Konflik RI dan China di Natuna
Sebut Masalah Natuna Tak Pengaruhi Investasi, Dubes China: Teman Baik Kadang Punya Perspektif Beda
Dubes China memastikan investasi China ke Indonesia tidak akan terhambat karena masalah di Natuna.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
"Indonesia memang punya kepentingan untuk menjaga hubungan baik dengan negeri tirai bambu," kata Bhima Yudhistira.
Ia menjelaskan posisi Tiongkok sangat penting bagi pertumbuhan investasi di Indonesia.
Diketahui, jumlah investasi yang diberikan China saat ini berada di posisi dua terbesar menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
"Ini bisa dimaklumi, sebab berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), China adalah negara dengan investasi terbesar kedua di Indonesia," kata Bhima.
Menurut Bhima, investasi yang dikucurkan China mencapai nilai USD 3,3 miliar dalam periode Januari sampai September 2019.
• Soal Natuna, Fadli Zon Singgung Keberanian Bakamla Usir Kapal China, Najwa Shihab: Memang Sanggup?
Pembangunan Depo Minyak Butuh Investor
Plt Gubernur Kepulauan Riau H Isdianto mendorong pembangunan depo minyak di Batam, Kepulauan Riau, segera diwujudkan.
Isdianto mengatakan telah mengirimkan surat kepada pemerintah pusat mengenai hal tersebut.
Dikutip dari Tribunnews.com, Isdianto menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo bahwa pembangunan depo minyak akan memberikan dampak positif bagi perekonomian setempat.
"Kami mengharapkan kiranya pembangunan depo minyak yang telah tertunda tersebut dapat segera direalisasikan," tulis Isdianto dalam suratnya, Selasa (7/1/2020).
Isdianto menerangkan bahwa izin perusahaan sudah diterbitkan sesuai peraturan perundang-undangan.
"Mengingat pihak perusahaan juga telah memperoleh izin-izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku dan merupakan salah satu Kawasan langsung Investasi Konstruksi (KLIK) yang telah ditetapkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),” lanjutnya.
Diketahui pembangunan depo minyak yang nilainya mencapai USD 841 juta atau Rp 11,77 triliun itu proyek pembangunannya terbagi di beberapa perusahaan.
• Inilah yang Terjadi setelah Jokowi Datangi Natuna, Lihat yang Dilakukan Kapal-kapal China
Perusahaan yang memiliki proyek pembangunan adalah PT West Point Terminal (WPT), perusahaan joint Venture antara PT Mas Capital Trust dan Sinomart KTS Development Limited.
Diketahui Sinomart yang memiliki 95 persen saham di WPT merupakan anak usaha dari Sinopec, yakni perusahan BUMN milik China.