Virus Corona
Virus Corona Merebak Melebihi Wabah SARS, Lebih dari 1.700 Staf Medis China Ikut Terjangkit
Penyebaran Virus Corona semakin memakan korban, termasuk para staf medis yang berupaya menangani para pasien terjangkit.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Penyebaran Virus Corona semakin memakan korban, termasuk para staf medis yang berupaya menangani para pasien terjangkit.
Diketahui penyebaran virus yang bermula dari Wuhan, China ini telah menjangkit lebih dari 67.000 orang sampai Sabtu (15/2/2020) malam.
Korban jiwa yang ditimbulkan mencapai angka 1.500 nyawa di wilayah dataran utama China sendiri.
• Larang Warga Korea Selatan Gunakan Toilet karena Khawatir Virus Corona, Maskapai KLM Minta Maaf
Dikutip TribunWow.com, angka tersebut lebih besar daripada wabah virus SARS yang muncul pada 2003.
Serupa dengan SARS, Virus Corona menjangkit organ pernapasan manusia.
Menurut Wakil Direktur Komisi Kesehatan Nasional China, Zeng Yixin, staf medis yang menangani pasien turut terjangkit Virus Corona.
Hal itu ia sampaikan dalam sebuah konferensi pers pada Jumat (14/2/2020), seperti dikutip dari South China Morning Post, media lokal Hong Kong.
Menurut Zeng, sebesar 3,8 persen dari total terjangkit virus adalah staf medis yang ikut tertular dari pasiennya.
"Enam staf medis telah meninggal akibat penyakit (yang disebabkan Virus Corona) per Selasa (11/2/2020)," kata Zeng Yixin.
Spesialis penyakit menular dari Rumah Sakit Ditan Beijing, Cai Haodong, menyampaikan hal serupa.
Ia menyebutkan jumlah pasti staf medis yang terjangkit virus lebih tinggi daripada saat wabah SARS pada 2003.
Menurut Cai, hal tersebut disebabkan tidak semua pasien menunjukkan gejala terjangkit virus.
"Kesadaran para dokter yang bukan ahli penyakit menular sangatlah kurang," ungkap Cai.
"Mereka kebanyakan menurunkan kewaspadaan mereka ketika pasien tidak menunjukkan gejala terjangkit virus," lanjutnya.
• Cerita WNI Jalani Proses Observasi Virus Corona, Minta Apapun Diberikan, dari Gitar hingga Karaoke
Selain itu, stok peralatan kesehatan yang dibutuhkan mulai menipis.
Menurut Cai, kebanyakan dokter dan staf medis lainnya menangani pasien tanpa pakaian pelindung dan masker yang memadai.
"Para dokter di Wuhan tidak punya pelindung yang memadai dan mereka diharuskan maju ke garis depan," papar Cai.
"Harga yang harus dibayar sangatlah mahal," tegasnya.
Dokter spesialis itu menuturkan meningkatnya jumlah staf medis yang terjangkit memperbesar kemungkinan infeksi silang di rumah sakit.
"Ketika dokter terjangkit virus, mereka sangat mungkin menulari pasien mereka sendiri dan menimbulkan infeksi silang," jelas dokter tersebut.
"Maka dari itu Amerika Serikat menetapkan aturan doktor mereka harus divaksinasi dengan influenza supaya mereka tidak menularkannya ke pasien," lanjutnya.
Kisah Dokter Tangani Virus Corona di China
Wabah Virus Corona yang berpusat di provinsi Hubei di Cina telah menewaskan lebih dari seribu orang dan menginfeksi puluhan ribu lainnya.
Satu di antara yang terinfeksi virus tersebut adalah Feng Chuncui, seorang dokter dari Xiaogan yang letaknya 60 km dari Wuhan, China.
Pria berusia 53 tahun itu didiagnosis terjangkit Virus Corona saat liburan Tahun Baru Imlek.
Tetapi setelah lebih dari dua minggu karantina dan dirawat intensif, dia akhirnya dinyatakan sembuh dari Virus Corona.
Dikutip TribunWow.com dari scmp.com, Sabtu (15/2/2020), berikut ini adalah kisah Feng Chuncui yang ditulis dengan kata-katanya sendiri.
Sekitar 10 Januari, saya bertemu dengan seorang pasien yang demam dan menyuruhnya pergi ke klinik demam.
Saya tidak yakin apakah kontak yang sangat terbatas dengan orang ini bisa menginfeksi saya.
Saya bekerja di Rumah Sakit Pusat Xiaogan dan saya mengetahui bahwa satu di antara rekan saya telah terinfeksi Virus Corona.
Pada saat itu, saya cukup tenang dan tidak pernah berpikir saya akan terinfeksi.
Saya bahkan terlalu optimis dan meremehkan virus yang saat itu belum banyak diketahui.
Saya bekerja shift 24 jam pada 23 Januari 2020, sehari sebelum Malam Tahun Baru Imlek.
Pada pagi harinya, saya meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah.
Mungkin karena saya seorang dokter, rasa khawatir saya tentang virus lebih tinggi daripada kebanyakan orang.
Jadi ketika saya sampai di rumah, saya memberi tahu suami saya bahwa kami harus saling menjaga jarak.
Pada tanggal 25 Januari 2020, saya merasa sedikit pusing dan hidungku mulai tersumbat.
• Soal Virus Corona, PSSI Bakal Patuhi Kebijakan Pemerintah: Itu Instruksi Negara
Gejalanya sangat mirip dengan batuk pilek.
Kala itu, perasaan saya mengatakan bahwa saya mulai terinfeksi Virus Corona.
Jadi saya minum pil amoksisilin dan obat herbal China untuk menghilangkan rasa tidak nyaman itu.
Hari itu saya juga langsung menelepon kerabat dan meminta mereka untuk tetap berada di dalam rumah.
Keesokan harinya, saya merasa kondisi tubuh saya semakin buruk.
Tenggorokan saya sakit dan semua otot saya sakit, tetapi saya tidak demam.
Saya pun segera memberi tahu atasan saya dan langsung diminta datang ke rumah sakit untuk melakukan beberapa tes kesehatan.
Namun, semua hasilnya negatif.
Setelah mendegar hasil tes itu, saya pun bisa tidur nyenyak.
Namun, saat saya terbangun di keesokan harinya, tiba-tiba saya sudah tak bisa berbicara.
Saya pun kembali pergi ke rumah sakit untuk melakukan sejumlah pemeriksaan kesehatan.
Tetapi sekitar jam 8 malam, saya diberi tahu bahwa saya telah tertular Virus Corona.
Di hari yang sama, saya akhirnya dirawat di rumah sakit sekitar jam 11 malam.
Pada awalnya, saya justru merasa bahagia karena bisa menjaga jarak dari kerabat saya agar terhindar dari Virus Corona.
Tetapi ketika seorang perawat yang saya kenal datang ke bangsal, tiba-tiba saya pingsan dan menangis di bahunya.
Di lubuk hati saya, saya benar-benar khawatir karena virus ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian.
(TribunWow.com/Brigitta Winasis/Jayanti Tri Utami)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/lebih-dari-1700-staf-medis-di-china-turut-terjangkit-virus-corona.jpg)