Breaking News:

Virus Corona

Mudik dari Wilayah Zona Merah, Satu Keluarga di Sulawesi Tinggal di Sawah karena Ditolak Warga

Satu keluarga ditolak warga kampungnya di Mamasa, Sulawesi Selatan, hingga harus tinggal di sawah setelah mudik dari Makassar.

Penulis: Rilo Pambudi
Editor: Atri Wahyu Mukti
Capture YouTube TVOne News
Satu keluarga ditolak warga kampungnya di Mamasa, Sulawesi Selatan setelah mudik dari Makassar. 

TRBUNWOW.COM - Satu keluarga di Kabupaten Mamasa, harus tinggal di sawah setelah pulang kampung karena ditolak warga.

Penolakan warga terjadi karena khawatir terjadi penularan Covid-19.

Pasalnya, Paulus bersama istreri dan kedua anaknya baru saja mudik dari kawasan zona merah yakni, Makassar.

Paulus berserta istri dan dua anaknya ditolak warga kampungnya di Mamasa, Sulawesi Selatan setelah mudik dari Makassar.
Paulus berserta istri dan dua anaknya ditolak warga kampungnya di Mamasa, Sulawesi Selatan setelah mudik dari Makassar. (Capture YouTube TVOne News)

 

Wanita Diperkosa saat Dikarantina di Sekolah soal Corona, Polisi Kena Hukuman sebab Dianggap Ceroboh

Tidak hanya sekali, keluarga Paulus sempat diusir sebanyak 2 kali sebelum akhirnya tinggal di gubuk kecil disebuah area persawahan.

Selain ditolak untuk pulang ke rumahnya, Paulus juga ditolak untuk tinggal dan diminta mengikuti prosedur karantina yang telah disiapkan oleh tim gugus tugas setempat.

Alasannya, warga takut karena tempat karantina terdapat di tengah pemukiman warga.

Lantaran dua kali mendapat penolakan, keluarga Paulus akhirnya melakukan karantina mandiri di tengah sawah.

Dilansir TribunWow.com, Paulus dan keluarganya hanya bisa pasrah dan menerima keadaan untuk tinggal di area persawahan.

Paulus bercerita bercerita, mulanya ia berserta keluarga berinisiatif untuk mengkarantina diri di kampung istrinya, Dusun Mongen, Desa Osango, Kecamatan Mamasa.

Namun, sesampainya dikampung halamannya ada sejumlah oknum masyarakat yang tidak menginginkan kedatangan Paulus karena dianggap dapat menularkan wabah.

Meski begitu Paulus sadar bahwa oknum tersebut tidak paham dengan apa yang dimaksud karantina.

"Setelah kami sampai di Mongen, ada penolakan dari oknum masyarakat," ujar Paulus dikutip dari kanal tvonenews, Senin (27/4/2020).

"Jadi di situ menolak kami. Mereka seakan beringas melarang kami masuk," ujar Paulus.

Pengamat Setuju Pemerintah Persuasif soal Penanganan Corona: Kalau Represif, Ada Guncangan Sosial

Andrea Dian Cerita Kejadian Pasien Virus Corona Gigit Perawat: Dia Ada Bekas di Tangannya Gitu

Ditolak Kedua Kali-nya

Dikutip dari TribunTimur, karena penolakan tersebut Paulus lalu memutuskan menghubungi saudaranya supaya dijemput.

Dia dan keluarganya pun dijemput oleh adiknya untuk kemudian dibawa ke Desa Satanetean, Kecamatan Sesenapadang, tempat kelahiranya.

"Saya dijemput dengan ketentuan saya ikut aturan menjalani karantina mandiri," tutur Pulus seperti dikutip TribunWow.com.

"Kami langsung bergegas dan meninggalkan warga yang tengah marah-marah," lanjutnya.

Kemalangan yang dialami Paulus seusai ditolak warga di Mongen, bertambah saat ia tiba di desa kelahirannya.

Pasalnya, di desa itu dia dan keluarganya juga ditolak warga saat akan dikarantina di satu di antara rumah guru yang kosong yang memang oleh pemerintah desa setempat dijadikan tempat karantina.

"Lagi-lagi kami ditolak warga. Kami bukannya senang malah tambah bingung. Kami harus ke mana lagi," ujar Paulus.

Saat itu kata dia, kepala desa tidak bisa berbuat banyak lantaran takut warga lainnya mengamuk.

UPDATE Virus Corona di Indonesia 27 April 2020: 9096 Kasus Positif, 765 Meninggal, 1151 Sembuh

Hingga akhirnya, atas inisiatif keluarga dan kepala desa, Paulus menjalani karantina di pondok milik kerabatnya di tengah sawah.

Kondisi Pulus dan keluarganya yang tinggal di pondok kecil tersebut cukup memprihatinkan.

Pondok yang terbuat dari anyaman bambu itu tidak lebih besar dari ukuran 2x2 meter persegi.

Di atas gubuk panggung itu  terdapat bagian dapur sehingga tempat untuk tidur sangat sempit.

Belum lagi barang bawaan mereka banyak, sehingga satu-satunya cara, Paulus memilih tidur di bawah tanah berlantai bambu beralaskan tikar.

Parahnya lagi, pondok yang ditinggali sangat berdekatan dengan kandang kerbau milik si pemilik pondok.

Beruntung, pemilik pondok dengan rela memindahkan kerbaunya sehingga keluarga Paulus tidak lagi bertetangga dengan kerbau.

Kondisi Paulus dan keluarganya sempat diposting oleh adiknya di grup facebook hingga viral.

Setelah viral, barulah pemerintah desa dan sejumlah instansi memberikan bantuan makanan.

"Saya berterima kasih karena sudah ada bantuan dari pemerintah setempat dan kepolisian," katanya.

Kepala Desa Satanetean, Soleman saat ditanya alasan ia menempatkan warganya di gubuk sawah tidak layak huni menjalani karantina, ia mengaku Paulus sempat mendapat penolakan dari warga.

"Ada kita siapkan sekolah dan rumah guru tetapi berada di tengah pemukiman sehingga ditolak warga.

Terpaksa kita taruh di sini. Di sini juga kita masukkan listrik sebagai alat penerangan," tuturnya.

Berkumur dengan Air Garam Bisa Matikan Virus Corona? Simak Penjelasan Ahli Virologi Asal Inggris Ini

Simak video selengkapnya:

(TribunWow.com/Rilo)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Virus CoronaSulawesiCovid-19Makassar
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved