Surabaya

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, Jawa Timur resmi dihentikan, Senin (8/6/2020).

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Claudia Noventa
Dok. Pemkot Surabaya
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat meninjau pembangunan dan renovasi Stadion GBT untuk persiapan Piala Dunia U-20 2021, Minggu (7/6/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, Jawa Timur resmi dihentikan, Senin (8/6/2020).

Pemberhentian tersebut resmi diumumkan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat rapat evaluasi bersama di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Keputusan berakhirnya PSBB itu diambil setelah melalui kesepakat bersama tiga kepala daerah yang terlibat.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharin
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharin (KOMPAS.com/GHINAN SALMAN)

Alasan Khofifah Hentikan PSBB Surabaya meski Tingkat Penularan Lebih Tinggi dari Jakarta

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyebutkan bahwa dengan berakhirnya PSBB, beban masyarakat malah akan semakin berat karena harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Dilansir Kompas.com, Selasa (9/6/2020), dalam sebuah konferensi pers yang digelar di rumah dinasnya, Risma bersyukur PSBB tidak diperpanjang.

Ia menyinggung adanya pihak-pihak yang mengeluhkan status PSBB Surabaya Raya dan meminta PSBB tersebut dihentikan.

Oleh karenanya, setelah PSBB resmi berhenti, Risma meminta masyarakat konsisten untuk terus menerapkan protokol kesehatan jika ingin dapat beraktivitas kembali seperti sedia kala.

"Kalau kemarin banyak yang mengeluh ke saya ingin kehidupan normal, tapi dengan protokol kesehatan ketat. Ayo kita lakukan. Kita harus jaga kepercayaan itu dan tidak boleh sembrono," ujar Risma.

Ia menekankan bahwa dengan adanya kepercayaan tersebut, beban masyarakat dan pemerintah kota semakin berat.

Karena, warga dan pemkot harus bisa menjaga amanah untuk dapat menekan penyebaran Virus Corona di Surabaya.

"Ini justru malah lebih berat karena di pundak kita terdapat kepercayaan, ayo kita jaga. Tidak boleh lengah dan sembrono," kata Risma.

Istri Sah ASN yang Ditemukan Pingsan dengan Selingkuhannya Ungkap Pengakuan soal Gonta-ganti Wanita

Untuk melanjutkan upaya penanggulangan Covid-19 setelah PSBB berakhir, Risma beserta jajarannya telah menyiapkan beberapa skenario.

Di antaranya adalah perkuatan kampung Wani Jogo Suroboyo dan protokol kesehatan tertentu yang diberlakukan di seluruh tempat.

Oleh karenanya, Risma mengajak seluruh warga, khususnya yang berada di Surabaya untuk patuh dan tertib terhadap protokol tersebut.

Alasan Utama Risma Minta PSBB Surabaya Diakhiri: Kalau Mal Terus Sepi Pegawainya Bisa Dipecat

"Kita harus selalu disiplin, tolong ini diperhatikan. Saya sudah membuat protokol kesehatan untuk semua tempat, tolong diikuti dan dipatuhi. Ayo kita perkuat Kampung Wani Jogo Suroboyo untuk menjaga diri kita dan tetangga kita," tegas Risma.

Risma menekankan bahwa masa transisi yang akan dicanangkan di Surabaya merupakan tanggung jawab bersama.

Ia meminta kesadaran dari tiap-tiap masyarakat untuk menjaga diri dan keluarga serta menyadari kondisi tubuh sehingga dapat segera meminta perawatan jika dirasa sakit.

"Sekali lagi, ini amanah bagi warga Surabaya, karena itu kita harus jaga kepercayaan dan amanah ini, jangan sampai kita sembrono. Makanya, kalau kita sudah merasakan sakit, segera periksa dan berobat. Kita harus menjaga diri kita masing-masing supaya tidak sakit. Kalau sakit, ya nanti kita tidak bisa kerja untuk cari uang lagi," tandasnya.

Sementara itu, pada kesempatan lain, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Heru Tjahjono menyebutkan bahwa setelah PSBB berakhir, Surabaya Raya akan memasuki masa transisi.

Masa transisi untuk menuju tatanan normal baru tersebut akan berlaku selama dua minggu.

Adapun aturan terkait penetapan tersebut masih akan melalui pembahasan lebih lanjut.

"Besok regulasinya akan dibahas oleh kepala daerah di sini," kata Heru seusai rapat evaluasi PSBB di Gedung Grahadi, Senin (8/6/2020).

"Masa transisi menuju new normal untuk wilayah Surabaya Raya dua pekan," ujarnya.

Menurut Heru, keputusan untuk menghentikan PSBB tersebut adalah keputusan bersama dari Wali Kota Surabaya, Bupati Gresik dan Sidoarjo.

"Gubernur Jawa Timur dalam hal ini hanya fasilitator saja," terangnya.

Bandingkan PSBB Malang dengan Jakarta, Pengamat Trubus Soroti Warga DKI Tak Disiplin: Tidak Optimal

Keputusan Pemberhentian PSBB

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memutuskan untuk menghentikan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Surabaya Raya, Senin (8/6/2020).

Dilansir tayangan KompasTV, Selasa (9/6/2020), Khofifah menjelaskan bahwa setiap pertimbangan yang dilakukan telah melibatkan pakar dari berbagai bidang.

"Jadi pada dasarnya dari awal kita akan melaksanakan PSBB tentu kita mendengar pakar epidemologi, kedua IDI, ketiga PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia). Kita melihat berbagai kesiapan rumah sakit rujukan yang ada berapa bed, berapa ventilator, dan seterusnya," tutur Khofifah.

Khofifah menyebutkan bahwa sebenarnya para pakar epidemologi meminta agar PSBB belum dihentikan karena kondisi penyebaran Covid-19 di Surabaya Raya masih mengkhawatirkan.

"Lalu tadi malam, H-1 sebelum berakhirnya masa PSBB tahap ketiga, kita mengundang perwakilan dari kabupaten/ kota."

"Kemudian doktor Windu yang mengomandani dari tim epidemologi FKM Unair, itu menjelaskan bahwa sesungguhnya Surabaya ini belum aman, Gresik belum aman, Sidoarjo belum aman, sebaiknya bersabar dulu," ujarnya.

Menurut penghitungan secara epidemologis, tingkat penularan di Surabaya masih lebih tinggi dari pada Jakarta.

Namun ada optimisme bahwa rate of transmission atau tingkat penularan di Surabaya hanya sebesar 1,0 dan diharapkan akan terus menurun.

"Dengan data-data misalnya attack ratenya itu masih 94,1, bahkan lebih tinggi dari Jakarta. Ada optimisme memang, artinya rate of transmissionnya itu 1,0 Surabaya," terang Khofifah.

"Optimisme ini sesungguhnya bisa menjadi pendorong bagaimana untuk pendisiplinan yang lebih ketat, sehingga bisa mencapai titik dimana sebetulnya Surabaya, Gresik, Sidoarjo, ini sudah pernah mencapai rate of transmissionnya 0,3 Gresik," imbuhnya.

Khofifah lalu mengatakan bahwa kepala daerah dari ketiga wilayah yang meminta PSBB tersebut dihentikan, harus menyiapkan peraturan wali kota dan peraturan gubernur.

Peraturan tersebut nantinya akan menjadi dasar pelaksanaan pemberlakuan dan pengetatan aturan setelah PSBB diakhiri.

"Sehingga kalau tiga daerah ini ingin melanjutkan dengan berbagai kearifan lokal yang dimiliki, energi dan kekuatan yang dimiliki, maka kita mengharapkan bahwa besok kita akan mendapatkan perwali dan pergub yang malam ini akan difinalkan," kata Khofifah.

Kritik New Normal Terlalu Cepat, Pengamat Trubus Sebut PSBB Jadi Rancu: Tidak Bisa Ujug-ujug

Oleh karenanya, meski tingkat kasus Covid-19 di Surabaya Raya masih tinggi, status PSBB di wilayah tersebut akan dihentikan.

Kemudian akan digantikan dengan format yang lebih sesuai untuk tiap daerah yang dirasa akan lebih efektif dalam menanggulangi penyebaran Virus Corona di Surabaya Raya.

"PSBB yang mestinya bisa menjadi pemutus mata rantai penyebaran Covid ini belum aman semua, tapi kesepakatan yang sudah diambil oleh forum tadi malam, mereka, kabupaten/ kota ini akan melanjutkan dengan format yang bisa meningkatkan efektivitas," tandasnya.

Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke-00:16:

(TribunWow.com)

Sebagian artikel ini merupakan olahan dari Kompas.com dengan judul "PSBB Surabaya Raya Berakhir, Risma: Ini Lebih Berat, Kita Tidak Boleh Lengah dan Sembrono" dan "PSBB Surabaya Raya Tak Diperpanjang, Masa Transisi Berlaku 2 Pekan"

Tags:
Tri Rismaharinipembatasan sosial berskala besar (PSBB)Virus CoronaCovid-19SurabayaKhofifah Indar Parawansa
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved