Breaking News:

Virus Corona

Alasan Utama Risma Minta PSBB Surabaya Diakhiri: Kalau Mal Terus Sepi Pegawainya Bisa Dipecat

Meski kasus positif Virus Corona di Kota Surabaya, Jawa Timur, masih tinggi, namun Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta agar PSBB dihentikan.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Claudia Noventa
KOMPAS.com/GHINAN SALMAN
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Risma beserta jajarannya akan mengusulkan agar PSBB Surabaya tidak dilanjutkan, Minggu (7/6/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Meski kasus positif Virus Corona di  Jawa Timur masih terbilang tinggi, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta agar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak diperpanjang.

Risma mengusulkan hal tersebut demi mengembalikkan kondisi perekonomian warga Surabaya yang sempat terpuruk selama PSBB diberlakukan.

Oleh karena itu, ia dan jajarannya terus berusaha melakukan uji tes Covid-19 secara masif agar masalah pandemi di kotanya tersebut segera berakhir.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengusulkan agar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan.  Hal itu diungkapkan Risma saat meninjau kesiapan Gelora Bung Tumo untuk Piala Dunia 2021 pada Minggu (7/6/2020).
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengusulkan agar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan. Hal itu diungkapkan Risma saat meninjau kesiapan Gelora Bung Tumo untuk Piala Dunia 2021 pada Minggu (7/6/2020). (Youtube/KompasTV)

Tangisan Risma Dapat Bantuan BIN yang Sudah Ditunggunya selama Berbulan-bulan: Terima Kasih Sekali

Dilansir Kompas.com, Risma menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (8/6/2002).

"Ini teman-teman lagi membahas hal itu. Mudah-mudahan nanti bisa diterima usulan kita sama Bu Gubernur," ujar Risma Minggu (7/6/2020).

Ia mengatakan, ini saatnya untuk memulai melonggarkan pembatasan di Surabaya agar ekonomi warga dapat mulai bergerak.

Untuk itu, Risma beserta timnya akan mengajukan usulan penghentian PSBB tersebut kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ketika rapat evaluasi PSBB Raya di Gedung Grahadi malam nanti.

"Kan kita tidak bisa, kalau mal terus sepi kan pegawainya bisa dipecat. Jadi ini harus kita mulai. Karena sekali lagi saya khawatir sama hotel, restoran. Kan enggak mungkin, membayar orang tapi nganggur, sedangkan mereka tidak punya pendapatan," tuturnya.

Risma sadar, saat ini penyebaran Virus Corona di Surabaya masih dalam kondisi yang kurang baik.

Sehingga, protokol kesehatan yang akan tetap diberlakukan dengan ketat demi memutus rantai penyebaran virus.

"Karena kita belum bebas 100 persen, jadi artinya kita harus lakukan protokol yang ketat, mulai nanti bagaimana di restoran, di warung. Bahkan kita juga atur pembayarannya cara menggunakan uang itu, cara nerimanya bagaimana," ungkap Risma.

Selain itu, pihaknya telah mengupayakan untuk meminta bantuan pada pemerintah pusat untuk menyediakan alat rapid tes untuk para pegawai pusat perbelanjaan.

"Ini saya sudah mohon ke Pak Menteri (Menkes Terawan Agus Putranto), nanti kalau kita ada rapid test, kita prioritaskan itu pegawai minimarket, supermarket, pegawai mall, pegawai toko," terang Risma.

"Mudah-mudahan kami punya alat rapid test-nya. Sehingga, kembali bisa normal dalam ikatan yang disebut Pak Presiden Joko Widodo new normal ," lanjutnya.

Surabaya Klaster Baru Corona, Hasil Rapid Test Massal BIN dan Pemkot Total 1.300 Reaktif Covid-19

Penyebaran Covid-19 di Surabaya Terkendali

Halaman
123
Tags:
Virus CoronaCovid-19pembatasan sosial berskala besar (PSBB)Surabaya
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved