Terkini Internasional
Kisah Pria Ngaku Diperkosa Istri Selama 10 Tahun: Dicakar jika Tak Mau Melayani hingga Terjebak
Seorang pria di Ukraina yang tak mau disebutkan namanya mengaku menjadi korban pemerkosaan oleh istrinya selama 10 tahun.
Editor: Lailatun Niqmah
Saya lalu kembali ke rumah orang tua saya dan tidak berencana menghubungi Ira, apalagi tinggal dengannya. Tapi upaya saya untuk menghindari Ira berlarut sampai bertahun-tahun.
Kami sering bertengkar, dan saya mematikan telepon dan memblokirnya di platform manapun. Saya biasanya sembunyi tapi ia akan mendatangi saya dan duduk di sisi lain pintu. Ia menelpon saya dan berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Saya pun selalu kembali ke Ira, setiap saat. Saya sangat takut sendiri.
Pada awalnya, saya sering mencoba untuk putus dengannya, tapi lama-kelamaan saya menyerah. Ia berkeras kita menikah, dan kami pun menikah meskipun saya tidak mau.
Ira cemburu dengan siapa saja: teman-teman saya, keluarga saya. Ke manapun saya pergi saya harus menelponnya.
"Kenapa saya menghadiri konferensi itu?" "Kenapa saya bertemu teman ini?" Saya harus bersamanya, dalam genggamannya. Ia tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa saya--saya semacam sumber hiburan baginya.
Ira tidak bekerja. Saya yang bekerja, masak, dan bersih-bersih. Kami menyewa apartemen besar dengan dua kamar mandi. Saya dilarang memakai kamar mandi utama dan harus memakai kamar mandi tamu. Setiap pagi saya harus menunggu sampai ia bangun tidur pukul sembilan atau sepuluh pagi, kalau tidak saya akan mengganggunya.
Ia memutuskan kalau kami harus tidur di kamar yang berbeda, di mana kamar saya tidak ada kuncinya, jadi saya tidak bisa sendiri.
Kalau saya berbuat 'salah', ia akan berteriak dan memukul saya. Ini terjadi sekali sehari atau setiap dua hari sekali. Apapun yang terjadi, dia selalu menyalahkan saya. Ia terus berkata pria macam apa yang ia butuhkan dan apa yang seharusnya pria itu lakukan.
Saya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya melakukan apapun yang dimintanya untuk menghindari kemarahannya--dan ini yang terjadi berikutnya.
Saya ingat turun tangga dan duduk di mobil, menangis. Ia berjalan dan melihat saya. Ketika saya pulang ke rumah, ia mengatakan ia sangat menyesal, tapi ia tidak bisa berhenti. Jadi semuanya akan terulang di hari berikutnya. Apapun yang saya lakukan, dan apapun yang saya rasakan, tidak ada yang berubah.
Saya juga tidak sempurna. Untuk menghindari semua ini, saya biasa bekerja selama 10, 12, 14 jam sehari, pada akhir pekan atau liburan. Pilihannya mudah bagi saya--beberapa orang memilih minum, saya memilih bekerja.
Kenapa korban kekerasan tidak meninggalkan pelaku?
- Orang yang tumbuh di keluarga yang mengalami kekerasan mengulangi perilaku orangtuanya di keluarga mereka sendiri.
- Korban takut isolasi dan stereotipe: "Apa yang akan tetangga katakan?" "Seorang anak harus tumbuh bersama kedua orang tuanya."
- Tahapan pertama, kekerasan psikologi, sulit dikenali. Oleh karenanya, korban secara perlahan terbiasa dan kehilangan kemampuan untuk menganalisasi situasi dan bertindak.
- Korban kekerasan tidak punya tujuan lain, keuangannya bergantung pada pelaku, atau berada di posisi yang rentan (seperti hamil atau anaknya masih kecil.)
- Saat meminta tolong pada petugas yang berwenang, mereka menjawab "Ini masalah keluarga" dan menyerah.
Demikian menurut Alyona Kryvuliak, kepala Departemen Hotline Nasional La Strada-Ukraina, dan Olena Kochemyrovska, penasihat untuk Dana Populasi di PBB untuk mencegah dan menangkal kekerasan gender.
'Saya mulai bicara dan tidak bisa berhenti'