Breaking News:

Kalimantan Timur Ibu Kota Baru

Ahok Calon Bos Ibu Kota Baru, Ujang Komaruddin Minta Perhatikan Latar Belakangnya: Catatan Penting

Pengamat politik Univ Al Azhar mengakui masih banyak calon lain yang lebih baik dibandingkan Ahok untuk menempati posisi bos di ibu kota baru

Penulis: anung aulia malik
Editor: Tiffany Marantika Dewi
youtube kompastv
Pengamat politik Univ Al Azhar Ujang Komaruddin di acara Dua Arah yang membahas soal Ahok yang jadicalon bos ibu kota baru, Selasa (10/3/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Nama Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok yang dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi Kepala Badan Otorita ibu kota negara menuai perhatian publik.

Muncul pro dan kontra ditunjuknya Ahok yang belum lama ini diangkat menjadi Komisaris Utama (Komut) Pertamina.

Menanggapi hal tersebut Pengamat politik Univ Al Azhar Ujang Komaruddin menyuarakan penolakannya.

Pengamat Politik Ujang Komarudin (kiri), dan Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (kanan). Ujang Komarudin menyoroti kedekatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Pengamat Politik Ujang Komarudin (kiri), dan Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (kanan). Ujang Komarudin menyoroti kedekatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (Kolase/YouTube Kompas TV/TKompas.com)

 Ahok Jadi Kandidat Pemimpin di Ibu Kota Baru, Begini Tanggapan Sandiaga Uno

Ia menilai masih banyak calon yang lebih baik dibandingkan Ahok.

Dikutip dari YouTube Kompastv, Senin (9/3/2020), awalnya Ujang mempermasalahkan soal Ahok yang pernah dibui lantaran melakukan kasus penistaan agama.

"Ahok itu secara hukum pernah dipidana, walaupun memang pidananya menista agama," kata Ujang.

Kasus penistaan agama yang menyeret Ahok ke penjara bermula pada tahun 2016, saat dirinya sedang melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu, Jakarta.

Pada kunjungannya, pernyataan Ahok yang menyertakan Surah Al Maidah ayat 51 adalah hal yang dipermasalahkan.

Ucapan Ahok terkait Surah Al Maidah ayat 51, dianggap menistakan agama.

Akhirnya Ahok diputuskan bersalah pada tahun 2018, dan menjalani masa penjara selama dua tahun.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu akhirnya bisa menghirup udara segar di tahun 2019.

Menurutnya mau tidak mau hal tersebut tetap harus menjadi pertimbangan.

"Itu menjadi catatan penting bagi bangsa ini," sambungnya.

Masalah kedua yang dipersoalkan oleh Ujang adalah, masa kerja Ahok yang tak disebutnya selalu berpindah-pindah.

"Kedua, Pak Ahok juga setengah-setengah ini waktu di DPR, enggak tuntas, lalu jadi wakil gubernur," kata Ujang.

"Wakil gubernur lalu setengah juga, jadi gubernur, gubernur juga setengah."

Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama dan Presiden Jokowi saat meresmikan program B30, (23/12/2019).
Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama dan Presiden Jokowi saat meresmikan program B30, (23/12/2019). (Twitter.com/basuki_btp)

 Cerita Ahok Khawatir Hidup Seusai Bebas: Duit Enggak Ada, Masuk Kerja Takut Menerima Penista Agama

Ujang menilai masa kerja Ahok yang tak pernah dilakukan secara penuh, menyebabkan sulitnya menakar kualitas Ahok sebagai pejabat publik.

"Ini di mana kita mengukur kualitas Ahok, sebagai seorang pemimpin Kepala Daerah, ini menjadi catatan penting," katanya.

Ia juga mengklarifikasi soal nyinyiran yang pada segmen sebelumnya sempat disinggung oleh Ngabalin.

Ujang membantah hal tersebut, menurutnya kritikan dilakukan memang karena Ahok dinilai tidak mampu.

"Ketiga, kita tidak pernah nyinyir dengan Pak Ahok dengan siapapun ketika dia mampu," katanya.

"Tapi kalau kita melihat track record-nya (rekam jejak), melihat pertimbangan secara profesional, kemampuan, itu masih banyak yang lain," lanjut Ujang.

Ia lanjut mengatakan dirinya pernah menemukan beberapa bukti yang dapat membuktikan jeleknya kinerja Ahok.

Sebelumnya diberitakan, Jokowi telah mengumumkan empat nama yang nantinya akan dipilih sebagai Kepala Badan Otorita ibu kota baru.

Empat calon pemimpin itu antara lain, Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, lalu Komisaris Utama PT Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama, Direktur Utama PT Wijaya Karya (WiKa) Tumiyana, serta Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro.

Ahok Curhat Masa-masa di Penjara

Ahok mengatakan bahwa saat menghadapi masa tahanan dirinya sangat emosional, ia marah kepada semua orang di sekitarnya.

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Ahok ketika ia berada dalam acara Peluncuran Buku 'Panggil Saya BTP' di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (17/2/2020).

Basuki Tjahaja Purnama (BTP) dalam acara Peluncuran Buku 'Panggil Saya BTP' di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (17/2/2020).
Basuki Tjahaja Purnama (BTP) dalam acara Peluncuran Buku 'Panggil Saya BTP' di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (17/2/2020). (youtube kompastv)

 Urutkan Abjad Nama, Masinton Pasaribu Prediksikan Sosok yang Dipilih Jadi Bos Ibu Kota Baru, Ahok?

Dilansir TribunWow.com dari video unggahan kanal Youtube Kompastv, Selasa (18/2/2020), Ahok mengakui Jokowi juga menjadi korban dari amarahnya.

"Marah sama semua orang," kata Ahok.

"Termasuk kepada Pak Jokowi?" tanya seorang audiens.

"Iya, semua saya marah," jawab Ahok disambut tepuk tangan dan tawa dari audiens yang hadir dalam acara tersebut.

Saat Ahok mengatakan dirinya juga marah kepada Jokowi, para audiens yang hadir tertawa mendengarnya.

Ahok kemudian menceritakan pertemuannya dengan mantan Dirut Pertamina Massa Manik.

Pada pertemuan tersebut, Ahok mendapatkan saran agar tidak stres berkepanjangan ketika berada di tahanan.

"Usahakan secepat mungkin masuk ke puncak stres, supaya kamu cepat balik. Karena sifat manusia kan begitu," cerita Ahok.

Setelah mencapai puncak stres, Ahok mulai memahami alasan dirinya menjadi tempramental.

Ia tidak terima dirinya dipenjara karena kasus yang kala itu menimpanya.

Ahok mengatakan hanya dirinya gubernur yang dipenjara di luar kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT).

"Saya marah, saya enggak terima, saya selalu berpikir hanya agresi militer Belanda, yang gubernur aktif bukan OTT ditangkap, masuk penjara, kita bukan negara penjajah kok, saya marah," jelasnya.

Ahok mengakui setelah menerima keadaannya dan mengetahui alasan dirinya marah, perlahan ia mulai melewati masa-masa stres tersebut.

Ia justru belajar memaafkan orang dari kehidupannya di penjara.

"Tapi begitu saya masuk itu, saya bisa mengerti enggak boleh marah, memaafkan orang, plong," ujar Ahok.

Ahok yang dibui karena kasus penistaan agama memahami bahwa ketika benci terhadap orang lain, hal itu justru akan berdampak negatif terhadap dirinya sendiri.

"Jadi saya belajar, kalau kita benci sama orang, kita yang sakit," tuturnya.

Ahok kemudian menemukan cara untuk menyalurkan emosinya, yakni melalui menulis.

Lihat videonya di bawah ini mulai menit ke-5.42:

(TribunWow.com/Anung)

Sumber: TribunWow.com
Tags:
AhokYouTubeKasus Penistaan Agama
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved