Breaking News:

Virus Corona

Indonesia Lakukan Rapid Test untuk Deteksi Virus Corona, Ahli Epidemiologi: Tes Ini Harus Jelas

Spesialis Epidemiologi, dr. Dicky Budiman memberikan analisanya mengenai pelaksanaan rapid test yang dilakukan di Indonesia.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Claudia Noventa
YouTube tvOneNews
Spesialis Epidemiologi, dr. Dicky Budiman memberikan analisanya mengenai pelaksanaan rapid test di Indonesia. 

TRIBUNWOW.COM - Pemerintah Indonesia menetapkan akan melakukan rapid test untuk menanggulangi pandemi Virus Corona di Indonesia.

Rapid test tersebut merupakan uji tes deteksi Virus Corona yang dilakukan secara cepat untuk masyarakat secara massal.

Diadakannya rapid test ini diharapkan akan mendeteksi jumlah faktual penderita Covid-19 yang ada di Indonesia, sehingga dapat segera dilakukan pencegahan dan penanganan yang tepat.

Faisal Basri Sarankan Pemerintah Rombak Total Semua Lembaga untuk Atasi Corona: Ini Kayak Mau Perang

Dilansir tvOneNews, Senin (23/3/2020), Spesialis Epidemiologi, dr. Dicky Budiman memberikan analisanya mengenai pelaksanaan rapid test tersebut.

"Untuk memahami dan mendiagnosa pola atau kurva suatu pandemi atau epidemi, memang testing ini sangat penting dan sangat utama," jelas Dicky.

"Yang sangat penting dan harus diperhatikan adalah tes itu harus akurat," sambungnya.

Ia menyebutkan tes yang akurat tersebut bisa berpedoman pada ketentuan World Health Organization (WHO) atau Central Disease Center (CDC) di Amerika Serikat.

Dicky juga menyebutkan contoh rujukan keakuratan deteksi Virus Corona di Korea Selatan yang mecapai hingga 98%.

Ia berpesan bahwa pelaksanaan rapid test ini juga harus dilakukan pada orang yang tepat, bukan pada orang yang merasa memiliki hak istimewa.

"Kita dalam kondisi yang tidak normal, pemerintah harus melakukan regulasi yang sangat tegas, bahwa siapa yang berhak dan tepat untuk melakukan tes ini harus jelas," ujar Dicky.

Jokowi Sebut Klorokuin Produksi Indonesia dan Jelaskan Fungsinya: Bukan Obat First Line Virus Corona

Ia menyebutkan semakin banyak yang dites, maka akan semakin banyak jumlah penderita yang diketahui.

Jumlah tersebut akan membantu dalam menganalisa langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan untuk menanggulangi pandemi tersebut. 

Sementara itu, dikutip TribunWow.com dari Kompas.com, Senin (23/3/2020), untuk dapat melakukan rapid test tersebut, ada sejumlah regulasi atau tahapan yang mengatur prosedurnya.

Apabila pengetesan tidak dilakukan dengan seksama dan dengan prosedur yang benar, maka dikhawatirkan akan menghasilkan diagnosa yang salah.

Ditakutkan apabila muncul adanya hasil false negative (hasil negatif yang salah), padahal virus tersebut sudah ada di tubuh, orang yang menyangka dirinya sehat itu akan berinteraksi dengan orang lain sehingga virus makin menyebar.

Adapun masyarakat yang harus diperiksa adalah mereka yang memiliki gejala Virus Corona, seperti sesak napas, batuk kering, dan demam.

Riwayat penderita juga perlu diperhatikan, apakah mereka pernah bepergian ke luar negeri, ke daerah rawan virus, atau melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

Oleh karena itu, dokter memiliki peranan penting untuk menentukan perlu tidaknya seseorang di uji dengan rapid test.

Berkaitan dengan hal tersebut, Juru Bicara Tim Dokter Pasien Covid-19 RSUP Persahabatan, Jakarta, dr. Erlina Burhan, mengungkapkan adanya dua jenis rapid test yang dapat dilakukan.

"Kita lihat dulu rapid test-nya ini cerologi atau yang antigen," ujar Erlina.

Ia menyebutkan rapid test serologi kurang efektif karena dapat menghasilkan false negative atau mengeluarkan hasil negatif padahal sebenarnya positif.

"Karena kalau rapid test yang dasarnya adalah serologi, yang periksa darah, itu baru positif kalau ada antibodi, dan antibodi ini baru ada kalau sudah ada gejala," jelas Erlina.

"Nah, jadi kalau di awal-awal kita memakai rapid test yang serologi atau antibodi ini, maka akan false negative," sambungnya.

Erlina menyarankan agar pada fase awal pemeriksaan, pemerintah menggunakan rapid test antigen.

Rapid test antigen tersebut mendeteksi virus yang ada di spesimen cairan tenggorokan pasien, sehingga lebih efektif.

Namun, ia mengatakan tes paling efektif adalah tes PCR yang digunakan Indonesia saat ini.

Tes PCR adalah tes yang juga dilakukan dengan menguji spesimen cairan tenggorokan pasien.

Tes ini lebih akurat mendeteksi Virus Corona, namun membutuhkan beberapa waktu untuk mengetahui hasilnya.

"Butuh waktu sampai satu hari, dan itu sifatnya harus di lab. Sementara rapid test ini dapat dilakukan di setiap faskes (fasilitas kesehatan)," kata Erlina.

Erlina menyebutkan pemerintah bisa menggunakan kedua jenis rapid test, namun ia mewanti-wanti untuk lebih memperhatikan masyarakat yang akan dites.

Apabila belum muncul gejala, jangan dilakukan tes secara serologi, namun dengan tes antigen.

Sehingga keakuratan dari tes tersebut bisa dipertanggungjwabkan dan masyarakat yang telah dites mengetahui kondisi tubuh sebenarnya.

Disamping itu, faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil rapid tes antara lain adalah ketersediaan alat tes, kapasitas laboratorium, jumlah tenaga ahli serta cara penanganan sampel.

Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke 14:50.

(TribunWow.com)

Tags:
Virus CoronaRapid TestCovid-19
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved