Virus Corona
Peneliti Corona Ungkap Fakta Baru terkait Covid-19, Virus dari Wuhan, Jepang, hingga Italia Berbeda
Ketua Tim Riset Corona Virus Professor Nidom Foundation sekaligus Profesor Chaerul Anwar Nidom mengungkap fakta baru terkait covid-19.
Penulis: Mariah Gipty
Editor: Atri Wahyu Mukti
"Sekarang yang kita bisa lihat data lapangan bahwa 2 sampai empat persen angka mortalitir kemudian kecepatannya sangat tinggi," ujarnya.
Nidom khawatir dengan kecepatan penyebaran hingga kekuatan patogen untuk menyebabkan penyakit semakin besar, seperti kasus MERS.
"Nah ini khawatirnya pada posisi virus itu berubah di daerah yang menyebabkan daerah patogenitas meningkat."
"Apa yang terjadi tatkala kecepatan virus yang tinggi kemudian patogenitasnya meningkat seperti MERS. MERS bisa 10 persen nah ini kan Corona 2 sampai 4 persen," ujarnya.
Sehingga, sampel korban Virus Corona sangat penting untuk menjadi bahan analisis, di mana sebetulnya virus berasal.
• Siap-siap, Penimbun Masker dan Hand Sanitizer Selama Wabah Virus Corona Terancam Penjara 5 Tahun
"Maka sampel dari korban ini dianalisis di laboratorium secara biologi molekuler kemudian dilakukan analisis kekerabatan." ujarnya.
Peneliti yang juga Guru Besar Universitas Airlangga ini mengatakan, jika dua orang Depok positif Corona itu benar-benar tertular dari WN Jepang, maka virus itu tidak jauh berjenis Virus Corona dari Jepang.
"Dia berada di mana kalau memang dicurigai orang Jepang yang ini dekat korban ini maka seyogyanya virus ini dekat dengan Virus yang dari Jepang."
"Tatkala di analisis misalkan Virus itu lebih deket dari Iran itu ada sesuatu yang dipertanyakan," jelas Nidom.
Lihat videonya 4:51:
Penjelasan Nidom Mengapa Empon-empon Bisa Tangkal Virus Corona
Sementara itu sebelumnya, Professor Nidom mengatakan penemuannya didasarkan dari hasil penelitian terkait wabah virus flu burung.
Seperti Virus Corona, orang yang terjangkit flu burung juga mengalami pneumonia berat.
"Jadi ini hasil penelitian kami tahun sekitar tahun 2006 tahun 2007 pada waktu ada wabah flu burung."
"Saya melihat bahwa orang yang terinfeksi flu burung itu biasanya paru-parunya akan rusak berat, akan mengalami pneumoni berat," kata Nidom.