Breaking News:

Konflik RI dan China di Natuna

Nelayan Cerita Pernah Diusir Kapal China dengan Cara Dipepet: Itu Natuna Utara, Kok Saya Diusir?

Nelayan Natuna, Dedi mengungkap pertemuannya dengan Kapal Coast Guard China beberapa waktu yang lalu.

Penulis: Mariah Gipty
Editor: Lailatun Niqmah
Channel Youtube Najwa Shihab
Nelayan Natuna, Dedi mengungkap pertemuannya dengan Kapal Coast Guard China beberapa waktu yang lalu. Hal itu diungkapkan saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa Trans 7 pada Rabu (8/1/2020). 

TRIBUNWOW.COM - Nelayan Natuna, Dedi mengungkap pertemuannya dengan Kapal Coast Guard China beberapa waktu yang lalu.

Dedi mengaku diusir oleh Coast Guard China saat berlayar di Natuna.

Dilansir TribunWow.com dari channel YouTube Najwa Shihab pada Rabu (8/1/2020), Deddy mengatakan bahwa untuk saat ini wilayah Natuna cukup rawan.

Nelayan Pantura Cerita Bentrok Fisik dengan Kapal Asing di Natuna, Lempar Botol hingga Bakar-bakaran

"Saat ini agak rawan lah, karena kapal asing macam Coast Guard China mereka kan jumpa sama saya 26 Oktober (2019)," ujar Deddy.

Kala itu, Deddy mengatakan dirinya tengah memancing.

Deddy heran mengapa diusir oleh Coast Guard China sedangkan ia merasa yakin berada di wilayah Indonesia.

"Itu kan saya lagi mancing kan, di situkan wilayah Natuna Utara kok saya diusir," lanjutnya.

Dedy mengatakan pengusiran itu dilakukan Coast Guard China dengan memepet kapalnya.

Lantaran diusir, Deddy lantas mengalah dan memilih pergi.

"Iya diusir sama Coast Guard China, dia mau ngempet  kapal saya."

"Jadi saya minggir tapi saya lari dengan pelan saja," ujarnya.

Lantas, Mata Najwa memperlihatkan sebuah video di mana kapal Coast Guard China mulai mendekati kapal Deddy.

Dalam video itu, terlihat Deddy sempat menunjukkan titik koordinat kapalnya.

Pengamat Militer Soroti Kehadiran Jokowi di Natuna: Seolah Tak Punya Lagi Orang yang Dikirim ke Sana

Najwa Shihab sebagai presenter lantas bertanya apalah hak itu dilakukan demi meyakinkan Deddy masih berada di perairan Indonesia.

"Yakin, itu masih di Laut Natuna Utara sampai di Lintang 6 Bujur 109 saya melaut sampai di situ," ungkap Deddy.

Lalu, Deddy mengatakan dirinya memang biasa berlayar sendiri.

Kapalnya memiliki berat tujuh ton, berbeda dengan kapal-kapal asing yang memiliki berat puluhan hingga ratusan ton.

"Sendiri, tujuh ton. Ada yang 50 ton, 80 ton, 100 ton."

"China kalau China itu kapal besi, kalau Vietnam itu kapal kayu," jelasnya.

Tak hanya China, Deddy mengaku pernah diusir Coast Guard Vietnam.

Lalu, ia dibantu oleh kapal keamanan Indonesia saat diusir Coast Guard Vietnam.

Namun, yang membuatnya merasa aneh mengapa kapal penjaga Indonesia justru membantunya keluar.

Sedangkan, ia yakin masih berada di wilayah Indonesia.

Najwa Shihab Ungkap Sejumlah Temuan Kapal China di Natuna, Jokowi Datang Mereka Belum Pergi

"Pernah juga diusir Coast Guard (Vietnam)."

"Saya kan pernah sudah sampai Lintang 6 Bujur 107 kejadiannya jam 6 pagi begitu saya jumpa dengan kapal perang kita juga, kapal perang Indonesia saya dibantu diiringi keluar dari Lintar 6 bujur 107."

"Sedangkan kalau kita lihat di peta masih Indonesia punya," cerita Deddy.

Deddy mengaku tahu dengan koordinat perairan Indonesia.

"Tahu, karena nelayan macem saya suka dikasih Pak Budi Diranalayan masalah perbatasannya," lanjutnya.

Lihat videonya mulai menit ke-5:36:

Kisah Nelayan Pantura Bentrok Fisik dengan Kapal Taiwan

Sementara itu, nelayan Pantura, Rasmijan mengungkap cerita pertarungannya dengan nelayan-nelayan asal Taiwan di perairan Natuna pada 1994.

Dilansir TribunWow.com, hal itu diungkapkan Rasmijan saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa Trans 7 pada Rabu (8/1/2020).

Rasmijan mengatakan pada 1994 ia bertemu dengan kapal nelayan Taiwan yang menggunakan akat tangkap trol.

 Bakamla Ungkap Alasan China Nekat Bertahan Meski Jokowi Sudah Kunjungi Natuna: Dia Ingin Menguasai

Sedangkan, ia menggunakan alat tangkap purse seine.

"Perlu dimengerti, kami tahun 94 kita beroperasi di Natuna sana terjadi bentrok fisik karena terlalu banyaknya kapal Taiwan yang dia pakai alat tangkapnya trol pada waktu itu, saya alat tangkapnya purse seine," jelas Rasmijan dikutip dari channel YouTube Najwa Shihab.

Lantas, alat tangkap trol milik kapal Taiwan itu menyangkut ke alat tangkap Rasmijan.

"Purse seine itu kan pakainya rumpun, ikut jangkar kalau siang. Lha dia trol, kan narik terus, rumpun dan jangkar saya ketarik gitu sampai dibawa ke barat terus," ujarnya.

Setelah pukul dua siang ketika kapal Taiwan itu ingin mengangkat trol yang menyangkut dengan purse seinnya, bentrok fisik kemudian tak terhindarkan.

Menurut Rasmijan, bentrok fisik itu bahkan terjadi dari siang hingga dini hari.

"Setelah jam dua siang dia mau angkat trolnya. Tempel kapal, bentrok fisik mulai jam 2 siang sampai jam satu malam," cerita Rasmijan.

Lantaran tidak membawa banyak alat, Rasmijan mengatakan ia dan para nelayan lainnya hanya bisa melempari para nelayan Taiwan dengan botol minuman.

Setelah botol minuman habis, ia mengatakan timnya langsung melempari nelayan Taiwan dengan menggunakan es batu.

"Bentrok fisik karena sudah mepet kita enggak bawa alat apa-apa hanya ada botol Sprite, Fanta, dipecah, lempar kehabisan botol 30."

"Langsung bongkar es, es dipukul sama palu, kayu tuh lo ya, buat lempar, lempar, lempar," cerita Rasmijan.

 Dilirik China, Natuna Ternyata Simpan Cadangan Gas Raksasa yang Bisa Buat Singapura Gelap Gulita

Sedangkan, kapal Taiwan itu membawa pistol.

Meski demikian, pistol itu hanya digunakan untuk menakut-nakuti.

"Kapal Taiwan nahkodanya bawa senjata, bawa pistol itu. Bukan ditembak tapi untuk menakut-nakuti," kata Rasmijan.

Merasa tertekan, lantas kapal Taiwan itu mundur.

Namun, tak berselang lama kapal Taiwan justru membawa pasukan kapal lain.

"Begitu dia merasa minder, selingnya kabrang talinya itu diputus sama tanggep, tas..tas.. dia lari."

"Tak pikir dia lari ya sudah dia lari, tahunya datang banyak kapal, 19 itu tak hitung," jelas Rasmijan.

Balik merasa tertekan, Rasmijan lantas menghubungi rekan-rekan nelayan lainnya.

"Wah aku ketakutan, lalu aku kontak ke temen-temen, Tegal, Pekalongan, Batang, Rembang, 90 kapal itu datang, terus bertengkar itu," lanjutnya.

Dengan bantuan tambahan, bentrok fisik terjadi semakin parah.

Mereka bertengkar menggunakan bahan-bahan bakar.

"Sampai pakai api diisi minyak tanah, ada bensin, dilempar-lempar itu, bakar-bakaran semaleman itu," katanya.

Rasmijan lalu mengatakan, pada 2010 ia sempat kembali bertemu dengan kapal Taiwan di perairan Natuna.

 Soal Natuna, Mahfud MD Tegaskan Enggan Berunding dengan China: Tidak Perang tapi Tak Mau Negosiasi

Kala itu, ia mengaku ketakutan dengan banyaknya kapal Taiwan.

Apalagi tidak ada petugas yang mengamankan.

"Makanya saya 2010 itu juga terjadi saya operasinya di Subi timurnya Natuna itu pulau Subi, di timur lautnya itupun banyak kapal Taiwan."

"Juga bersaingan, sampe saya tuh ketakutan rasanya, enggak ada mengamnankan," cerita Rasmijan.

Ia mengaku senang dengan langkah pemerintah Indonesia yang mulai mengarahkan nelayan ke Natuna.

Namun, Rasmijan meminta agar pemerintah berkomitmen menjaga para nelayannya.

"Makanya kalau nelayan kita mau diarahkan ke sana, saya berterima kasih sekali."

"Cuma keamanannya harus dijaga," ungkap Rasmijan.

Lihat videonya sejak menit awal:

(TribunWow.com/Mariah Gipty)

Tags:
Konflik RI dan China di NatunaNelayanNatunaMata Najwa
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved