Breaking News:

Virus Corona

Tak Semua Murid Bisa Belajar secara Online, Begini Kisah Guru Perbatasan di Tengah Pandemi Covid-19

Kisah seorang guru di perbatasan yang mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan belajar secara daring atau online.

Istimewa/Serambinews
Guru SMK Swasta Arongan Lambalek, mengajar di salah satu rumah siswa Desa Simpang Peut, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat paska diliburkan sekolah akibat penyebaran wabah virus corona, Sabtu (11/4/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Kisah seorang guru di perbatasan yang mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan belajar secara daring atau online.

Diketahui, selama pandemi Virus Corona atau Covid-19 kegiatan belajar di Indonesia diganti dengan sistem online.

Namun, mereka yang berada di perbatasan terbentur kenyataan bahwa akses internet merupakan suatu kemewahan.

Seorang guru sekolah dasar (SD) di Sanggau, Kalimantan Barat, Titis Kartikawati, menceritakan bahwa di daerah tempatnya mengajar masih banyak titik-titik yang tak terjangkau internet.

Kisah Murid Kesulitan Belajar di Rumah karena Tak Miliki HP, Guru Akhirnya ke Rumah untuk Mengajar

Maka, tidak mungkin baginya memberikan pembelajaran secara online kepada para siswa.

"Tidak semua daerah punya jaringan internet. Banyak blank spot di Sanggau, tidak bisa mengakses internet. Jadi pembelajaran daring tidak bisa dilaksanakan," kata Titik dalam konferensi pers "Inspirasi Para Pejuang Pendidikan pada Masa Pandemi Covid-19" di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (2/5/2020).

Menurut Titis, orangtua siswa yang diajar kebanyakan bekerja sebagai buruh tani atau pedagang sayur.

Membeli kuota internet pun bukan jadi prioritas mereka.

"Di sini orangtuanya masih banyak yang bekerja sebagai buruh tani, pekerja sawit, kemudian pedagang sayur, dan sebagainya. Jadi pakai internet itu cukup memberatkan biayanya," tutur dia.

Ia pun mengaku terbantu dengan program Radio Republik Indonesia (RRI) yang mengajak komunitas guru berkolaborasi mengisi program belajar yang disiarkan khusus selama pandemi.

"Kami Alhamdulillah bisa berkolaborasi dengan RRI dan komunitas guru belajar mengadakan kegiatan RRI selama sejam," kata Titis.

"Kami bergantian Senin sampai Jumat memberikan materi sesuai dengan yang mereka kuasai, tapi tidak harus mengejar sesuai kurikulum tapi bisa memberikan pembelajaran seperti arahan Kemendikbud," imbuhnya.

Lain halnya dengan Titik Nur Istiqomah, guru SD di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Kisah Pria di Inggris yang Menato Tubuhnya Tiap Hari selama Lockdown: Tak Banyak Tempat yang Tersisa

Titik mengaku bersyukur, penggunaan teknologi di Pulau Jawa sudah tak asing bagi para siswa dan orangtua.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved