Breaking News:

Virus Corona

Waspada Gelombang Kedua Penularan Virus Corona, Epidemiolog: Sulit Dihindari, Masih Rawan

Dicky Budiman mengatakan bahwa potensi memasuki fase kedua penularan Virus Corona di Indonesia masih sangat besar.

Penulis: Rilo Pambudi
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
Kanal YouTube metrotvnews
Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan bahwa potensi memasuki fase kedua penularan Virus Corona di Indonesia masih sangat besar. 

TRIBUNWOW.COM - Pakar epidemiologi Dicky Budiman mengatakan bahwa potensi memasuki fase kedua penularan Virus Corona di Indonesia masih sangat besar.

Meskipun, gelombang pertama penularan Covid-19 di Indonesia masih belum dilewati.

Hal itu disampaikan Dicky Budiman dalam wawacara di kanal YouTube metrotvnews, Senin (20/4/2020) melalui sambungan skype.

Seorang petugas medis mengecek temperatur tubuh seseorang di RS Palang Merah Wuhan, 25 Januari 2020.
Seorang petugas medis mengecek temperatur tubuh seseorang di RS Palang Merah Wuhan, 25 Januari 2020. (AFP)

Kriminalitas Meningkat saat Wabah Corona, Reza Indragiri Soroti Keputusan Menkumham: Seberapa Jauh?

Sedangkan untuk puncak penularannya sendiri, Covid-19 di tanah air masih diperkirakan baru akan mencapai puncaknya pada Mei mendatang.

Meski demikian prakiraan tersebut masih berpotensi bergeser sejalan dengan data yang tervalidasi dan yang ter-update.

"Untuk Indonesia tentu kita masih tahap gelombang pertama, dan puncak pun seperti banyak diperkirakan, diperkirakan awal Mei."

"Walaupun itu juga bisa bergeser karena banyak data yang harus kita validasi dan update."

Dicky mencontohkan negra seperti China, Singapura, dan Korea yang sukses melewati gelombang penularan pertama kini tengah memasuki gelombang kedua.

Untuk itu, Indonesia meski bekerja lebih ekstra dan terus waspada dalam penangan wabah tersebut.

Ia mengatakan bahwa Indonesia saat ini harus terus berupaya dan tetap fokus untuk melakukan pelandaian kurva di gelombang pertama.

Hal itu tentunya dilakukan dengan cara peningkatan cakupan tes dan tracing yang sigap.

Jepang Kewalahan Tangani Lonjakan Pasien Corona, Ambulans Sampai Ditolak di 80 Rumah Sakit

Nangis Cerita Kehidupannya, Pemulung Ini Pernah Tak Makan 2 Hari karena Corona: Ada Garam, Ya Garam

 "Untuk sebagaimana kita ketahui untuk China, Singapura, Taiwan dan Korea mereka sudah melewati gelombang pertama, dan saat ini mereka dalam posisi munculnya serangan gelombang kedua," ujarnya mencontohkan.

"Belum, dan kita masih harus berupaya tetap fokus pada upaya di gelombang pertama dan mudah-mudahan kita bisa melakukan pelandaian kurva tentu dengan peningkatan cakupan tes, deteksi dan tracing dari penderita Virus ini," tambahnya.

Menurut Dicky, datangnya gelombang kedua penuklaran wabah ini adalah sesuatu yang sulit dihindari.

Pasalnya, sebagai virus yang memiliki angka reproduksi dasar di atas 1, Covid-19 akan terus memberi petonsi untuk menularkan.

Apalagi wabah ini berupakan pandemi baru di mana manusia belum memiliki imunitas atasnya.

Untuk itu, satu wilayah yang masih rawan dan belum memiliki imunitas masih memiliki potensi besar untuk memasuki gelombang penularan berikutnya.

"Dan yang perlu dipahami bahwa yang namanya gelombang kedua ini memang sesuatu yang sulit dihindari,"terang Dicky.

"Karena selama penyakit Covid-19 ini memiliki basic reproduction number atau RO di atas 1 dia akan terus memberi potensi untuk menularkan."

"Dan karena ini penyakit baru sebagian besar dari populasi memang tidak memiliki imunitas, artinya mereka rawan," lanjutnya.

"Sehingga semakin banyak di daerah atau di negara tersebut masih rawan belum memiliki imunitas terhadap Covid-19, ya semakin besar terjadinya potensi serangan baik gelombang kedua maupun gelombang berikutnya," tandasnya.

Soal Transparansi Data Corona Indonesia, Epidemiologis Inggris: Hati-hati saat Anda Lihat Semuanya

Simak videonya mulai dari menit ke 00.25:

Epidemiolog UI Prediksi Penyebaran Covid-19 Memuncak pada Bulan Ramadan

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono memprediksi persebaran Virus Corona di tanah air akan mencapai puncaknya pada bulan Ramadan mendatang.

Hal itu disampaikan Pandu Riono dalam Satu Meja The Forum di kanal Kompas TV, Rabu (15/4/2020) melalui sambungan Skype.

Prediksi tersebut berdasarkan pada semakin tingginya intensitas test yang telah dijalankan pemerintah.

Pakar Epidemiologi UI, Pandu Riono memprediksi persebaran Virus Corona di tanah air akan mencapai puncaknya pada bulan Ramadan mendatang.
Pakar Epidemiologi UI, Pandu Riono memprediksi persebaran Virus Corona di tanah air akan mencapai puncaknya pada bulan Ramadan mendatang. (Capture YouTube Kompas TV)

Selain itu intensitas PSBB yang dilakukan suatu daerah juga bisa menjadi dasar prakiraan angka tertinggi penularan Covid-19 di Indonesia.

Asumsinya, apabila angka tertinggi itu bisa segera diketahui, maka tugas untuk segera menurunkan angka penularan tersebut akan semakin efektif.

"Epidemi ini memuncak, dengan kita sekarang sudah moderat maksudnya dengan intensitas dengan PSBB dan test sudah mulai meningkat itu di harapkan pada waktu di bulan Ramadan itu akan mulai meningkat tinggi," ujar Pandu Riono.

Di samping itu, apabila nanti di bulan Ramadan Covid-19 ini benar-benar mencapai angka tertingginya, maka akan segera bisa dirunkan dan menghindari angka penularan maksimal yang ditakutkan yaitu 1 juta kasus.

"Kemudian dan kalau terus intensitasnya benar-benar selama bulan Ramadan meningkat, bisa kita turunkan tidak terjadi seperti yang kita takuti mendekati 1 juta," tambahnya.

Faktor lain yang bisa menekan angka penularan maksimal adalah memaksimalkan masyarakat di wilayah khususnya Jabodetabek untuk tidak melaksanakan mudik lebaran ke daerah.

Pasalnya, angka pemudik itu sendiri tahun ini diasumikan sekitar 20%  penduduk Jabodetabek atau 50 % dari jumlah mudik tahun lalu.

Oleh karena itu apabila angka pemudik bisa ditekan, jumlah maksimal penularan Covid-19 bisa segara terbaca dan segera diturunkan.

"Dan kemudian kalau mudiknya bisa dicegah,bisa tidak terjadi itu kita bisa mencegah 200 ribu seandainya mudik itu kita biarkan."

"Karena kita asumsinya itu kira-kira 20 % dari penduduk Jabodetabek atau 50 % dari tahun lalu," terang Pandu.

Disinggung soal efektifitas PSBB yang dilaberlakukan baru-baru ini, Padu mengatakan hal itu masih belum berjalan efekti.

Ia memandang, PSBB yang diberlakukan pada minggu-minggu ini setidaknya masih bersifat edukatif.

Asumsi tersebut mungkin melihat dari kacamata pelanggaran dan penertiban yang masih gencar terjadi.

Menurutnya, gerakan PSBB di mana pun wilayahnya nanti perlu senantiasa dilakukan pengembangan monitoring dan evaluasi agar PSBB yang diharapkan benar-benar terimplementasi.

"PSBB yang dilakukan pada minggu-minggu ini masih bersifat edukatif jadi belum efektif."

"Jadi kita perlu mengembangkan monitoring dan evaluasi dari PSBB setiap hari dan kita harus terus meningkatkan supaya PSBB yang diharapkan benar-benar terimplementasi."

Lihat videonya mulai dari awal: 

(TribunWow.com/Rilo)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Virus CoronaCovid-19
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved