Terkini Nasional
Rindukan Sosok Moh Hatta, Refly Harun Sindir Etika Stafsus Milenial: Mungkin secara Akademik Bagus
Refly Harun menilai para Stafsus milenial belum waktunya untuk diberikan jabatan di pemerintahan karena masih kurang dalam banyak hal.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Ahli hukum tata negara Refly Harun menanggapi kualitas Staf Khusus (Stafsus) presiden milenial yang menurutnya masih banyak kekurangan.
Refly mengatakan belum saatnya para pemuda tersebut diberikan jabatan penting seperti Stafsus presiden.
Ia lantas membandingkan kualitas Stafsus milenial dengan wakil presiden Indonesia pertama Mohammad Hatta.

• Refly Harun Duga Jokowi Angkat Stafsus Milenial Cuma untuk Pamer: Ini Loh Ada Milenial yang Berhasil
Dikutip dari YouTube Refly Harun, Sabtu (25/4/2020), awalnya Refly mengatakan hal yang kurang dari para Stafsus milenial tersebut adalah kematangan.
"Ada satu yang saya catat, soal kematangan, idealisme," ucap Refly.
Mantan Komisaris Utama Pelindo I itu menjelaskan bagaimana etika para pejabat publik di Indonesia tidak disiplin.
"Di Indonesia ini kalau kita bicara mengenai etika pejabat publik, terlalu loss (lenggang) terlalu cair," ujarnya.
Melihat kondisi pejabat publik pada masa ini, Refly mengakui dirinya merindukan sosok Wakil Presiden Indonesia pertama Mohammad Hatta.
Menurut Refly, Mohammad Hatta adalah sosok pejabat publik yang disiplin, dan bersih dalam menjalankan mandat negara.
"Kita tidak lagi bisa menyaksikan pejabat publik sekelas Moh Hatta, yang betul-betul disiplin, yang betul-betul menggunakan keuangan negara dan kekuasaan itu sesuai mandat, keyakinan yang dituntun akhlak, perilaku serta agamanya," paparnya.
Refly mengakui saat ini sulit mendapatkan pejabat publik yang bisa memiliki kedisiplinan sekelas Mohammad Hatta.
"Tidak mudah mendapatkan orang sekelas Hatta, dia matang dari sisi pergerakan, matang secara intelektual dan kemudian matang hidup melakukan aktivitas kenegaraan," imbuhnya.
• Andi Taufan Pamit dari Stafsus, Refly Harun Ungkit Konten Lama: Saya Tak Tahu Apakah Ada Hubungannya
Belum Saatnya Jadi Pejabat
Refly lalu kembali menyinggung soal sejumlah Stafsus milenial.
Ia memuji prestasi mereka dari sisi akademik, namun di sisi lain menurutnya para Stafsus milenial tersebut masih belum matang untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan, dan negara.
"Anak muda ini mungkin secara akademik bagus, lulusan Hardvard, lulusan Stanford, lulusan Nanyang Technological University di Singapura, secara bisnis mungkin growing up," ujar Refly.
"Tetapi dari sisi activism, dari sisi kehidupan, berbenturan dengan masalah-masalah kehidupan, etika kenegaraan, mungkin jauh dari mata," tambahnya.
Refly mengkhawatirkan kemampuan para Stafsus milenial memberikan saran kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Jadi kalau misalnya Presiden Jokowi mengharapkan orang-orang yang belum matang untuk menasihati dirinya, saya khawatir jangan-jangan nasihat yang muncul adalah nasihat yang mentah juga," terangnya.
Namun Refly menegaskan bahwa dirinya tidak meremahkan para pemuda yang dipilih oleh Presiden Jokowi menjadi Stafsus milenial.
Meskipun untuk saat ini Refly menegaskan bahwa mereka belum pantas untuk memegang jabatan yang begitu penting di dalam pemerintahan.
"Kita tidak underestimate (meremehkan) kepada generasi muda ini, saya yakin Ahmad Taufan, Belva Devara akan menjadi orang-orang hebat di masa depan," ujar Refly.
"Tetapi mengkarbit mereka saat ini, memberi mereka ruang, etalase dan lain sebagainya itu tidak akan mendidik mereka," tandasnya.
• Pilih Mundur dari Stafsus Presiden, Andi Taufan Ingin Mengabdi secara Penuh pada Masyarakat
Simak videonya mulai dari menit ke 6.00:
Belva Tidak Ingin Presiden Banyak Pikiran
Sebelumnya, Staf Khusus (Stafsus) milenial Persiden RI Joko Widodo (Jokowi) Adamas Belva Syah Devara telah resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai Stafsus.
Pria yang juga menjadi CEO dari Ruang Guru tersebut mengundurkan diri setelah beberapa hari sebelumnya sempat menjadi perhatian publik karena dituding memanfaatkan posisinya sebagai Stafsus untuk kepentingan perusahaan miliknya.
Pernyataan mengundurkan dirinya ia sampaikan lewat akun Instagram resmi miliknya, @belvadevara, Selasa (21/4/2020).

Pada unggahannya tersebut Belva mengakui telah mengirim surat pengunduran diri kepada Jokowi pada Rabu (15/4/2020), dan telah sampai kepada RI 1 di hari Jumat (17/4/2020).
Kemudian ia meluruskan kembali soal Ruang Guru menjadi mitra dari program Kartu Prakerja.
Ia menjelaskan sama sekali tidak ada konflik kepentingan pada kebijakan tersebut.
"Seperti yang telah dijelaskan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian dan Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja (PMO), proses verifikasi semua mitra Kartu Prakerja sudah berjalan sesuai aturan yang berlaku, dan tidak ada keterlibatan yang memunculkan konflik kepentingan.
Pemilihan pun dilakukan langsung oleh peserta pemegang Kartu Prakerja." tulis Belva.
• Curiga Ruang Guru Aji Mumpung, Refly Harun Minta Belva Mundur dari Stafsus: Tak Perlu Tanya Presiden
Alasan Mundur
Belva mengatakan pengunduran dirinya ia lakukan karena tidak ingin timbul adanya kerusuhan akibat adu pendapat soal dirinya terlibat konflik kepentingan.
Ia tak ingin pemerintah yang kini sedang sulit menangani Covid-19 justru disibukkan oleh asumsi dirinya terlibat konflik kepentingan.
"Namun, saya mengambil keputusan yang berat ini karena saya tidak ingin polemik mengenai asumsi/persepsi publik yang bervariasi tentang posisi saya sebagai Staf Khusus Presiden menjadi berkepanjangan,
yang dapat mengakibatkan terpecahnya konsentrasi Bapak Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan dalam menghadapi masalah pandemi COVID-19." ujar Belva.

• Mantan Stafsus SBY Yenny Wahid Komentari Polemik Stafsus Jokowi: Boro-boro Dapat Proyek Pemerintah
Belva lalu berterima kasih atas Presiden Jokowi yang telah menerima pengunduran dirinya.
"Saya berterima kasih kepada Bapak Presiden Joko Widodo yang telah memahami dan menerima pengunduran diri saya." ujarnya.
Belva lanjut menjelaskan bagaimana dirinya banyak belajar selama menjadi Stafsus Jokowi.
Ia juga mengakui kinerja Jokowi yang ia anggap efektif, dan efisien serta transparan.
Meskipun telah keluar dari lingkar dalam pemerintahan, Belva tetap berkomitmen untuk membantu program-program pemerintah.
"Walau singkat, sungguh banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari pekerjaan sebagai Stafsus Presiden.
Saya merasakan betul bagaimana semangat Bapak Presiden Jokowi dalam membangun bangsa dengan efektif, efisien, dan transparan.
Sehingga di manapun saya berada, di posisi apapun saya bekerja, saya berkomitmen mendukung Presiden dan Pemerintah untuk memajukan NKRI." tulis Belva.
Terakhir Belva juga menjawab mengapa dirinya tidak merespon pertanyaan-pertanyaan dari media.
"Dengan ini, saya juga ingin menjelaskan bahwa saya tidak dapat merespon pertanyaan-pertanyaan media dalam beberapa hari terakhir karena saya ingin fokus dalam menyelesaikan hal ini terlebih dahulu.
Terima kasih untuk teman-teman yang telah menghormati dan menghargai keputusan saya tersebut." tulis Belva. (TribunWow.com/Anung)